Tahun Baru, Haedar Nashir: Lebih Indah Tanpa Pesta dan Kembang Api

Menghadapi Tahun Baru dengan Semangat Kebangkitan dan Persatuan

YOGYAKARTA, nurulamin.pro
Menjelang pergantian tahun dari 2025 ke 2026, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk tidak terjebak dalam euforia pesta pora dan kembang api. Ia menilai bahwa momen perayaan tahun baru harus diisi dengan empati terhadap sesama yang sedang berjuang menghadapi musibah.

Bencana banjir yang terjadi di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, serta daerah lainnya menjadi duka yang masih menyisakan luka. Menurut Haedar, ini adalah waktu yang tepat untuk membangun semangat baru, yaitu semangat tangguh dan bersatu dalam menghadapi tantangan hidup.

“Mari awali kehadiran tahun 2026 dengan semangat baru untuk lebih tangguh dan makin bersatu menghadapi musibah dan menjalani kehidupan,” ujar Haedar dalam Refleksi Akhir Tahun “Bangkit Bersama untuk Indonesia”.

Ia juga mengajak semua warga bangsa untuk memperkuat jiwa, pikiran, dan tindakan yang berbasis hikmah dan kebijaksanaan. Dengan demikian, kehidupan kebangsaan akan lebih terarah dan cerah.

Refleksi Spiritual, Intelektual, dan Sosial

Haedar menekankan pentingnya refleksi spiritual, intelektual, dan sosial dalam kehidupan kebangsaan. Hal ini bertujuan agar arah perjalanan bangsa semakin jelas dan bermakna.

Lebih khusus lagi, ia mengajak masyarakat untuk merenungkan nilai-nilai ketuhanan yang diajarkan oleh agama-agama yang ada di Indonesia. Nilai-nilai ini sejalan dengan Pancasila sebagai fondasi negara Republik Indonesia.

Di tengah bencana, Haedar menegaskan bahwa spirit kebangkitan harus dibangun oleh seluruh pihak. Bukan malah menebar keriuhan atau suasana pesimis. Bangsa ini harus tangguh dan bangkit dalam menghadapi segala tantangan kehidupan.

Membangun Kehidupan yang Lebih Baik

Haedar menjelaskan bahwa pasca-bencana, kondisi ekosistem Indonesia harus dikaji secara menyeluruh. Kajian-kajian tersebut harus dilakukan secara objektif dengan pendekatan multidisipliner dan multiperspektif. Dengan riset lapangan yang andal, hasil kajian dapat mendekati kebenaran yang substansial dan menyeluruh.

“Mari menata Indonesia di bidang politik, sosial, ekonomi, tata ruang, lingkungan, dan semua aspek secara benar dan tersistem menuju Indonesia yang lebih baik dan berkemajuan,” tegas Haedar.

Ia menekankan bahwa kohesivitas hidup bersama sangat penting, baik dalam menghadapi bencana maupun dalam berbangsa dan bernegara. Dasar Persatuan Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika harus menjadi patokan hidup bersama dalam menghadapi situasi sulit apapun.

Kebersamaan yang Tulus dan Otentik

Haedar memaparkan pentingnya membangun kebersamaan yang tulus dan otentik. Ia mengajak untuk menjauhi perpecahan, saling hujat, dan saling menuding. Kebersamaan ini menjadi penopang kuat keindonesiaan.

“Jaga kerukunan dan kehormatan antarkomponen bangsa yang menjadi penopang kuat keindonesiaan,” imbuh Haedar.

Ia juga menegaskan bahwa media sosial jangan menjadi wahana perseteruan yang mengoyak persatuan. Harganya terlalu mahal jika bangsa ini pecah akibat kesalahan penggunaan media sosial.

Pentingnya Kedewasaan dan Kearsipan

Dalam situasi kritis, Haedar menyoroti potensi konflik yang bisa muncul akibat informasi yang tidak jelas dan pandangan keras yang saling bertentangan. Jika tidak terkelola dengan baik, anarki sosial dan kegaduhan struktural bisa terjadi.

“Di sinilah pentingnya kedewasaan dan kearifan seluruh pihak di tubuh bangsa ini,” jelas Haedar.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan