
Suara Terompet dan Deru Kendaraan Memecah Keheningan Malam Surabaya
Pergantian tahun 2026 di Kota Surabaya terasa sangat istimewa. Di Jalan Tunjungan, suara terompet dan deru kendaraan yang silih berganti memecah keheningan malam. Tidak seperti biasanya, tidak ada pesta kembang api yang meriah, tetapi suasana malam itu justru terasa penuh euforia dan kebersamaan.
Jalan Tunjungan memang menjadi salah satu tempat yang selalu ramai, bahkan di tengah malam. Lampu neon menyala terang, musik jalanan mengalun, dan aroma kopi dari kafe-kafe hits menambah kesan hangat dan nyaman. Banyak orang mengatakan bahwa "Tidak lengkap ke Surabaya kalau belum ke Jalan Tunjungan."
Ribuan pengunjung berjalan santai di sepanjang trotoar Jalan Tunjungan, menciptakan suasana yang tidak biasa. Meski tidak ada pesta kembang api, rasa antusiasme dan kegembiraan tetap terasa. Hal ini disebabkan oleh imbauan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya untuk tidak melakukan kegiatan yang berlebihan dalam rangka solidaritas bagi korban bencana banjir bandang di Aceh dan Sumatera.
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menjelaskan bahwa kebijakan ini dilakukan sebagai bentuk dukungan dan empati terhadap masyarakat yang sedang mengalami musibah. "Masih ada saudara kita yang mengalami musibah di Aceh dan Sumatera. Mari kita tidak melakukan kegiatan di tahun baru yang berlebihan, tetapi secara sederhana," ujarnya.
Pengalaman Pengunjung di Jalan Tunjungan
Salah satu pengunjung Jalan Tunjungan, Husni Habibullah, warga Wiyung, Kota Surabaya, mengakui bahwa ia tidak masalah dengan ditiadakannya pesta kembang api. Ia datang bersama temannya sejak pukul 19.00 WIB dan mengatakan bahwa tahun baru tidak harus selalu diiringi kembang api. "Kita bisa merayakannya dengan kumpul bersama teman dan keluarga," tuturnya.
Husni mengaku sering berkunjung ke Jalan Tunjungan untuk sekadar jalan-jalan dan ngopi. Ia juga mencoba kafe baru dan foto booth, meskipun antreannya cukup panjang. "Memilih Jalan Tunjungan karena jalan-jalan saja, karena besok kan libur kerja, jadi ke sini untuk nongkrong, kumpul sama teman-teman," katanya.
Sementara itu, suami istri asal Bojonegoro, Ngujianto dan Aike Yunaika, juga memilih Jalan Tunjungan sebagai tempat untuk menghabiskan tahun 2025. Mereka mengatakan bahwa Jalan Tunjungan adalah salah satu ikon Kota Pahlawan. "Biasanya tiap tahun ke puncak, anak-anak bosan. Jadi tahun ini ke Surabaya. Penasaran, katanya orang kan Jalan Tunjungan ini ikonnya Kota Surabaya, ternyata seramai ini, ya," kata Ngujianto.
Aike Yunaika mengatakan bahwa ia datang ke Jalan Tunjungan bersama suami dan dua anaknya. Ia mengaku kembali ke Surabaya mengingatkannya ke kenangan semasa kuliah di Kota Pahlawan. "Kebetulan saya dulu kuliah di Surabaya, jadi sekalian mengenang masa lalu. Setelah ini rencananya mau kulineran sama keluarga ke Pasar Tunjungan sambil nunggu jam 12 malam," ucapnya.
Tanggapan atas Imbauan Tanpa Kembang Api
Terkait momen tahun baru yang digelar tanpa pesta kembang api, Aike mengaku mengerti dan ikut prihatin atas musibah yang menimpa masyarakat di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh. "Momen pergantian tahun sebenarnya kan identik dengan kembang api, tetapi kalau dengan keadaan seperti ini, kita ikut prihatin juga, ikut merasakan juga, nggak berpengaruh, masih ramai juga," tukasnya.
Meski tidak ada kembang api, suasana pergantian tahun di Jalan Tunjungan tetap terasa meriah dan penuh makna. Bagi banyak orang, momen ini menjadi kesempatan untuk berkumpul, berbagi kebahagiaan, dan menunjukkan solidaritas terhadap sesama.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar