
Keberadaan Buaya di Sungai Pulau Ubi, Tidak Lagi Asing bagi Warga
Di wilayah Pulau Ubi, Desa Batakan, Kecamatan Panyipatan, Kabupaten Tanahlaut (Tala), Kalimantan Selatan (Kalsel), keberadaan buaya di sungai tidak lagi menjadi hal yang baru. Namun, kejadian serangan buaya terhadap manusia baru saja terjadi, yang mengakibatkan seorang remaja laki-laki menjadi korban.
Pada Jumat sore kemarin, sekitar pukul 15.00 atau 16.00 Wita, Surya (15 tahun), seorang remaja dari RT 02 Dusun 01 Desa Kandanganlama, Kecamatan Panyipatan, menjadi korban serangan buaya di sungai tersebut. Saat ini, Surya masih dalam penanganan medis di rumah sakit di Kota Pelaihari. Ia mengalami luka di betis kanannya dengan beberapa bekas gigitan buaya.
Surya adalah anak dari Fadli atau dikenal dengan panggilan Jali (38 tahun), seorang pendatang dari Aluhaluh, Kabupaten Banjar. Sejak sekitar lima tahun lalu, Fadli kerap bolak-balik ke Desa Kandanganlama, sehingga akhirnya oleh pemerintah desa setempat dibantu untuk memindahkan domisili menjadi warga Desa Kandanganlama.
Pengakuan dari Kepala Desa
Ahmad Bahtiar, Kepala Desa Kandanganlama, mengungkapkan bahwa keberadaan buaya di sungai Pulau Ubi sudah biasa dilihat oleh warga. Menurutnya, sungai tersebut memang memiliki populasi buaya yang cukup banyak. Sungai Pulau Ubi berhilir di sungai permukiman Desa Batakan, Kecamatan Panyipatan, dekat pantai, dan tersambung dengan sungai di kawasan Sanipah, Desa Kandanganlama.
Bahtiar menyatakan bahwa selama ini buaya di sungai selebar sekitar 5-7 meter dan kedalaman sekitar 3-4 meter tersebut tidak pernah menyerang manusia. Oleh karena itu, pihaknya merasa kaget ketika mendengar kabar tentang serangan buaya terhadap manusia.
Kejadian Serangan Buaya
Menurut Bahtiar, Surya sedang melakukan aktivitas merempa atau mencari ikan menggunakan alat rempa atau rengge di sungai Pulau Ubi pada sore kemarin. Dalam pengakuannya, sekitar lima tahun lalu ayah korban, Fadli, memantau ke desa. Setahun kemudian, ia hijrah menempati pondok di jalur arah menuju Pulau Ubi.
Pondok tersebut milik orang lain, dan keluarga Fadli meminjamnya. Lokasi pondok tersebut cukup jauh dari pusat permukiman Kandanganlama. Di dalam pondok tersebut juga tinggal beberapa anggota keluarga lainnya, seperti kakak Surya yang bernama Sri atau akrab disapa Bunga (19 tahun), Alfi (suami Bunga), serta seorang anak.
Kondisi Keluarga Korban
Mereka merupakan keluarga yang kurang mampu, bekerja serabutan dan kadang-kadang mencari ikan di sungai setempat. Untuk membantu mereka, pemerintahan desa kemudian membantu memindahkan status domisili Fadli dari semula warga Aluhaluh menjadi warga Kandanganlama. Tujuan dari tindakan ini adalah agar dapat turut diusulkan mendapatkan bantuan untuk keluarga kurang mampu atau warga berpenghasilan rendah.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar