
Tepuk Sakinah: Metode Baru dalam Bimbingan Perkawinan
JAKARTA – Apakah kalian pernah mengenal yel-yel yang dilakukan dengan gerakan tepukan? Seperti tepuk pramuka, tepuk semangat, atau tepuk anak pintar. Yel-yel ini biasanya dilakukan oleh anak-anak dan menjadi bagian dari masa kecil kita. Namun, apa jadinya jika hal tersebut dijadikan syarat untuk dilakukan sebelum pernikahan?
Ya, guys! Kali ini, yel-yel yang biasa digunakan oleh anak-anak juga diterapkan oleh orang dewasa sebelum melakukan pernikahan. Inilah yang disebut sebagai “Tepuk Sakinah”. Bahkan, metode ini dibuat langsung oleh Kantor Urusan Agama (KUA), lembaga pemerintahan yang mengurus hal-hal mengenai syarat wajib pernikahan.
Sejak viralnya Tepuk Sakinah pada akhir September 2025, banyak menuai kontra dari publik, terutama Gen Z. Salah satu anggota Gen Z, Via (20 tahun), merasa heran dengan adanya Tepuk Sakinah ini.
“Pertama kali mendengar dan melihatnya, aku bingung. Aku merasa seperti tidak penting,” ujar Via. Ia pun bertanya-tanya apakah Tepuk Sakinah ini wajib dilakukan dan apa manfaatnya.
Penjelasan dari Sigit, Humas Kementerian Agama RI
Menanggapi hal ini, Sigit selaku Humas Kementerian Agama RI menjelaskan bahwa Tepuk Sakinah adalah salah satu metode ice breaking dalam pelaksanaan bimbingan perkawinan (Bimwin). Menurutnya, Tepuk Sakinah bukan hanya sekadar gimik, tetapi memiliki makna terkait pilar keluarga sakinah yang terkandung di dalamnya.
“Hal terpenting yang harus diketahui adalah pengetahuan terkait pilar keluarga sakinah yang terkandung di dalam ‘Tepuk Sakinah’. Alih-alih terjebak dalam gimik tepuk sakinah itu sendiri, Gen Z diharapkan fokus pada substansi pesan-pesan yang ingin disampaikan mengenai 5 pilar keluarga sakinah,” kata Sigit.
Adapun 5 pilar keluarga sakinah yang wajib diketahui adalah:
- Zawaj (Berpasangan): Konsep pernikahan yang sah dan tercatat.
- Mitsaqan Ghalidzan (Janji Kokoh): Janji suci pernikahan yang harus dijaga dan dipegang teguh.
- Mu'asyarah Bil Ma'ruf (Saling Berbuat Baik): Interaksi yang dilandasi cinta, hormat, saling menjaga, dan berbuat baik satu sama lain.
- Musyawarah: Pentingnya musyawarah atau diskusi dalam menyelesaikan masalah rumah tangga.
- Taradhin (Saling Rela dan Menyenangkan): Saling menerima, merelakan, dan menjaga kerelaan hati dalam rumah tangga.
Manfaat Tepuk Sakinah
Setelah mengetahui bahwa Tepuk Sakinah memiliki makna dan manfaat, ada pertanyaan lagi: apakah Tepuk Sakinah ini wajib dilakukan?
Sigit menjelaskan bahwa Tepuk Sakinah tidak wajib dihafalkan atau dilafalkan saat pernikahan. Tepuk Sakinah hanya menjadi media ice breaking atau alat bantu interaktif dalam acara bimbingan perkawinan di KUA untuk memudahkan calon pengantin memahami lima pilar keluarga sakinah dengan cara yang lebih ringan dan menyenangkan.
Menurut Sigit, pendekatan top of mind dan sing-along membuat pemahaman tentang pilar keluarga sakinah lebih melekat. Penjelasan dan eksplorasi lebih lanjut dari pilar keluarga sakinah tetap dapat dibahas dalam sesi Bimwin.
Kesimpulan
Dengan adanya Tepuk Sakinah, KUA berupaya membantu para calon pengantin memahami pilar-pilar keluarga sakinah dengan cara yang lebih relevan dan menarik. Meskipun awalnya terkesan tidak serius, ternyata Tepuk Sakinah memiliki makna yang dalam dan tujuan yang baik.
Gen Z mungkin tidak suka baca, apalagi soal masalah yang rumit. Namun, melalui pendekatan yang lebih fun dan interaktif, diharapkan mereka dapat memahami pentingnya pilar-pilar keluarga sakinah sebagai bekal dalam pernikahan. Jadi, ternyata KUA sangat peduli terhadap calon pengantin, dan mereka memikirkan cara yang lebih ringan agar para calon pengantin bisa memahami nilai-nilai penting dalam pernikahan.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar