
TNI Berperan dalam Pembangunan Jembatan di Wilayah Terdampak Bencana
TNI (Tentara Nasional Indonesia) memiliki peran penting dalam pembangunan jembatan di wilayah yang terdampak bencana, khususnya di Aceh, Sumatra Utara (Sumut), dan Sumatra Barat (Sumbar). Hal ini dilakukan untuk memulihkan akses masyarakat yang terputus akibat banjir dan longsor. Dalam penanganan bencana tersebut, TNI menunjukkan dedikasi tinggi dengan membangun jembatan Bailey yang merupakan jenis jembatan rangka baja prefabrikasi portable yang mudah dirakit dan dibongkar.
Peran TNI dalam Penanggulangan Bencana
Unsur pengarah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jonathan Victor Rembeth, mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penanganan bencana, termasuk TNI. Menurut Victor, TNI sangat membantu dalam pembangunan jembatan-jembatan Bailey yang menjadi kunci pemulihan akses masyarakat. Ia menyatakan bahwa tanpa bantuan TNI, proses pemulihan akan sangat sulit.
Panglima TNI, Jenderal Agus Subiyanto, menjelaskan bahwa sebanyak 37.910 personel TNI dikerahkan untuk membangun 32 jembatan Bailey di tiga provinsi tersebut. Jembatan Bailey sendiri adalah jenis jembatan darurat yang kokoh, dikembangkan oleh militer Inggris pada Perang Dunia II untuk kebutuhan menyeberangkan peralatan militer.
Selain itu, Victor juga menegaskan bahwa dalam Undang-undang TNI telah diatur terkait tanggung jawab TNI di luar perang. TNI fokus pada tugas-tugas non-tempur seperti penanggulangan bencana alam, bantuan kemanusiaan, pengamanan wilayah perbatasan, serta membantu tugas kepolisian. Undang-undang ini bertujuan memperkuat peran strategis TNI dalam menjaga stabilitas nasional.
Kondisi Lapangan yang Menantang
Victor mengaku melihat para tentara hanya bisa tidur 1 hingga 2 jam saja demi membantu pembangunan jembatan. Ia menyebutkan bahwa seluruh personel bekerja secara optimal, baik dalam logistik maupun konstruksi jembatan. "Orang-orang hebat semua," ujarnya.
Selain itu, Victor juga berterima kasih atas bantuan Rp10,3 miliar yang telah dikumpulkan dan disalurkan oleh publik figur Ferry Irwandi dari hasil donasi untuk korban banjir dan longsor Sumatra.
Dana Swadaya dan Utang dalam Pembangunan Jembatan
Namun, di sisi lain, ternyata TNI membangun jembatan darurat di wilayah Sumatra masih menggunakan dana swadaya atau utang, bukan dari uang pemerintah. Dana swadaya adalah dana yang dihimpun secara mandiri dari masyarakat setempat melalui iuran sukarela atau gotong royong.
Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak menjelaskan bahwa sistem keuangannya belum jelas. "Kita swadaya semua ini," katanya. Proses pembangunan jembatan membutuhkan survei lokasi untuk menentukan jenis jembatan yang tepat. Setelah itu, pengadaan material menjadi tantangan karena seluruh perlengkapan jembatan harus dicari di Jakarta, kemudian dikirim ke Aceh. Namun, kondisi jalan yang rusak akibat bencana sering menghambat distribusi.
Maruli menyebutkan bahwa hingga saat ini, 22 jembatan Bailey sudah dikerahkan di seluruh lokasi bencana, ditambah 14 dari PU. Selain Bailey, TNI AD juga menyiapkan jembatan Armco. Ada 39 unit Armco yang telah didata di Aceh dan seluruh perlengkapannya sudah disiapkan. Survei pembangunan jembatan gantung terus berjalan, dengan sebagian material harus dibeli langsung.
Masalah Anggaran dan Keterbatasan
Di tengah keterbatasan anggaran, Maruli menyampaikan bahwa pihaknya masih mengandalkan dana swadaya untuk menopang operasional di lapangan. Ia menyatakan bahwa hingga pertengahan bulan depan kondisi masih bisa ditangani, tetapi setelah itu menjadi tantangan tersendiri.
Untuk mempercepat pemulihan, pihaknya mengumpulkan seluruh jembatan Bailey dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Pulau Jawa, Lampung, hingga Kalimantan Timur. Pengadaan jembatan Armco pun dilakukan secara maksimal dengan memborong produksi pabrik. Bahkan, proses tersebut masih dilakukan dengan sistem utang.
Tanggung Jawab Menteri Keuangan
Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, mengaku baru tahu bahwa Maruli punya utang untuk membangun jembatan pasca bencana di wilayah Sumatra. Ia menjelaskan bahwa pemerintah sudah menyiapkan Dana Siap Pakai (DSP) dan Dana Cadangan Bencana. "Sekarang masih ada sisa siap pakai Rp1,51 triliun, jadi kalau besok atau hari ini BNPB bisa mengajukan ke kami untuk pembayaran utang jembatan, besok bisa cair," ujarnya.
Purbaya menegaskan bahwa uangnya ada, tinggal dipercepat agar tidak habis tahun ini. "Jangan sampai tahun depan, kalau tahun depan anggarannya beda lagi. Saya nggak mau habis, hangus tahun ini, tahun depan jadi berkurang."
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar