Tak Ada Kabar, Safutra Khawatir Hilang Kontak dengan Ibu di Aceh Tengah Terisolir

Kondisi Darurat di Aceh Tengah

BANDUNG, berita Safutra Rantona, seorang perantau asal Aceh Tengah yang tinggal di Bandung, mengaku sangat cemas setelah enam hari terakhir tidak bisa menghubungi ibunya, Rinayati. Ibu Safutra tinggal di Desa Kuala I, Kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah. Daerah tersebut kini terisolir akibat banjir dan longsor yang melanda sejak beberapa waktu lalu.

Jalur darat ke daerah tersebut telah terputus, sehingga warga tidak bisa mengakses wilayah luar. Listrik juga padam, BBM langka, dan komunikasi antara warga dengan keluarga di luar daerah terhenti. Safutra mengatakan bahwa ibunya terakhir kali memberi kabar pada Jumat (13/12/2025), dengan mengatakan bahwa mereka sedang merebus ikan mujair karena minyak sudah habis.

Sudah enam hari mamaku enggak ada kabar. Terakhir katanya rebus ikan mujair karena minyak sudah enggak ada. Adekku juga bilang genset enggak bisa nyala karena enggak ada Pertalite lagi, ujar Safutra kepada berita, Sabtu (13/12/2025).

Sinyal Komunikasi Terputus Total

Menurut Safutra, Kecamatan Bintang kini kehilangan akses komunikasi sepenuhnya. Dari 23 desa yang ada di kecamatan tersebut, hanya satu desa yakni Wakil Jalil yang memiliki akses Starlink. Namun, akses tersebut harus dibayar per perangkat.

Biasanya kalau genset hidup, ada sedikit sinyal. Tapi sekarang bahan bakar enggak ada. Kalau mau pakai sinyal di desa Wakil Jalil, bayar Rp 25.000 per orang, kata Safutra.

Selain itu, jalur darat ke kecamatan itu putus total. Kapal kecil menjadi satu-satunya sarana transportasi sementara, namun hanya dapat mengangkut penumpang, bukan barang. Harganya pun mahal, yaitu Rp 200.000 per orang.

Tidak Mampu Menempuh Perjalanan Jauh

Safutra semakin cemas karena ibunya tidak memungkinkan untuk berjalan jauh demi mencari bantuan atau membeli sesuatu. Untuk mencapai kabupaten terdekat, warga harus menempuh sekitar 60 kilometer dengan berjalan kaki ke hutan.

Mau ke kabupaten sebelah pun harus jalan sekitar 60 kilo. Ibu aku enggak sanggup jalan jauh. Mau enggak mau harus bertahan di kampung, ujarnya.

Stok kebutuhan sehari-hari juga semakin menipis. Toko kelontongan di kampung sudah habis minyak goreng. Mau masak pun serba terbatas, tambahnya.

Desa Masih Terisolir

Hingga kini, Desa Kuala I masih terisolir. Safutra mengaku hanya bisa menunggu kabar sambil berharap akses komunikasi segera pulih. Sekarang kondisinya masih terisolir karena enggak bisa ke mana-mana. Saya hanya ingin dengar suara mama, tahu kalau beliau baik-baik saja, ucapnya.

Sebelumnya diberitakan, banjir dan longsor yang melanda Aceh pada 26 November 2025 berdampak pada 18 kabupaten/kota. Hingga kini, ratusan korban jiwa dilaporkan meninggal dunia akibat bencana tersebut.

Kondisi Logistik yang Kritis

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Aceh Tengah, Mustafa Kamal, mengatakan bahwa sebanyak 34.640 warga di 7 Kecamatan, 82 kampung masih belum bisa diakses melalui jalur darat. Daerah terisolir ini kekurangan logistik. Bahan pangan sudah kritis, obat-obatan, dan kebutuhan balita juga sudah kritis, ujarnya, Jumat (12/12/2025).

Distribusi bantuan ke desa-desa terisolir masih dilakukan menggunakan helikopter. Sementara itu, alat berat milik pemerintah daerah masih dikerahkan untuk membuka akses ke 87 kampung yang tersebar di tujuh kecamatan.

Mustafa menjelaskan bahwa banyak masyarakat Aceh Tengah yang membeli BBM dan sembako langsung ke Jalan TakengonAceh Utara (Jalan KKA) untuk bertahan hidup. Selain pedagang, banyak warga dari wilayah kota Takengon yang langsung membeli beras ke Jalan KKA, mereka survive seperti membeli BBM. Masyarakat wilayah kota juga survive seperti membeli BBM. Walaupun mahal, beras tetap dibeli. Kalau yang dari Bulog itu namanya beras bantuan bencana alam, semua warga mendapat bantuan, tutup Mustafa.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan