Tersisa Satu Titik Pemasangan Jembatan Bailey di Padang Pariaman


JAKARTA, nurulamin.pro
- Pemasangan jembatan bailey di Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) kini tinggal menyisakan satu titik yaitu Jembatan Padang Mantuang di Kabupaten Padang Pariaman.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari, mengungkapkan bahwa progres pemasangan jembatan bailey tersebut telah mencapai 75 persen.

"Kita harapkan dalam 2-3 hari ke depan ini juga bisa 100 persen selesai. Sehingga, bisa dimanfaatkan oleh masyarakat," ujar Abdul dalam konferensi pers bersama Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh Taufik pada siaran langsung YouTube BNPB Indonesia, Senin (15/12/2025).

Sementara itu, pemasangan jembatan bailey Sikabau di Pasaman Barat, serta Bawah Kubang dan Supayang yang masing-masing berada di Solok, saat ini progresnya sudah selesai atau tembus 100 persen sejak 13 Desember 2025 silam.

Sejarah Jembatan Bailey

Jembatan ini biasanya dibangun terutama pasca-bencana sebagai pengganti jembatan penghubung yang putus. Secara definitif, Jembatan Bailey dapat diartikan sebagai jembatan rangka baja ringan berkualitas tinggi.

Jembatan ini memiliki sifat movable (mudah untuk dipindahkan) dan umumnya digunakan sebagai jembatan darurat bersifat sederhana.

Jembatan Bailey dikembangkan sejak tahun 1940 oleh Sir Donald Bailey untuk keperluan militer. Ia merupakan pegawai negeri sipil di Kantor Perang Inggris dengan hobi dan kesehariannya adalah membuat konsep model jembatan.

Dirinya pun pernah mengusulkan prototipe awal untuk jembatan Bailey sebelum Perang Dunia II pada tahun 1936, sayangnya usulan Donald ditolak. Tak menyerah sampai di situ, pada tahun 1940, Bailey kemudian kembali membuat proposal asli untuk pembuatan jembatan pada tahun 1940. Kali ini, usahanya berhasil.

Pada 14 Februari 1941, Departemen Pasokan meminta Bailey membuat prototipe skala penuh yang diselesaikan pada 1 Mei 194 Pekerjaan pembuatan Jembatan Bailey diselesaikan dengan dukungan khusus dari Ralph Freeman.

Desain jembatan ini telah diuji di Experimental Bridging Establishment (EBE) di Christchurch, Hampshire, Inggris, dengan beberapa bagian dari Braithwaite & Co. Pengujiannya dilakukan sejak Desember 1940 dan berakhir tahun 1941. Prototipe pertama diuji tahun 1941.

Untuk pengujian awal, jembatan diletakkan di atas lapangan, sekitar 2 kaki (0,61 meter) di atas tanah, lalu beberapa tangki Mark V dipenuhi dengan besi kasar dan ditumpuk satu sama lain. Prototipe ini digunakan untuk merentang Saluran Mother Siller, yang memotong Marsp Stanpit terdekat, daerah rawa-rawa di pertemuan Sungai Avon dan Sungai Stour (50 ° 43′31 ″ N1 ° 45′44 ″ W).

Setelah melakukan serangkaian tes dan uji coba, Jembatan Biley akhirnya diproduksi secara massal pada Juli 1941. Ribuan pekerja dan lebih dari 650 perusahaan, termasuk perusahaan Littlewoods, terlibat dalam pembuatan jembatan, dengan produksi akhirnya meningkat menjadi 25.000 panel dalam sebulan.

Setelah pengembangan dan pengujiannya sukses, jembatan tersebut mulai digunakan Korps Insinyur Kerajaan dan pertama kali digunakan di Afrika Utara tahun 1942.

Fungsi dan Manfaat Jembatan Bailey

Sejarah mencatat Jembatan Bailey ini terbukti mudah digunakan dan menjadi solusi terutama untuk memenuhi kebutuhan akses jembatan di tengah kondisi mendesak dan darurat.

Kondisi darurat dimaksud seperti dalam keadaan perang militer, dan juga dalam keadaan darurat akibat bencana alam. Infrastruktur konektivitas ini sangat mudah untuk dirakit. Meskipun demikian, keamanan dan kualitanya dinilai bagus dan sudah teruji.

Terbukti, Jembatan Bailey yang umurnya sudah puluhan tahun sejak era Perang Dunia II tetap eksis dan masih digunakan hingga saat ini terutama pada saat terjadi darurat bencana alam.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan