Tanda Lazarus dan Gerakan Terakhir Kekuasaan


Kehancuran kekuasaan Sheikh Hasina pada Agustus 2024 menandai akhir dari era yang telah kehilangan dukungan masyarakat. Protes yang meluas dan berdarah mengakibatkan hilangnya legitimasi politik, memaksa ia meninggalkan Bangladesh meski struktur pemerintahan tampak masih berjalan, meskipun tidak sepenuhnya stabil.

Kekuasaan yang runtuh sering kali tidak langsung lenyap. Ia masih bisa bergerak, menunjukkan sisa-sisa kehidupan melalui pernyataan dari loyalis, jaringan lama, dan simbol-simbol otoritas yang dipertahankan. Gerakan ini menciptakan kesan bahwa sistem masih bekerja dengan baik, meskipun kepercayaan publik sudah sangat terkikis.

Dalam dunia medis, fenomena ini dikenal sebagai Lazarus Sign. Tubuh yang telah dinyatakan mati bisa menunjukkan gerakan refleks akibat sisa energi saraf. Namun, gerakan tersebut bukan tanda hidup kembali, melainkan mekanisme terakhir sebelum sistem benar-benar berhenti.

Metafora ini bisa digunakan untuk memahami kepemimpinan. Ketika mandat publik telah hilang, kebijakan lama sering tetap berjalan secara otomatis. Loyalis mengulang narasi lama, dan penyebab kejatuhan disederhanakan menjadi intrik atau laporan buruk, bukan akumulasi pelanggaran etika yang dibiarkan berlangsung.

Refleks seperti ini kerap membuka kembali cara kerja lama yang selama ini dinormalisasi. Distorsi informasi, loyalitas semu, serta praktik pencitraan atasan dipertahankan seolah wajar. Padahal, praktik-praktik inilah yang secara perlahan menggerogoti legitimasi dan kepercayaan dari dalam.

Di sinilah pentingnya membedakan antara mati suri dan kematian kepemimpinan. Mati suri masih menyimpan peluang pulih melalui koreksi serius. Kematian kepemimpinan terjadi ketika kepercayaan publik telah hilang, dan yang tersisa hanyalah rutinitas administratif tanpa makna sosial.

Logika serupa sering muncul dalam program pemberdayaan. Program yang dirancang dengan niat baik dapat kehilangan daya hidup ketika kepemimpinannya terjebak pada pola lama, defensif terhadap kritik, dan lebih sibuk menjaga citra daripada memastikan dampak nyata.

Pergantian koordinator dalam program semacam itu sering kali dibaca sebagai ancaman stabilitas. Kekhawatiran bahwa program akan "mati" menguat, seolah keberlanjutan bergantung pada satu figur. Padahal, yang sering berakhir bukan programnya, melainkan refleks kepemimpinan yang telah aus.

Koordinator yang memimpin dengan selera personal berisiko mengganti visi program dengan kebiasaan. Keputusan diambil karena perasaan suka dan tidak suka, bukan atas dasar kebutuhan program. Laporan hanya disusun untuk meyakinkan atasan, bukan memperbaiki kerja lapangan. Program tetap bergerak, tetapi kehilangan arah substansi.

Dalam konteks ini, pergantian kepemimpinan menjadi jeda penting. Ia memutus gerak otomatis dan memaksa organisasi meninjau ulang caranya bekerja. Pertanyaannya sederhana namun mendasar: apakah yang berjalan selama ini benar-benar hidup atau sekadar refleks administratif?

Penolakan terhadap perubahan sering kali lahir dari refleks itu sendiri. Nostalgia dibangun, jasa masa lalu dibesar-besarkan, dan kritik dicurigai. Padahal, ketidaknyamanan tersebut bisa menjadi tanda awal pemulihan, bukan ancaman kehancuran.

Kepemimpinan baru tentu bukan jaminan kehidupan. Tanpa keberanian memutus praktik lama, ia hanya melahirkan refleks dengan wajah berbeda. Namun tanpa pergantian, refleks lama justru terus dipelihara atas nama stabilitas semu.

Metafora Lazarus Sign mengingatkan bahwa tidak semua gerak adalah tanda hidup. Dalam kerja publik, barangkali yang dibutuhkan bukan memastikan segalanya tetap bergerak, melainkan keberanian berhenti sejenak, memberi ruang bagi napas baru tumbuh perlahan.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan