
Kisah Mengejutkan Dewi Astutik, Dari Penjual Nasi Bungkus Hingga Gembong Narkoba Internasional
Dewi Astutik, yang kini menjadi sorotan sebagai gembong narkoba internasional, memiliki kisah hidup yang sangat berbeda dari apa yang diketahui oleh banyak orang. Awalnya, ia dikenal sebagai seorang penjual nasi bungkus di daerah asalnya, Ponorogo, Jawa Timur. Namun, kini namanya muncul dalam daftar buronan internasional setelah ditangkap oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) di Kamboja.
Jejak Keberadaan di Berbagai Negara
Dewi Astutik tidak hanya terlibat dalam perdagangan narkoba di Indonesia, tetapi juga menjalin jaringan dengan negara-negara lain seperti Korea Selatan dan wilayah-wilayah strategis seperti Golden Triangle dan Golden Crescent. Menurut informasi dari BNN, ia dikenal sebagai perekrut utama dalam jaringan perdagangan narkotika Asia-Afrika. Selain itu, Dewi juga masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) dari Korea Selatan.
Penangkapan Dewi Astutik dilakukan secara dramatis di lobi sebuah hotel di Sihanoukville, Kamboja. Proses ini merupakan hasil kerja sama antara BNN dengan Kepolisian Kamboja, KBRI Phnom Penh, Atase Pertahanan RI di Kamboja, serta Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI. Dewi ditangkap bersama seorang pria di area lobi hotel tersebut. Ia diduga terlibat dalam penyelundupan dua ton sabu senilai Rp5 triliun yang digagalkan pada Mei 2025.
Dari Penjual Nasi Bungkus ke Dunia Perdagangan Narkoba
Sosok Dewi Astutik awalnya tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan terlibat dalam dunia narkoba. Di Ponorogo, ia pernah pulang dan berjualan nasi bungkus. Menurut Kepala Dusun Tenun, Desa Broto, Kecamatan Slahung, Kabupaten Ponorogo, Didik Harirawan, Dewi tinggal di rumah orangtuanya saat kembali ke daerah tersebut. Ia juga pernah membuka pemancingan dan membantu dalam acara wayang reog.
Namun, kisah hidupnya berubah ketika ia bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI). Sarno, suami dari Dewi Astutik, mengungkap bahwa nama asli istrinya adalah Paryatin, bukan Dewi Astutik. Ia mengatakan bahwa istrinya bekerja ke luar negeri sebagai PMI sebelum menikah dengannya pada tahun 2009. Setelah menikah, mereka berangkat ke Taiwan pada tahun 2013.
Kehidupan yang Menyembunyikan Rahasia
Sarno mengaku syok dan tidak mengetahui sepak terjang istrinya sebagai gembong narkoba internasional. Menurutnya, istrinya selama ini hanya bekerja sebagai pembantu rumah tangga atau TKW. Ia mengaku tidak tahu apa-apa tentang aktivitas ilegal yang dilakukan istri dan keluarga besar mereka.
Setelah ditangkap, Dewi dibawa ke Phnom Penh untuk proses verifikasi identitas dan penyerahan resmi antarotoritas. Setibanya di Indonesia, ia akan menjalani pemeriksaan intensif guna mengungkap alur pendanaan, logistik, dan pihak-pihak yang terlibat dalam jaringan internasional.
Jaringan yang Luas dan Pengaruh Global
Berdasarkan data dari BNN, jaringan yang dikendalikan oleh Dewi Astutik mencakup berbagai jenis narkotika seperti kokain, sabu, dan ketamin. Jaringan ini beroperasi ke sejumlah negara di Asia Timur dan Asia Tenggara. Dewi juga diketahui terlibat dalam jaringan Golden Triangle dan Golden Crescent, yang dikenal sebagai pusat penghasil narkoba terbesar di dunia.
Selain Dewi, ada beberapa nama lain yang terlibat dalam jaringan ini, seperti Freddy Pratama. Mantan Kapolda Banten menjelaskan bahwa Dewi sulit ditangkap karena sering berpindah dari satu negara ke negara lain. Namun, akhirnya berhasil ditangkap atas kolaborasi lintas negara di Kamboja.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar