Sururi Tanam Mangrove Selama 28 Tahun untuk Hijaukan Pantai Semarang

Sururi Tanam Mangrove Selama 28 Tahun untuk Hijaukan Pantai Semarang

Perjalanan Sururi dalam Menjaga Pesisir Kota Semarang

Perjalanan Sururi dalam menjaga pesisir Kota Semarang sangatlah panjang. Selama 28 tahun, sejak 1997 sampai sekarang, dia setia menanam mangrove. Tubuh Sururi memang tak lagi sekuat dulu, kakinya mudah pegal untuk berjalan jauh. Akan tetapi semangat pria 65 tahun itu untuk menjaga garis pantai pesisir utara Kota Semarang tak pernah padam.

Di ruang tamu rumah sederhananya yang berdinding kayu berwarna hijau, di Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Kota Semarang, ia duduk tenang. Suasana rumahnya terasa teduh. Di dinding rumah sederhana itu terpajang berbagai sertifikat kepedulian pesisir, sementara di lemari kaca dengan lis kayu hitam tersusun beragam penghargaan. Salah satu yang paling mencolok adalah piala berbentuk pohon kehidupan berwarna emas yang tersimpan dalam kotak bening. Penghargaan itu adalah Kalpataru, anugerah tertinggi bagi sosok yang berjasa dalam pelestarian lingkungan di Indonesia. Di sana tertera nama Sururi sebagai Perintis Lingkungan.

Kini, di usia 65 tahun, Sururi masih sabar duduk di kursi kayu ruang tamunya, membagikan pengetahuan kepada para dosen yang datang untuk belajar atau meneliti. Pemandangan seperti itu sudah menjadi hal biasa di rumahnya yang sekaligus menjadi titik kumpul para aktivis, mahasiswa, hingga profesor yang ingin berdiskusi atau melakukan penanaman mangrove.

Kiai Mangrove

Saat ditemui Tribun Jateng, Sururi mengenakan kacamata hitam, kemeja biru tua, dan sarung kesayangannya. Sarung memang telah menjadi ciri khasnya. Bahkan ketika tubuhnya masih kuat turun ke lapangan menanam mangrove, ia kerap membawa sarung yang setia melingkar di leher atau pinggangnya. Kebiasaan itu pula yang membuat sebagian orang menjulukinya “Kiai Mangrove”.

“Biar kalau mau ibadah itu gampang,” ujarnya sambil tersenyum, saat ditanya perihal sarung itu. Rumahnya berada di Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Kota Semarang, tepat di sebelah masjid selalu terbuka bagi siapa pun yang ingin belajar atau peduli terhadap lingkungan pesisir.

Dia masih ingat bagaimana kampungnya pernah berada di bibir laut. “Dulu dari rumah saya ke laut cuma lima menit jalan kaki,” ujar Sururi, mengenang awal perjuangannya memulihkan pesisir yang nyaris tenggelam. “Kalau sekarang ke laut bisa setengah jam. Sudah hampir dua kilometer mundurnya,” sambungnya.

Perubahan drastis itu tidak terjadi dalam semalam. Sururi menyebut, abrasi mulai menggerus kampung, sejak 1995. Saat itu, ia melihat harapan warganya ikut tergerus. Mata pencarian menipis, tanah jenuh dan kampung makin dekat ke lautan. “Tahun 1997 saya mulai, bismillah, menanam mangrove. Waktu itu saya didampingi Prof Sudharto (pakar lingkungan yang juga mantan Rektor Undip, Prof Sudharto P Hadi—Red). Kalau nggak cepat ditangani, ya mungkin kampung ini hilang,” ingatnya.

Gerakan penanaman mangrove yang ia mulai secara swadaya awalnya berjalan tersendat-sendat. Banyak bibit hilang tersapu air, sponsor minim, dan ia sempat ragu kampungnya bisa terselamatkan. “Saat itu, warga sekitar juga sinis. Pada banyak yang bilang, nanam mangrove terus, terus anaknya nanti mau diberi makan apa,” kenangnya. Namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat Sururi untuk terus berikhtiar melakukan pembibitan mangrove secara mandiri. Bahkan dia memecah tabungan sang istri untuk menyewa lahan sebagai tempat pembibitan.

Dukungan dari Berbagai Pihak

Usaha dari Sururi mulai dilirik dari berbagai pihak. Termasuk kala itu Gubernur Jawa Tengah, Mardiyanto, dan sejumlah perusahaan swasta. Mereka ikut membeli bibit dari Sururi untuk kegiatan penanaman bersama mahasiswa. “Yang paling banyak membantu itu Bhakti Lingkungan Djarum Foundation,” kata Sururi. “Dulu tiap tahun mereka bisa beli 30.000 sampai 40.000 bibit. Mahasiswa yang ajukan, Djarum beli ke saya. Semua diuntungkan,” lanjutnya.

Puluhan tahun berlalu, usaha keras itu menunjukkan hasil. Lahan mangrove kini membentang sekitar 80 hektare, dengan jalur hijau yang memanjang mendekati lima kilometer di Kecamatan Tugu, yakni dari Kelurahan Mangunharjo hingga Kelurahan Randugarut. “Saya tiap tahun bisa menyiapkan 40 ribu bibit. Alhamdulillah masih ada yang peduli,” ujarnya.

Manfaat ekologis terasa. Abrasi jauh berkurang, udara lebih sejuk, dan nelayan kembali memiliki ruang hidup. “Paling tidak mangrove itu melindungi dari gelombang, angin, badai. Oksigennya juga besar sumbangannya,” ucap Sururi.

Tantangan Baru

Sementara rob masih menghampiri permukiman, ia menilai tantangannya kini lebih pada penurunan tanah serta tata saluran air yang belum memadai. Apalagi penurunan tanah ditempat Sururi tinggal bisa mencapai 10 sentimeter per tahun. Hal ini diperkuat dengan perhitungan metode satelit (Insar/SAR) dan data terbaru (2015–2022) menunjukkan bahwa di bagian utara dan timur Semarang (dan kota tetangga) bisa mencapai 10-12 cm/tahun. Di sisi lain, tak sedikit pula mangrove berusia tua yang sudah ditanam oleh Sururi beberapa tahun lalu juga ikut hilang atau rusak.

“Banyak yang rusak meski mangrove sudah berusia tua. Oleh karena itu, kalau rusak 100 kami tanam 1000,” ujarnya. Dari hasil menanam, merawat, dan mengembangkan kawasan mangrove itu, Sururi mampu menghidupi enam anaknya. Bahkan semua anaknya lulus dari universitas ternama di Jawa Tengah. Hutan kecil yang ia bangun dengan tangan sendiri pelan-pelan berubah menjadi tabungan masa depan, semacam beasiswa alam yang tumbuh bersama akar mangrove.

Beberapa warga di situ juga ikut bekerja dengan Sururi, untuk pembibitan dan membantu melakukan penanaman. Meski fisiknya tak lagi mengizinkan ia turun memantau penanaman mangrove seperti dulu, estafet itu tak benar-benar putus. Kini diteruskan oleh anak ketiganya, ikut membantu menjaga kawasan yang dibangun dari kerja puluhan tahun itu.

Atas dedikasinya selama tiga dekade, Sururi menerima Penghargaan Kalpataru sebagai Perintis Lingkungan dari Presiden Republik Indonesia. “Saya tidak pernah tahu kalau ternyata dapat Penghargaan Kalpataru, waktu dikabari itu saya kaget juga senang, saya sama dan kemudian berangkat ambil penghargaan,” katanya.

Garis pantai Mangunharjo yang dulu terus digerus ombak, kini berhasil dipukul mundur oleh Sururi hampir dua kilometer dari permukiman. Pemandangan itu, menurut akademisi lingkungan, menjadi bukti keberhasilan upaya warga terutama kerja panjang Sururi dan kelompoknya dalam menahan abrasi lewat benteng alami mangrove.

Pakar Lingkungan Hidup Undip, Prof Sudharto P Hadi, menilai apa yang dilakukan Sururi sejak akhir 1990-an bukan sekadar gerakan menanam pohon. “Itu mitigasi bencana ekologis dalam bentuk paling dasar warga membangun pertahanan mereka sendiri,” ujarnya.



Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan