Pengalaman Pahit Korban Banjir Bandang di Bireuen
Banjir bandang yang terjadi di Kabupaten Bireuen pada akhir November lalu meninggalkan duka mendalam bagi warga setempat. Ratusan rumah dan fasilitas umum rusak parah, termasuk di Desa Ujong Blang, Kutablang. Seluruh bangunan di desa tersebut tertimbun lumpur, bahkan sepuluh unit rumah hilang tersapu arus.
Salah satu korban adalah Tgk Mahdi (66), seorang imam desa. Saat banjir menerjang, ia bersama keluarganya mencoba menyelamatkan diri ke lantai dua rumah kerabat di Cot Ara. Mereka bertahan selama dua hari dua malam tanpa makanan, hanya mengandalkan air hujan untuk bertahan hidup.
“Air mulai naik sekitar pukul 20.00 WIB, Rabu (26/11/2025). Awalnya hanya hujan deras dari Geulanggang Minje dan Pulo Reudeup, lalu meluap ke desa kami,” kata Tgk Mahdi. Menjelang tengah malam, air sudah setinggi lutut di dalam rumah.
Sekitar pukul 01.30 WIB, Kamis (27/11/2025), para pemuda desa melaporkan air sungai Krueng Peusangan mulai meluap ke jalan. Mahdi bersama keluarga segera mengungsi ke rumah kerabat di Cot Ara. Namun, kondisi di sana justru lebih parah. Air terus naik hingga sedada orang dewasa. Cucunya, Khansa Zahra (4), dimasukkan ke dalam ember besar agar aman.
Menjelang siang, keluarga Mahdi naik ke lantai dua menggunakan tangga dan bertahan di sana selama 2 x 24 jam. Pada hari ketiga, Jumat (28/11/2025), mereka mendapat bantuan roti dari keluarga. Susu untuk sang cucu diganti dengan air hujan. Sore harinya, warga diminta meninggalkan Cot Ara karena air belum surut. Mahdi dan keluarga akhirnya mengungsi ke posko bersama warga lain.
Rumah semi permanen miliknya yang berada di tepi Krueng Peusangan lenyap tersapu arus. “Rumah sudah tidak ada lagi, tempatnya kini menjadi aliran sungai,” ujarnya. Meski kehilangan tempat tinggal, Mahdi berusaha menenangkan keluarganya. “Ini ujian dari Allah. Bukan hanya kami, banyak warga lain mengalami hal serupa bahkan lebih parah. Kami dituntut sabar,” katanya.
Hingga kini, ia bersama keluarga masih bertahan di posko pengungsian. Menjelang pukul 16.30 WIB, datang mantan keuchik Rancong disampaikan warga Cot Ara, Rancong dan Ujong Blang jangan berada lagi di Cot Ara karena air semakin tinggi, harus keluar karena air belum surut. Mantan keuchik sudah koordinasi dengan warga lainnya agar menerima mereka.
Tgk Mahdi kemudian ikut serta keluarga ke seberang jalan dan ke posko pengungsian. Jawabannya tentang kondisi rumah, Tgk Mahdi mengatakan, saat bertahan di Cot Ara ia sudah ada informasinya banyak rumah di pinggir sungai hilang termasuk rumahnya. Rumah sudah tidak ada lagi, ia diam dan tidak ingin istrinya mengetahui takut trauma dan stress.
Beberapa hari kemudian, saat duduk di pengungsian istrinya mengajak pulang ke rumah, Tgk Mahdi mengabari mau pulang kemana, rumah semi permanen sudah tidak ada lagi. Mendengar rumah tidak ada lagi, istrinya dan anak-anaknya langsung menangis. “Semua menangis dan banyak warga menangis mengetahui informasi banyak rumah hilang,” ujarnya.
Tgk Mahdi masih mampu menenangkan keluarganya, musibah bukan saja dialami olehnya tapi banyak orang lain mengalami hal serupa dan lebih parah. Rumah sudah tidak ada lagi, tempatnya juga sudah menjadi sungai. “Semua sama ini ujian dari Allah, maka dituntut kesabaran dan selama 15 hari di posko sampai sekarang,” ujarnya.

Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar