Pengoperasian Mesin RDF di Surabaya untuk Mengolah Sampah Jadi Bahan Bakar Alternatif
Pada akhir tahun 2025, Kota Surabaya mulai mengoperasikan mesin Refuse Derived Fuel (RDF) yang merupakan teknologi inovatif dalam pengolahan sampah. Mesin ini mampu mengubah sampah menjadi bahan bakar alternatif yang dapat digunakan untuk kebutuhan industri. Proses ini dilakukan di tempat pengolahan sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS 3R) di Tambak Osowilangun.
Tujuan utama dari pengoperasian mesin RDF adalah untuk mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo serta menjaga lingkungan agar tidak terjadi penumpukan sampah di berbagai wilayah. Selain itu, proses ini juga memberikan manfaat ekonomis dengan meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) melalui pengolahan sampah.
Mesin RDF telah diujicobakan sebelumnya dan saat ini sedang dalam tahap pengenalan. Dalam waktu dekat, pihak terkait akan memperkuat sistem ini dengan tenaga terampil yang memiliki keterampilan berstandar. Kapasitas mesin RDF yang akan dioperasikan penuh pada akhir Januari 2026 adalah sebesar 150 ton per hari.
Manfaat Ganda dari Pengolahan Sampah dengan Teknologi RDF
Selain mengurangi beban TPA Benowo, pengolahan sampah menggunakan mesin RDF juga memberikan manfaat ganda. Hasil dari proses ini adalah bahan bakar alternatif yang bisa digunakan oleh industri semen dan sektor industri lainnya. Proses pengeringan cacahan sampah dengan suhu tertentu akan menghasilkan bahan bakar alternatif tersebut.
Dalam catatan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, sekitar 1.500 ton sampah dibuang warga setiap harinya. Dengan adanya TPA RDF di Tambak Osowilangun, sebagian besar sampah tersebut akan bisa diolah secara optimal. DPRD dan Pemkot Surabaya melalui DLH telah menganggarkan dana sebesar Rp 30 miliar pada perubahan anggaran 2025 untuk pengembangan pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif.
Kesiapan SDM dan Infrastruktur
Kepala Bidang Sarana Prasarana dan Pemanfaatan Limbah DLH Kota Surabaya, Mohamad Amin, menyatakan bahwa saat ini terdapat 22 tenaga eksisting yang bisa diberdayakan. Sambil menyiapkan pelatihan, pihaknya berharap dapat memperkuat sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni dalam mengoperasikan mesin RDF.
Selain SDM, beberapa TPS juga telah disiapkan untuk mengolah sampah jadi bahan bakar. Terutama sampah yang tidak bisa diurai seperti plastik, kain, dan sejenisnya bisa diatasi melalui teknologi ini. Namun, tantangan utama adalah resistensi terhadap pembukaan TPS baru.
Pengolahan Sampah Organik dan Anorganik
Menurut Wakil Ketua Komisi C DPRD Surabaya, Aning Rahmawati, pengolahan sampah di Surabaya saat ini masih belum optimal. Biaya pengangkutan menjadi beban karena sistem open dumping. Sampah organik yang komposisinya mencapai 80 persen dari total buangan sampah juga belum dioptimalkan menjadi pupuk. Sisanya 20 persen sampah anorganik juga harus diolah.
Dengan paling tidak lima TPS khusus dalam pengolahan RDF, beban buangan ke TPA Benowo dapat dikurangi. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Dedik Irianto sebelumnya menyebut bahwa sampah organik sudah diolah. Bahkan, terdapat 27 rumah kompos dan 12 TPS 3R (Reduce, Reuse, Recycle).
Perlu Penambahan TPS Baru
Bappeda Litbang Kota Surabaya bersama DLH disebutkan telah menyiapkan TPS khusus untuk RDF. Namun, tantangan utama adalah resisten terhadap pembukaan TPS baru. Nantinya semua sampah akan lebih dulu dipilah. Proses pemisahan, penghancuran, dan pengeringan sampah akan dilakukan. Dengan mesin dan teknologi RDF, ini akan menjadi solusi untuk pengelolaan sampah yang lebih efisien.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar