Kembang Api yang Tak Berkilau Lagi
Tahun baru biasanya identik dengan kembang api, sorak-sorai, dan resolusi yang melangit. Namun, fajar 2026 menyingsing dengan wajah yang berbeda. Bagi kita, bagi bangsa ini, tahun baru kali ini masih menyisakan luka yang teramat dalam.
Alih-alih merayakan awal yang bersih, kita justru dihadapkan pada kenyataan pahit yang mengepung saudara-saudara kita di berbagai penjuru negeri. Banjir di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara bukan sekadar berita lewat di layar gawai kita. Itu adalah duka yang masih menganga.
Dari status bencananya hingga kondisi riil yang terjadi di tengah masyarakat, semuanya memotret sebuah nestapa yang nyata. Mereka yang menjadi korban bukan sekadar angka dalam statistik, melainkan nyawa dan harapan yang sedang terendam air mata dan lumpur.

Air Bah dan Luka yang Belum Kering
Di pengungsian, mungkin ada anak yang masih memeluk tas sekolahnya yang basah. Di sana, kehidupan sehari-hari harus beradaptasi dengan kondisi yang tidak manusiawi. Mereka harus bertahan di bawah rintihan air dan ketidakpastian masa depan.
Namun, yang lebih menyayat hati daripada terjangan air bah itu sendiri adalah terkuaknya sebuah pengkhianatan kemanusiaan. Kasus-kasus korupsi dana bantuan untuk banjir kini terpampang nyata menjadi tontonan publik. Sebagai penulis, ada rasa sesak yang luar biasa hingga jemari ini seolah tak sanggup lagi mengurai kata-kata.
Bagaimana mungkin, di tengah jerit minta tolong, masih ada tangan-tangan yang tega mencuri hak mereka yang sedang tertimpa musibah? Tulisan ini hadir bukan untuk memaparkan deretan data yang kaku atau fakta-fakta birokratis yang dingin. Ini adalah sebuah refleksi.
Pengkhianatan di Tengah Jerit Kemanusiaan
Mari kita buka sedikit saja hati kita untuk melihat, atau sekadar meneropong, bahkan mengintip kondisi teman-teman kita yang sedang berjuang melawan dampak bencana. Mari kita intip dengan hati kita, dari kejauhan manapun kita berada, agar kita bisa merasakan sedikit saja dari beban yang mereka pikul saat ini.
Sejenak, mari kita singkirkan dulu kemarahan kita. Persetan dengan nominal korupsi dana banjir yang membuat kepala hampir pecah itu. Kita marah? Iya. Kita kesal? Jelas. Tapi kemarahan saja tidak akan mengeringkan satu rumah pun dari banjir.
Tahun 2026 ini menantang kita: mampukah kita menjadi teman yang sesungguhnya bagi mereka yang terkena bencana? Mari kita lupakan sejenak tentang opini publik, keputusan presiden, atau dekret yang simpang siur. Fokus kita adalah mereka yang ada di lapangan.
Jika pemerintah ingin melakukan kebijakan terbaru yang berpihak pada rakyat, alhamdulillah. Namun, jika tidak, maka kitalah yang harus bergerak.
Menjahit Harapan Melalui Empati
Mari buka hati kita. Jika mampu, langkahkan kaki. Tidak perlu muluk-muluk; sekadar datang dan memeluk teman-teman kita yang masih terdampak, yang masih dalam proses pemulihan, itu sudah sangat berarti. Peluk mereka dengan empati.
Mungkin dana kita terbatas untuk sampai ke sana, tapi kita punya solidaritas. Mungkin kita hanya punya satu rupiah, tapi jika dikolektifkan, itu akan menjadi kekuatan yang besar. Lakukanlah apapun gerakannya, asalkan itu berasal dari hati.
Perseteruan politik dan berita korupsi memang membuat hati kita bergemuruh seperti bara api yang panas. Namun, jangan biarkan api kemarahan itu menghanguskan rasa kemanusiaan kita.
Tahun baru ini memang masih menyisakan luka. Namun, di atas luka itu, kita punya kesempatan untuk menjahit kembali harapan. Semoga catatan yang sangat amat sederhana ini mampu mengetuk pintu hati kita semua. Karena pada akhirnya, yang tersisa dari sebuah bangsa saat diterjang badai hanya cinta yang kita berikan kepada sesama.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar