Temuan Mortir dan Kisah Perang Kemerdekaan di Batujajar Bandung Barat

Penemuan Mortir di Batujajar, Bukti Sejarah Perjuangan Kemerdekaan

Di wilayah Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, seringkali ditemukan benda-benda berupa mortir yang diduga merupakan peninggalan dari masa Perang Kemerdekaan. Temuan ini tidak hanya menjadi bukti sejarah, tetapi juga mengingatkan masyarakat akan peran penting daerah ini dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Pada tahun 2025, sudah tiga kali Kapolsek Batujajar AKP Asep Saepuloh, S.H menemukan mortir di wilayah hukumnya. Kejadian terakhir terjadi pada Rabu (17/12/2025), saat sebuah mortir ditemukan di sebidang tanah milik warga bernama Hadi di Blok Sukamaju, RT 05 RW 12, Desa Batujajar Barat. Sang pemilik tanah kemudian melaporkan temuan tersebut ke Polsek pada Kamis (18/12/2025).

Penemuan tersebut terjadi secara tidak sengaja. Hadi awalnya sedang menggali tanah untuk menanam pohon pisang. Tiba-tiba ia menemukan benda asing berbentuk besi bulat lonjong. Awalnya ia mengira benda itu hanya besi rongsok. Namun, keraguan muncul dari warga sekitar yang menganggap benda tersebut menyerupai amunisi. Akhirnya, penemuan dilaporkan kepada Ketua RT dan berlanjut ke Bhabinkamtibmas Desa Batujajar Barat. Laporan akhirnya diteruskan ke piket fungsi Polsek Batujajar.

Setelah dilakukan pengecekan, benda asing tersebut ternyata adalah amunisi jenis mortir dengan bahan logam/besi berkarat. Bentuknya bulat lonjong berekor dengan diameter 60 milimeter dan panjang sekitar 20 sentimeter. Karena dikhawatirkan masih aktif dan lokasi penemuan dekat perumahan, mortir tersebut dimusnahkan oleh Tim Penjinak Bahan Peledak (Jihandak) Detasemen Gegana Sat Brimobda Polda Jabar.

Asep Saepuloh menyebutkan bahwa ada kesamaan dalam penemuan mortir tersebut dengan kasus-kasus sebelumnya. "Hampir semua penemuan terjadi di wilayah Sukamaju," ujarnya dalam sambungan telepon, Senin (22/12/2025).

Batujajar sebagai Palagan Perjuangan

Mengapa mortir sering ditemukan di Batujajar? Jika melihat dokumen-dokumen lama, Batujajar memang salah satu lokasi yang sempat menjadi tempat berlangsungnya pertempuran selama Perang Kemerdekaan. Serangan mortir antara pasukan Belanda dan pejuang kemerdekaan terjadi di sini.

Pada masa itu, kedudukan pasukan Belanda dan pejuang hanya dipisahkan oleh Sungai Citarum. Belanda bermarkas di Batujajar, sementara para pejuang berada di seberang sungai, yakni wilayah Cililin. Dalam bukunya Sanul Daca: Pengalaman Pribadi Letjen (Pur) Soegih Arto, mantan komandan Batalyon 22 Divisi Siliwangi ini mencatat bahwa pasukan Belanda jarang menyeberang Citarum untuk menyerang posisi mereka di Cililin.

"Dan hanya sekali-kali menembakan mortir ke daerah kami. Saya kira hanya sekadar pemberitahuan bahwa mereka masih ada di Batujajar," tulis Soegih. Namun, bukan hanya pasukan Belanda yang melontarkan mortir. Para pejuang juga melakukan hal serupa.

R.J. Rusady W, salah satu pejuang dari Batalyon 33 Resimen Sukapura, pernah menembakkan mortir saat kompinya ditugaskan di sepanjang Citarum wilayah Cililin, Patrol, Cihampelas, dan Cipatik. Dalam bukunya Tiada Berita Dari Bandung Timur 1945-1947, ia menceritakan pengalamannya saat menembakkan babymortar mendatar dari paha, yang membuat pahanya bengkak selama sebulan.

Selain itu, Belanda juga menggunakan pesawat udara untuk mengincar Soegih Arto. Saat itu, Soegih bersama Komandan Kompi 2 Letnan Udaka menaiki mobil menuju Gununghalu. Ketika kendaraan tersebut berada di atas jembatan, pesawat Belanda menghujani mereka dengan peluru. Mereka selamat karena berlindung di bawah jembatan, meski mobil mereka rusak akibat serangan udara tersebut.

Sejarah Militer Batujajar

Batujajar pada masa kolonial Belanda dikenal sebagai lokasi militer. Dalam catatan buku berbahasa Belanda pada 1915, Aardrijkskunde van Nederlandsch-Indië voor de hoogste klassen der lagere school met vele vragen en opgaven, Batujajar disebut sebagai lokasi latihan tahunan penembakan artileri gunung.

Fasilitas latihan militer serta berbagai kelengkapannya di Batujajar diduga terkait dengan pemusatan instansi-instansi militer Hindia Belanda secara bertahap ke Bandung pada 1895-1918. Wilayah militer kala itu dibangun di Cimahi, Batujajar hingga Cipatat. Batalyon artileri gunung juga ditempatkan di Batujajar, seperti tertulis dalam warta koran berbahasa Belanda Soerabaijasch Handelsblad pada 11 April 1938.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan