Teman Kantor, Keluarga Kedua atau Hanya Rekan Kerja?

Perjalanan Kehidupan di Dunia Kerja

Saya selalu tertawa setiap kali mendengar seseorang berkata, "Teman kantor itu keluarga kedua." Kalimat ini terdengar manis, tetapi sering digunakan seperti poster motivasi murahan di ruang rapat. Meskipun semua orang melihatnya, tidak ada yang benar-benar mempercayainya. Bagi saya, yang terakhir bekerja di kantor adalah pada tahun 2020, masa ketika masker lebih penting daripada struktur organisasi. Setelah pandemi menggulung dan saya ikut terseret arus pemutusan hubungan kerja, kehidupan saya berubah total menjadi bekerja dari rumah. Kantor hilang, ruangan hilang, bahkan istilah "jam pulang kantor" juga hilang entah ke mana. Yang tersisa hanya laptop, jaringan internet yang kadang tidak stabil, dan kesadaran bahwa hidup tetap berjalan meski tidak ada absensi sidik jari.

Pertanyaan tentang Teman Kantor

Jadi ketika ada pertanyaan, "Menurutmu teman kantor itu keluarga kedua atau cuma orang yang kebetulan satu ruangan?" saya hanya bisa tersenyum. Sejujurnya, kebanyakan teman kantor itu ya memang kebetulan satu ruangan. Bukan keluarga, bukan sahabat, kadang bahkan bukan teman, lebih kayak aktor figuran yang kebetulan lewat di latar belakang hidup kita.

Mari jujur sedikit. Dulu, waktu saya masih bekerja di kantor, hubungan antar karyawan ya begitu. Ramah tapi standar. Dekat tapi nggak dekat. Sering ketawa bareng tapi tidak pernah benar-benar tahu isi hidup satu sama lain. Dan kalau ada yang bilang mereka seperti keluarga? Nope.

Pencarian Definisi Keluarga yang Lebih Jujur

Ada sih satu-dua orang yang benar-benar asyik. Yang kalau ngobrol bisa nyambung, yang humor-nya klik, yang vibe-nya manusia normal. Tapi tetap saja, dekatnya sebatas jam kerja. Pulang kantor? Ya bubar. Tamat. Tidak ada sesi after-hours berbagi rahasia gelap atau curhat eksistensial.

Lalu pandemi datang, kantor lenyap, dan tiba-tiba saya menemukan definisi yang lebih jujur tentang "keluarga". Mereka adalah yang tidak perlu saya jadikan backup plan kalau server kantor down. Mereka yang keberadaannya tidak bergantung pada jam rapat. Mereka yang tetap ada meski saya tidak lagi punya kantor. Mereka adalah keluarga betulan, yang berada di rumah.

Pengalaman Bekerja Remote

Ironisnya, sejak saya bekerja remote, hubungan dengan rekan kerja malah terasa lebih manusiawi. Tidak ada politik meja. Tidak ada bisik-bisik ruangan. Tidak ada drama seatmate yang terlalu sering menyalakan notifikasi Telegram. Semua serba to the point. Kalau kerja ya kerja. Kalau cocok ya ngobrol. Kalau nggak cocok? Tidak usah pura-pura. Bukan wajib ketemu tiap hari, kan? Ya mungkin ada sih yang masih bermental kantoran dengan lagak jilat sana sini, tapi berhubung tidak perlu ketemu di kantor tiap hari, why should I care? Just block 'em. No hard feeling, dude!

Hubungan yang Lebih Natural

Ada kok beberapa rekan remote yang akhirnya saya temui ketika sedang mampir ke kota mereka. Dan rasanya? Menyenangkan. Natural. Tidak ada basa-basi palsu. Tidak ada formalitas kantor yang memaksa kita untuk terlihat akrab padahal dalam hati ingin cepat pulang. Kedekatan seperti itu justru terasa lebih tulus, justru karena tidak dipaksa ruangan.

Apakah Mereka Keluarga Kedua?

Tapi apakah mereka keluarga kedua? Hm... Tidak juga. Saya tidak sedang membagi label keluarga seperti stiker di buku tulis. Keluarga itu cukup satu, dan posisinya tidak pernah saya limpahkan ke orang yang sistem komunikasinya bergantung pada sinyal internet.

Pengalaman Bertahun-Tahun di Kantor

Sebaliknya, pengalaman bertahun-tahun ngantor justru mengajarkan bahwa beberapa "teman kantor" itu bahkan tidak layak jadi "keluarga kedua", bahkan kadang tidak layak jadi teman nongkrong kalau bukan karena sistem absensi memaksa kita satu ruangan delapan jam sehari. Tentu ada yang menyenangkan, tapi ada juga yang kalau tidak satu kantor, mungkin tidak akan pernah saya ajak bicara.

Penutup

Jadi, apa itu teman kantor buat saya sekarang? Mereka adalah rekan perjalanan profesional. Ada yang sekadar lewat, ada yang mampir sebentar, ada yang tetap tinggal sebagai kontak WhatsApp yang jarang dibuka. Tidak buruk, tidak istimewa, tidak perlu dibesar-besarkan.

Dan terus terang, saya jauh lebih bahagia dengan hidup sekarang: bekerja dari rumah, dekat dengan keluarga sungguhan, dan tidak perlu pura-pura "keluarga" dengan orang yang sebenarnya cuma kebetulan duduk di satu ruangan. Kalau ada yang masih yakin teman kantor itu keluarga kedua, silakan. Tapi buat saya? Keluarga tidak butuh di-subtitusi. Dan kantor tidak pernah punya pangkat setinggi itu di hidup saya.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan