
Teror terhadap Aktivis dan Pengaruh Media Sosial di Sumatera
Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, menyatakan bahwa rentetan teror yang menimpa aktivis maupun pengaruh media sosial memiliki kesamaan. Menurutnya, serangkaian tindakan teror tersebut ditujukan untuk membungkam warga negara yang mengkritik kinerja pemerintah dalam menangani bencana ekologis di Sumatera.
"Teror bangkai ayam, pelemparan telur busuk, vandalisme, hingga serangan bom molotov dan serangan digital adalah upaya sistematis untuk menciptakan iklim ketakutan," kata Usman dalam pernyataannya pada Kamis, 1 Januari 2026.
Menurut Usman, rentetan teror terhadap masyarakat sipil bukan sekadar kasus kriminal biasa. Ia menilai tindakan-tindakan ini merupakan bentuk pelanggaran terhadap kemerdekaan berpendapat yang seharusnya dijamin oleh konstitusi. "Kritik yang lahir dari solidaritas kemanusiaan dan semangat perbaikan justru dibalas intimidasi fisik dan digital," ujarnya.
Aktivis yang terlibat dalam peristiwa 1998 ini menilai bahwa negara belum memiliki kewibawaan hukum untuk mengusut rentetan peristiwa teror yang dialami aktivis dan influencer. Hal ini membuat orang tertentu merasa nyaman melakukan teror baik secara fisik maupun digital tanpa takut pada hukum. "Jika teror berlalu tanpa pengusutan, negara secara tidak langsung merestui praktik anti-kritik," katanya.
Sebelumnya, aktivis dan sejumlah pemengaruh mendapatkan ancaman di akhir tahun. Salah satu contohnya adalah DJ Donny, seorang musisi asal Aceh, yang mengaku menerima kiriman bangkai ayam dan surat ancaman. Rumahnya juga dilempari bom molotov oleh orang tak dikenal.
Selain Donny, Sherly Annavita, seorang pemengaruh asal Aceh, mengaku dikirimi sekantung telur busuk dan mengalami tindakan vandalisme di mobilnya. Tidak hanya itu, rumah Iqbal Damanik, Manajer Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, juga dikirim bangkai ayam beserta pesan bernada ancaman. Teror terhadap Iqbal diduga berkaitan dengan kerja-kerja yang dilakukannya sebagai pengkampanye Greenpeace, khususnya terkait kritik terhadap kinerja pemerintah dalam menangani bencana Sumatera.
Serangan Digital yang Menyasar Kreator Konten
Teror tidak hanya terjadi secara fisik, tetapi juga di dunia maya. Virdian Aurellio, seorang kreator konten, mengalami serangan digital setelah rutin mengunggah kondisi pascabencana di Aceh. Akun WhatsApp adiknya diduga diretas dan digunakan untuk mengirim konten pornografi ke sejumlah grup.
Selain itu, ada upaya pengambilalihan akun terhadap anggota keluarga lainnya serta pesan-pesan yang mendiskreditkan Virdian yang dikirim ke kerabatnya dari nomor tak dikenal. Teror serangan digital juga menyasar seorang aktor bernama Yama Carlos. Dia mengaku mendapat teror setelah mengunggah video satir soal situasi bencana Sumatera. Bentuk intimidasi yang diterima antara lain pesan WhatsApp ancaman, perintah menghapus konten, serta paket cash on delivery (COD) fiktif yang dikirim ke alamatnya.
Pernyataan Menteri HAM
Menteri Hak Asasi Manusia, Natalius Pigai, berdalih belum mengetahui ada teror yang menyerang keamanan warga. "Saya sendiri belum tahu. Jadi bagaimana saya percaya mereka diteror? Oleh siapa? Karena apa?" kata dia dalam pesan singkat, Rabu, 31 Desember 2025.
Hendrik Yaputra berkontribusi dalam penulisan artikel ini.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar