Tanah Bergerak di Buluroto Blora Ancam Kehidupan Warga

Fenomena Tanah Bergerak di Desa Buluroto, Blora Memicu Kekhawatiran

Di Desa Buluroto, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, fenomena tanah bergerak kian mengkhawatirkan. Rekahan baru kembali muncul di wilayah terdampak, bahkan jaraknya hanya sekitar satu meter dari rekahan lama yang sebelumnya telah terbentuk. Peristiwa ini menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan warga dan infrastruktur di sekitar area tersebut.

Kapolsek Banjarejo AKP Gembong menjelaskan bahwa pergerakan tanah tersebut memicu penurunan permukaan tanah di sejumlah titik dengan kedalaman bervariasi antara 40 hingga 50 sentimeter. Kondisi ini tidak hanya terjadi di area lama, tetapi mulai merambah lokasi-lokasi yang sebelumnya aman. “Di beberapa titik, penurunan justru terjadi di area yang sebelumnya tidak terdampak. Sekarang pergerakan tanah meluas hingga ke permukiman warga,” ujarnya.

Dampak dari fenomena ini terasa langsung oleh warga setempat. Sedikitnya tiga rumah warga dan kandang ternak dilaporkan terdampak akibat fenomena ini. Dua rumah mengalami kerusakan cukup parah. Pada salah satu rumah, tembok dilaporkan ambles hingga sekitar 50 sentimeter, memicu kekhawatiran akan keselamatan penghuni.

AKP Gembong menyebutkan bahwa panjang area terdampak diperkirakan mencapai sekitar 200 meter. Namun, arah pergerakan tanah kini tak lagi memanjang, melainkan melebar ke sisi-sisi lain, termasuk ke arah permukiman padat penduduk.

Dampak Langsung pada Warga

Warga setempat mengungkapkan bahwa mereka harus mengambil langkah-langkah pencegahan untuk mengurangi dampak tanah bergerak. Peniwati, salah satu warga terdampak, mengaku selama satu bulan terakhir terpaksa menguruk bagian belakang dapur rumahnya menggunakan satu unit mobil colt dan satu truk material. Area yang diuruk memiliki panjang sekitar 7 meter dan lebar 5 meter.

Hal serupa dialami Nur Hidayah. Ia menyebut tanah di sekitar rumahnya amblas dengan panjang sekitar 6 meter dan lebar 4 meter. Sementara Sahid, warga lainnya, mengungkapkan lahan miliknya ikut terdampak dengan ukuran sekitar 12 meter kali 9 meter.

Menurut keterangan warga, penurunan tanah masih terjadi hampir setiap hari dengan kisaran 2 hingga 3 sentimeter. Saat hujan deras, penurunan bahkan bisa mencapai sekitar 5 sentimeter.

Sejarah Peristiwa Serupa

Warga setempat mengungkapkan bahwa peristiwa serupa pernah terjadi pada tahun 1998. Saat itu, tanah ambles hingga kedalaman sekitar 2 meter. Menariknya, tanah tidak bergerak ke arah sungai, melainkan turun secara vertikal ke bawah. Retakan juga muncul di lantai rumah-rumah warga.

“Harapannya, pemerintah desa bersama instansi terkait segera turun ke lapangan untuk melakukan kajian teknis, agar penyebab pergerakan tanah bisa dipastikan dan penanganannya tepat,” ujar Sahid.

Upaya Pemerintah Daerah

Menindaklanjuti keluhan warga, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Blora bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana telah mulai bergerak. Pergerakan tanah di Dukuh Sambiroto, Desa Buluroto, diduga dipicu oleh gerusan aliran Sungai Lusi.

Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUPR Blora, Surat, mengatakan inspeksi lapangan dijadwalkan dilakukan pekan depan bersama BBWS Pemali Juana. “Minggu depan rencananya akan dilakukan inspeksi dari BBWS Pemali Juana. Sementara ini, pihak desa memang belum menyampaikan laporan resmi ke Dinas PUPR,” ujarnya.

Sambil menunggu hasil kajian, warga Desa Buluroto masih hidup dalam bayang-bayang pergerakan tanah yang terus terjadi dan mengancam keselamatan rumah serta lahan mereka.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan