
Banjir Susulan Kembali Melanda Tapanuli Tengah
TAPANULI TENGAH, nurulamin.pro – Banjir susulan kembali terjadi di beberapa desa di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara, pada Jumat (2/1/2026). Peristiwa ini menyebabkan air sungai meluap hingga ke permukiman warga dan menutupi badan jalan di sejumlah titik di Kecamatan Tukka.
"Hujan terjadi sejak pagi hingga sore hari, pada Jumat (2/1/2026) di Tapanuli dan hampir merata di seluruh wilayah Tapanuli Tengah," ujar Bupati Tapteng, Masinton Pasaribu, saat dikonfirmasi lewat pesan singkat, Sabtu (3/1/2025).
Menurut Masinton, ada sembilan kecamatan yang sebelumnya terdampak banjir bandang dan longsor yang kini terdampak banjir susulan. Kecamatan-kecamatan tersebut antara lain Tapian Nauli, Pandan, Sarudik, Tukka, Badiri, Pinangsori, Lumut, Sibabangun, dan Sukabangun.
"Kecamatan Tukka adalah salah satu wilayah kecamatan yang terdampak parah akibat bencana banjir bandang dan longsor. Dan kembali dilanda banjir," tambah Masinton.
Mantan Anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan ini menjelaskan bahwa banjir kali ini disebabkan oleh curah hujan yang tinggi, sehingga debit air melebihi daya tampung sungai. Pada minggu pertama Desember 2025, Dinas PU Kabupaten Tapanuli Tengah telah membersihkan sebagian alur sungai yang mengalami sedimentasi yang dipenuhi tumpukan gelondongan kayu.
"Sehingga saat hujan sebagian besar air sudah masuk ke alur air sungai, dan masih ada yang merembes ke permukiman warga, karena pembuatan tanggul sementara masih dalam proses pengerjaan," ujarnya.
"Namun tidak berapa lama, air kembali surut," tambahnya.
Masinton mengingatkan agar seluruh masyarakat tetap waspada dan siaga karena kondisi cuaca yang masih terus berpotensi hujan deras. "Kami tetap mengimbau kepada warga agar tetap waspada dan siaga. Melihat kondisi cuaca saat ini yang masih terus berpotensi hujan dan dapat mengakibatkan banjir juga longsor."
Data Korban Bencana Banjir dan Longsor
Berdasarkan data terbaru, hingga Kamis (1/1/2026) pukul 17.00 WIB, korban bencana banjir dan longsor mencapai 366 orang meninggal dunia dan 14.430 orang masih mengungsi.
"Korban meninggal dunia 366 orang, 206 luka-luka, 59 orang hilang dan 14.430 meninggal dunia," ujar Kabid Informasi dan Komunikasi Publik Diskominfo Sumut, Porman Mahulae, mengutip data dari BPBD Sumut.
Lokasi terparah berada di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng). Di Tapteng, sebanyak 127 orang meninggal dan ada 4.161 pengungsi. Di Tapanuli Selatan (Tapsel), korban meninggal 89 orang dan 4.693 warga masih mengungsi. Lalu Kota Sibolga, sebanyak 55 orang meninggal dan 660 pengungsi. Kemudian di Kabupaten Tapanuli Utara terdapat 36 warga meninggal dan 1.197 mengungsi.
Upaya Pemerintah Daerah
Pemerintah daerah terus berupaya untuk meminimalkan dampak bencana. Salah satunya adalah pembersihan alur sungai dan pembuatan tanggul sementara. Meskipun demikian, kondisi cuaca yang masih berpotensi hujan deras membuat masyarakat tetap diminta untuk waspada.
Selain itu, pemerintah juga memberikan bantuan logistik dan perlindungan bagi para pengungsi. Masyarakat diimbau untuk selalu memperhatikan informasi cuaca dan mengikuti arahan dari pihak berwajib.
Dengan situasi seperti ini, penting bagi semua pihak untuk bekerja sama dan saling mendukung dalam menghadapi bencana alam. Semua upaya yang dilakukan diharapkan bisa membantu meringankan beban masyarakat yang terkena dampak banjir dan longsor.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar