Tahun Baru dan Kecanduan Kebahagiaan Palsu

Perayaan Tahun Baru yang Berbeda-Beda

Setiap pergantian tahun selalu membawa ritual yang terasa akrab. Hitung mundur, pelukan, doa singkat, lalu sorak sorai. Di banyak kota di dunia, langit diterangi oleh kembang api. Di layar ponsel, lini masa media sosial dipenuhi ucapan selamat Tahun Baru dan harapan-harapan sederhana: semoga lebih baik, semoga lebih bahagia, semoga lebih damai.

Namun, di balik semua itu, ada perasaan ganjil yang sering tak sempat kita beri nama. Perasaan bahwa dunia seolah ingin cepat-cepat menutup satu bab tanpa benar-benar membaca isinya. Seolah pergantian angka pada kalender cukup untuk meyakinkan kita bahwa segalanya akan baik-baik saja, atau setidaknya pantas untuk dirayakan.

Padahal, bagi banyak orang, malam Tahun Baru bukanlah tentang pesta atau resolusi. Ia adalah malam yang sama seperti malam-malam sebelumnya: penuh kecemasan, kehilangan, dan upaya bertahan hidup. Tahun memang berganti, tetapi beban hidup tidak selalu ikut berpindah.

Di situlah mungkin letak ilusi terbesar Tahun Baru: keyakinan kolektif bahwa kita sedang baik-baik saja, atau setidaknya bisa berpura-pura demikian.

Dunia yang Bersorak, Dunia yang Bertahan Hidup

Jika kita menengok dunia pada pergantian 2025 menuju 2026, gambarnya jauh dari seragam. Di satu sisi, kota-kota besar dunia menyalakan kembang api di landmark ikonik. Warga berkumpul, memotret, mengunggah momen bahagia, dan berharap tahun depan membawa keberuntungan.

Namun di sisi lain, ada kota yang merayakan dengan hening. Ada negara yang memilih meniadakan kembang api karena sedang berduka. Ada masyarakat yang menyambut tahun baru di pengungsian, di rumah sakit, atau di wilayah yang masih dihantui konflik dan bencana.

Bagi warga Gaza, Tahun Baru hadir bersahaja di tengah gencatan senjata yang rapuh. Bagi sebagian warga Suriah, perayaan ternodai oleh ledakan bom.

Di Indonesia, sebagian wilayah masih berkutat dengan banjir bandang dan longsor yang merenggut ribuan nyawa. Bagi mereka, Tahun Baru bukanlah perayaan, melainkan pengingat bahwa hidup harus terus dijalani meski dalam keadaan yang jauh dari kata ideal.

Perbedaan pengalaman ini menunjukkan satu hal sederhana tapi sering kita abaikan: Tahun Baru tidak dialami secara setara. Ada yang merayakannya sebagai pesta, ada yang menjalaninya sebagai ujian. Ada yang memikirkan resolusi, ada yang masih berusaha memastikan esok hari bisa makan dan tetap selamat.

Namun dalam narasi global, semua itu sering disatukan dalam satu kalimat besar: "Dunia menyambut Tahun Baru." Seolah semua orang berdiri di titik yang sama, merasakan hal yang sama, dan memiliki kemampuan yang sama untuk berharap.

Padahal kenyataannya, sebagian manusia tidak sedang menyambut apa pun. Mereka hanya bertahan.

Euforia, Empati, dan Keinginan untuk Cepat Melupakan

Di tengah perbedaan itu, empati sering hadir dalam bentuk yang sangat singkat. Mengheningkan cipta, doa bersama, ucapan belasungkawa, lalu kembali ke agenda perayaan. Tidak ada yang salah dengan empati simbolik semacam itu. Ia penting sebagai penanda bahwa kita masih peduli.

Masalahnya muncul ketika empati berhenti di sana. Ketika penderitaan orang lain menjadi jeda kecil sebelum kembang api kembali dinyalakan. Ketika tragedi hanya menjadi latar yang cepat dilupakan karena dianggap mengganggu suasana.

Budaya kita—dan mungkin budaya global hari ini—terlalu cepat menginginkan perasaan "baik-baik saja". Kita terbiasa menutup luka dengan euforia, menutup kesedihan dengan hiburan, dan menutup ketidaknyamanan dengan optimisme instan. Tahun Baru menjadi momentum paling sempurna untuk itu.

Ada dorongan kuat untuk segera berkata, "Sudahlah, tahun lalu sudah lewat. Mari fokus ke depan." Kalimat itu terdengar bijak, tetapi sering kali menyimpan masalah. Ia bisa berubah menjadi cara halus untuk menyingkirkan luka yang belum sembuh, baik luka pribadi maupun luka sosial.

Akibatnya, penderitaan menjadi sesuatu yang dinormalisasi. Bencana, konflik, dan ketimpangan dianggap sebagai bagian dari "kenyataan hidup" yang tidak perlu terlalu lama direnungi. Kita menoleh sebentar, lalu kembali menatap panggung perayaan.

Ilusi bahwa kita baik-baik saja lahir dari kebiasaan ini. Bukan karena dunia benar-benar membaik, tetapi karena kita semakin mahir menyingkirkan hal-hal yang tidak nyaman dari kesadaran kita.

Tidak Merayakan sebagai Bentuk Kejujuran Sosial

Menariknya, pada Tahun Baru 2026, ada negara dan kota yang memilih tidak menyalakan kembang api. Bukan karena tidak mampu, tetapi karena merasa tidak pantas untuk berpesta di tengah duka. Indonesia dan Hong Kong adalah dua contoh yang mencolok.

Pilihan ini sering dibaca sebagai tanda kesedihan atau keterbatasan. Padahal, ia juga bisa dibaca sebagai bentuk kedewasaan sosial. Keputusan untuk menahan euforia menunjukkan kesadaran bahwa tidak semua situasi layak dirayakan dengan gegap gempita.

Tidak merayakan bukan berarti anti-kebahagiaan. Ia bisa menjadi pengakuan jujur bahwa ada luka yang perlu dihormati. Bahwa ada penderitaan yang tidak boleh ditutup dengan kembang api semata. Dalam konteks ini, menahan diri justru menjadi tindakan empatik.

Sayangnya, sikap semacam ini sering terasa asing di tengah budaya yang memuja kebahagiaan instan. Kita terbiasa mengukur hidup dari seberapa meriah perayaannya, seberapa optimistis rencananya, seberapa cepat ia bangkit dari kesedihan.

Padahal, tidak semua kesedihan harus segera "disembuhkan". Ada luka yang perlu didampingi, bukan disingkirkan. Ada duka yang perlu diakui, bukan ditutup.

Mungkin justru di situlah makna Tahun Baru bisa diperluas. Ia bukan hanya tentang merayakan awal, tetapi juga tentang memberi ruang bagi yang belum selesai. Tentang mengakui bahwa dunia tidak selalu baik-baik saja, dan itu bukan sesuatu yang harus kita sangkal.

Tahun Baru sebagai Cermin, Bukan Tirai

Selama ini, Tahun Baru sering berfungsi seperti tirai. Ia menutup apa yang terjadi di belakang dan membuka panggung baru di depan. Kita diajak untuk fokus pada harapan, resolusi, dan mimpi-mimpi segar, tanpa terlalu lama menoleh ke apa yang tertinggal.

Padahal, Tahun Baru juga bisa berfungsi sebagai cermin. Ia memantulkan kondisi kita yang sebenarnya, baik sebagai individu maupun sebagai masyarakat. Ia mengajak kita bertanya dengan jujur: apa yang belum selesai? Siapa yang tertinggal? Luka apa yang masih kita abaikan?

Harapan tidak harus lahir dari euforia. Ia bisa tumbuh dari kesadaran yang jujur. Dari keberanian untuk mengatakan bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja, tetapi kita tidak ingin menutup mata. Dari pilihan untuk tetap peduli meski itu membuat perayaan terasa kurang meriah.

Mungkin kita memang tidak perlu selalu berpura-pura kuat di setiap pergantian tahun. Tidak perlu selalu yakin bahwa segalanya akan membaik hanya karena kalender berganti. Harapan yang dewasa justru lahir dari pengakuan akan keterbatasan.

Jika Tahun Baru bisa menjadi apa pun, barangkali ia paling berguna sebagai momen berhenti sejenak. Bukan untuk memastikan bahwa kita baik-baik saja, tetapi untuk menyadari bahwa kita sedang berada di dunia yang rapuh, saling terhubung, dan membutuhkan lebih banyak kejujuran serta empati.

Barangkali dunia memang belum baik-baik saja. Namun dengan mengakui itu, kita memberi ruang bagi harapan yang lebih jujur. Harapan yang tidak lahir dari kembang api semata, melainkan dari kesediaan untuk hadir, peduli, dan tidak menutup mata.

Dan mungkin, itu sudah cukup sebagai awal tahun yang baru.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan