
Pengalaman Teror yang Dialami Virdian Aurellio
Virdian Aurellio, seorang pemengaruh, mengalami sejumlah rangkaian teror setelah kembali dari misi kemanusiaan di Aceh. Teror tersebut mulai dari serangan digital hingga perusakan mobil oleh orang tak dikenal. Ia mengungkapkan bahwa rencananya akan melapor ke pihak kepolisian, namun saat ini masih dalam diskusi dengan kuasa hukumnya.
Perusakan mobil terjadi pada Senin dini hari, 22 Desember 2025. Virdian menyebutkan bahwa kaca mobilnya dipecahkan menggunakan batu oleh sejumlah orang. Menurutnya, para pelaku tidak hanya berniat merusak mobil, tetapi juga mencuri beberapa tas yang ada di dalam kendaraan tersebut. Informasi ini ia dapatkan dari penuturan tukang parkir yang melihat para pelaku berusaha membuka pintu mobil.
Sebelum kejadian tersebut, Virdian sempat mengalami serangan digital. Pada pertengahan Desember 2025, informasi pribadinya disebarkan di media sosial melalui praktik doxxing. Selain itu, ia juga menerima fitnah. Banyak akun di berbagai platform media sosial berusaha merusak reputasinya dengan menyebarkan kabar palsu bahwa dirinya memiliki usaha sawit, padahal hal tersebut tidak benar.
Selain itu, Virdian mengaku ponselnya hampir disadap oleh orang tak dikenal. Tidak hanya dirinya, keluarga dan rekan dekatnya juga mengalami hal serupa. Ia menilai bahwa semua kejadian ini terjadi setelah pulang dari misi kemanusiaan di Aceh. Di sana, ia bersama beberapa relawan membagikan bantuan kepada warga yang terdampak banjir dan longsor. Selama berada di Aceh, Virdian juga membagikan informasi terkini dari tempat pengungsian melalui media sosialnya.
Teror yang Menimpa Aktivis Lain
Belakangan ini, rangkaian teror juga dialami oleh sejumlah aktivis dan pemengaruh lain yang menyuarakan isu bencana di Sumatera. Salah satu contohnya adalah DJ Donny, seorang musisi asal Aceh. Ia mengaku menerima kiriman bangkai ayam dan surat ancaman. Orang tak dikenal juga melemparkan bom molotov ke rumahnya.
Selain DJ Donny, Sherly Annavita, seorang pemengaruh asal Aceh, juga mengalami teror. Ia menerima kiriman sekantung telur busuk dan mengalami vandalisme pada mobilnya. Rumah Manajer Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Iqbal Damanik, juga menerima kiriman bangkai ayam beserta pesan ancaman. Teror terhadap Iqbal diduga berkaitan dengan aktivitasnya sebagai pengampanye Greenpeace, terutama terkait kritik atas kinerja pemerintah dalam menangani bencana di Sumatra.
Serangan digital juga menargetkan aktor Yama Carlos. Ia mengaku menerima teror setelah mengunggah video satir mengenai situasi bencana di Sumatra. Bentuk intimidasi yang ia terima antara lain pesan ancaman melalui WhatsApp, perintah untuk menghapus konten, serta paket cash on delivery (COD) fiktif yang dikirim ke alamatnya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar