
Persebaya Surabaya Mulai Mendekati Mantan Pelatih JDT
Persebaya Surabaya, yang saat ini masih berada di peringkat sembilan klasemen sementara Super League 2025/2026 dengan 18 poin, sedang menghadapi situasi yang cukup rumit. Hal ini terjadi setelah pelatih kepala Eduardo Perez dipecat pada 22 November 2025, sehingga memicu kebutuhan mendesak untuk menemukan sosok pelatih berpengalaman sebelum tenggat waktu registrasi resmi dari I.League tiba.
Regulasi I.League menyatakan bahwa klub harus melaporkan perubahan pelatih kepala maksimal tiga hari setelah kontrak diakhiri dan harus mendaftarkan pelatih baru selambat-lambatnya 30 hari setelah pemberitahuan. Mengacu pada perhitungan tersebut, tenggat jatuh pada 25 Desember 2025, sehingga Persebaya Surabaya harus segera bertindak.
Situasi ini membuat manajemen klub tidak punya pilihan selain memburu sosok pelatih yang siap bekerja dan memiliki rekam jejak kompetitif di level Asia Tenggara. Dalam jadwal Desember 2025, Persebaya Surabaya akan menjamu Borneo FC pada 20 Desember dan Persijap Jepara pada 28 Desember. Artinya, pelatih kepala idealnya sudah hadir sebelum laga kontra Persijap agar proses adaptasi berjalan mulus.
Kabar terbaru menyebutkan bahwa manajemen Persebaya Surabaya mulai mendekati mantan pelatih Johor Darul Ta’zim (JDT). Langkah ini menandakan ambisi besar klub untuk meningkatkan kualitas tim secara signifikan.
Reputasi JDT sebagai Klub Dominan di Asia Tenggara
Johor Darul Ta’zim memiliki reputasi luar biasa sebagai klub terbesar di Liga Malaysia dan menjadi dominator di kawasan Asia Tenggara dalam satu dekade terakhir. Dominasi ini lahir dari revolusi besar yang dimulai sejak HRH Tunku Mahkota Ismail mengambil alih klub pada 2013.
Transformasi JDT menghadirkan standar baru dalam manajemen, fasilitas, dan prestasi. Klub berjuluk Southern Tigers itu meraih sebelas gelar Malaysia Super League beruntun serta deretan trofi domestik lain yang membuat mereka menjadi ikon sepak bola modern di kawasan. Keseriusan JDT terlihat dari pembangunan stadion megah Sultan Ibrahim Stadium serta ambisi berkelanjutan di kompetisi Asia.
Lingkungan sepak bola yang sangat profesional membuat para pelatih yang pernah menangani JDT memiliki nilai plus tinggi di mata klub-klub lain. Persebaya Surabaya melihat pengalaman tersebut sebagai modal penting untuk mengangkat level permainan tim di putaran kedua.
Meniru Strategi Persib Bandung
Langkah Persebaya Surabaya ini juga seperti meniru strategi Persib Bandung yang sukses besar bersama Bojan Hodak. Hodak merupakan pelatih berlisensi UEFA Pro yang pernah menangani JDT pada periode 2014 hingga 2015. Bersama Persib, Hodak menjadi arsitek kebangkitan luar biasa yang menghadirkan gelar juara Liga Indonesia back to back.
Keberhasilan tersebut membuat klub-klub lain mulai melirik pelatih dengan karakter dan filosofi sejenis. Data karier Hodak menunjukkan dia memiliki basis taktik kuat dengan formasi favorit 4-3-3 defending dan rekam jejak sebagai pelatih dengan rata-rata poin 1,80 saat menukangi JDT.
Karakter permainan kompak dan efisien seperti ini dianggap cocok untuk klub dengan tekanan besar seperti Persebaya Surabaya. Manajemen ingin memastikan pelatih baru bukan sekadar nama, melainkan figur dengan pemahaman tata kelola modern seperti yang dimiliki JDT.
Kehadiran Pelatih dengan DNA Juara
Pengalaman mengelola pemain berstandar tinggi dan tuntutan kompetitif menjadi nilai tambah yang diharapkan bisa menular ke skuad Green Force. Persebaya Surabaya selama ini dikenal sebagai klub dengan talenta melimpah dan mereka membutuhkan figur yang mampu memaksimalkan potensi tersebut.
Tuntutan suporter yang besar juga menjadi faktor penting dalam penentuan pelatih baru. Persebaya Surabaya butuh sosok berkarakter kuat yang terbiasa menghadapi tekanan dan memiliki visi jangka panjang untuk membangun pondasi tim.
Situasi klasemen yang belum ideal membuat Persebaya Surabaya tak boleh salah memilih. Putaran kedua menjadi momentum penting agar posisi klub tidak semakin merosot sekaligus menjaga peluang bersaing di papan atas. Kedekatan dengan mantan pelatih JDT menjadi langkah yang dipandang realistis karena sesuai kebutuhan tim dan ambisi manajemen.
Pengalaman elite dan rekam jejak prestisius menjadi alasan terbesar mengapa Persebaya Surabaya sangat serius mempertimbangkannya. Waktu yang semakin sempit membuat keputusan harus segera diambil dalam beberapa pekan ke depan. Jika proses negosiasi berjalan lancar, pelatih baru bakal memimpin Persebaya Surabaya sebelum laga kontra Persijap Jepara.
Komitmen Persebaya Surabaya untuk Berubah
Langkah ini menandai komitmen Persebaya Surabaya untuk tidak setengah-setengah menghadapi putaran kedua kompetisi. Klub ingin memastikan skuad siap tampil lebih stabil dan punya identitas permainan yang lebih matang di bawah komando pelatih berpengalaman.
Pergerakan Persebaya Surabaya ini semakin menguatkan sinyal klub ingin berubah lebih cepat demi mengejar ketertinggalan. Meniru strategi Persib Bandung menjadi pilihan logis mengingat hasilnya terbukti efektif dan menghasilkan gelar bergengsi.
Kini semua mata tertuju pada keputusan akhir manajemen dalam beberapa hari ke depan. Jika benar mendatangkan mantan pelatih JDT, Persebaya Surabaya mengirim pesan tegas bahwa mereka siap bersaing lebih agresif di putaran kedua Super League 2025/2026.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar