
Pergantian Tahun di Kabupaten Malang Diisi dengan Doa Bersama
Pergantian tahun di Kabupaten Malang kali ini berlangsung dalam suasana yang lebih khidmat dan penuh makna. Pemerintah Kabupaten Malang memutuskan untuk tidak menggelar pesta dan hiburan seperti biasanya, melainkan menggantinya dengan kegiatan doa bersama sebagai bentuk empati terhadap korban bencana alam yang terjadi di beberapa wilayah Sumatera.
Bupati Malang HM. Sanusi menjelaskan bahwa keputusan ini diambil sebagai wujud solidaritas dan kepedulian terhadap musibah yang menimpa masyarakat di Sumatera. Ia menekankan bahwa kegiatan selebrasi tahun baru akan diganti dengan doa bersama yang dilaksanakan tepat pada malam pergantian tahun.
Tradisi pesta kembang api yang selama ini menjadi ciri khas perayaan tahun baru secara resmi ditiadakan. Begitu pula dengan kemungkinan adanya konvoi kendaraan, yang masih menunggu kebijakan dari pihak kepolisian. Pemkab Malang telah menyiapkan acara doa bersama di musala yang berada di kawasan Stadion Kanjuruhan. Kegiatan ini akan dimulai tepat pukul 00.00 WIB sebagai simbol refleksi dan kepedulian di tengah suasana duka nasional.
Sanusi menyampaikan bahwa langkah ini sejalan dengan kondisi Indonesia yang sedang berduka akibat rangkaian bencana alam, mulai dari banjir hingga longsor di beberapa provinsi di Sumatera. Oleh karena itu, ia berharap perayaan tahun baru dapat diisi dengan kegiatan yang lebih bermakna dan penuh empati.
Untuk memastikan pelaksanaan kebijakan ini berjalan lancar, Pemkab Malang telah menerbitkan Surat Edaran Bupati yang mengimbau agar perayaan tahun baru tidak dilakukan secara berlebihan. Meski surat edaran tersebut berlaku secara internal di lingkungan pemerintahan daerah, Sanusi berharap masyarakat juga turut memahami dan menghormati imbauan tersebut.
Sebelumnya, pesta kembang api rutin digelar di Pendapa Kabupaten Malang sebagai bagian dari perayaan tahun baru. Namun, dengan adanya musibah besar yang menimpa sejumlah daerah, pemerintah daerah memutuskan untuk menghentikan tradisi tersebut sementara waktu. Keputusan ini telah dikoordinasikan dengan jajaran kepolisian, termasuk Kapolres Malang, guna memastikan pelaksanaan malam pergantian tahun berjalan aman, tertib, dan tetap mencerminkan nilai-nilai kepedulian sosial.
Doa bersama yang digelar oleh Pemkab Malang tidak hanya ditujukan untuk para korban bencana alam di Sumatera, tetapi juga menjadi momen untuk mendoakan masyarakat Kabupaten Malang secara umum. Sanusi menyebut bahwa doa juga akan dipanjatkan untuk arwah para korban Tragedi Kanjuruhan sebagai bagian dari refleksi bersama di penghujung tahun.
“Cukup dengan doa bersama, tanpa kembang api. Kita ingin malam tahun baru ini menjadi momen perenungan dan solidaritas,” tegas Sanusi.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana, bencana banjir dan longsor yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat telah menimbulkan dampak besar. Hingga pertengahan Desember 2025, jumlah korban meninggal dunia tercatat mencapai 1.030 orang, dengan ratusan ribu rumah mengalami kerusakan dan puluhan kabupaten terdampak.
Dengan latar belakang tersebut, Pemkab Malang berharap langkah sederhana ini dapat menjadi simbol kepedulian sekaligus ajakan bagi masyarakat untuk mengawali tahun baru dengan doa, empati, dan harapan akan pemulihan bagi seluruh bangsa.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar