Teka-Teki Kayu Terbawa Banjir di Sumatera, Milik Siapa?

Fenomena Gelondongan Kayu yang Terbawa Banjir di Sumatera dan Aceh

Banyak orang terkejut dengan munculnya gelondongan kayu besar yang terbawa banjir di wilayah Sumatera dan Aceh. Video tentang hal ini viral di media sosial, membuat perhatian publik meningkat. Hal ini menjadi topik utama dalam berbagai diskusi mengenai bencana alam yang terjadi.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, mengonfirmasi bahwa gelondongan kayu tersebut terdapat di dua desa di Sumatera Utara. Menurutnya, ada dua desa yang kemungkinan muncul dalam video tersebut, yaitu di Tapanuli Selatan. Ia menjelaskan bahwa kayu-kayu besar itu bahkan sampai masuk ke dalam rumah warga.

Selain di rumah-rumah warga, gelondongan kayu juga terlihat di Jembatan Aek Garoga, Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan. Kayu-kayu tersebut tampak menumpuk di sungai, menunjukkan betapa parahnya situasi yang terjadi.

Dugaan Eksploitasi Hutan

Menurut Manajer Riset Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sumatera Barat, Andre Bustamar, fenomena gelondongan kayu yang hanyut menunjukkan adanya aktivitas penebangan di kawasan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS). Ia menyatakan bahwa hal ini memperkuat dugaan bahwa praktik eksploitasi hutan masih berlangsung dan menjadi penyebab langsung meningkatnya risiko bencana ekologis.

Andre menjelaskan bahwa penyebab bencana di Sumatera Barat adalah akumulasi krisis lingkungan karena gagalnya pemerintah dalam pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA). Ia menyoroti deforestasi, pertambangan emas ilegal, dan lemahnya penegakan hukum sebagai faktor utama mengapa daerah tersebut terus menghadapi bencana ekologis.

Direktur Eksekutif Walhi, Riandra, menambahkan bahwa wilayah yang paling parah terdampak gelondongan kayu adalah Tapanuli Tengah, Sibolga, dan Tapanuli Selatan. Ketiga wilayah tersebut memiliki hulu di ekosistem Batang Toru. Dalam delapan tahun terakhir, Walhi Sumut telah secara terus-menerus mengkritik model pengelolaan Batang Toru, termasuk proyek PLTA Batang Toru.

Selain itu, pertambangan emas yang berada tepat di Sungai Batang Toru juga menjadi perhatian. Aktivitas industri ini dikhawatirkan memutus habitat orang utan dan harimau serta merusak badan-badan sungai. Aliran sungai yang selama ini menjadi daya dukung dan daya tampung lingkungan juga terganggu.

Aktivitas Kemitraan Kebun Kayu

Riandra juga menyampaikan bahwa aktivitas serupa ditemui di desa-desa lain di kecamatan Sipirok. Misalnya, ada aktivitas kemitraan kebun kayu dengan sebuah PT dengan inisial TPL. Desa-desa lain di kecamatan Sipirok juga memiliki aktivitas kemitraan kebun kayu dengan PT TPL yang akhirnya mengalihfungsikan hutan.

Semua aktivitas eksploitasi ini dilegalisasi oleh pemerintah melalui proses pelepasan kawasan hutan untuk izin melalui revisi tata ruang.

Penjelasan dari Kemenhut

Sementara itu, Direktur Jenderal Penegakan Hukum (Dirjen Gakkum) Kehutanan Kemenhut, Dwi Januanto Nugroho, menduga bahwa gelondongan kayu di banjir Sumatera merupakan kayu-kayu bekas yang sudah lapuk. Ia menyatakan bahwa kayu-kayu itu diduga milik pemegang hak atas tanah atau PHAT yang berada di areal penggunaan lain (APL).

Secara visual, kayu-kayu itu tampak seperti hasil tebangan yang sudah lama. Dwi menyatakan bahwa pihaknya kerap melakukan operasi membongkar modus operandi pencurian kayu ilegal hasil pembalakan liar melalui PHAT. Beberapa kasus ditemukan di sejumlah wilayah, seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Meskipun demikian, Dwi mengatakan bahwa pihaknya masih akan mengecek untuk memastikan kepastian asal-usul gelondongan kayu tersebut. Ia menegaskan bahwa akses masih sulit, namun pihaknya tetap sinyalir bahwa kayu-kayu tersebut berasal dari PHAT.

Data Bencana Banjir di Sumatera dan Aceh

Sebagai informasi, bencana banjir di tiga provinsi, Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat telah menewaskan setidaknya 708 jiwa, sesuai data BNPB per Selasa (2/12/2025). Sedikitnya 499 jiwa masih dilaporkan hilang.

Wilayah yang paling terdampak banjir bandang di Sumatera dan Aceh adalah Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Sibolga, dan Tapanuli Utara. Situasi ini menunjukkan betapa pentingnya upaya pengelolaan lingkungan dan mitigasi bencana.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan