PHNOM PENH, nurulamin.pro - Thailand dan Kamboja sepakat untuk gencatan senjata segera pada Sabtu (28/12/2025). Dalam pernyataan bersama kedua negara, Thailand dan Kamboja berjanji untuk mengakhiri bentrokan perbatasan mematikan yang telah berlangsung selama berminggu-minggu. "Kedua belah pihak sepakat untuk segera melakukan gencatan senjata setelah penandatanganan pernyataan bersama ini," bunyi pernyataan dari Komite Perbatasan Khusus yang dikeluarkan oleh pihak Kamboja, dikutip dari AFP, Sabtu. "Berlaku mulai pukul 12.00 siang (waktu setempat) pada tanggal 27 Desember 2025," lanjut pernyataan itu. Kesepakatan ini melibatkan semua jenis senjata, termasuk serangan terhadap warga sipil, objek dan infrastruktur sipil, serta sasaran militer dari kedua belah pihak, dalam semua kasus dan di semua wilayah. Konflik perbatasan ini berakar dari perselisihan lama terkait garis demarkasi warisan kolonial sepanjang 800 kilometer, dan kepemilikan sejumlah situs candi kuno yang berada di wilayah perbatasan. Perang Thailand-Kamboja terbaru pecah sejak 7 Desember 2025. Kedua pihak saling menuduh sebagai pemicu, sama-sama mengeklaim bahwa lawan menyerang wilayah sipil. Hingga kini, setidaknya 44 orang tewas dalam bentrokan di perbatasan, termasuk tentara dan warga sipil. Bentrokan juga menyebabkan sekitar 900.000 warga mengungsi. Kesepakatan gencatan senjata ini menyusul pertemuan para menteri luar negeri Asia Tenggara di Malaysia, Senin (22/12/2025) untuk menghentikan konflik Thailand-Kamboja. Thailand dan Kamboja kemudian bertemu dua kali untuk mencapai kesepakatan damai. Menteri Luar Negeri Thailand, Sihasak Phuangketkeow saat itu mengatakan, pertemuan mungkin tidak akan langsung menghasilkan gencatan senjata. "Posisi kami adalah gencatan senjata tidak datang dengan pengumuman, tetapi harus berasal dari tindakan," kata dia. Ia juga sempat menyinggung deklarasi bulan Oktober yang dilakukan terburu-buru. "AS menginginkan deklarasi itu ditandatangani tepat waktu sebelum kunjungan Presiden Trump," jelas dia. "Terkadang kita benar-benar perlu duduk bersama dan membahas berbagai hal secara mendalam agar hal-hal yang kita sepakati benar-benar berlaku dan dihormati," sambungnya.
Latar Belakang Konflik Perbatasan
Konflik antara Thailand dan Kamboja memiliki akar yang dalam dan kompleks. Perselisihan ini berawal dari garis demarkasi yang dibuat selama masa kolonial, yang masih menjadi sumber ketegangan hingga saat ini. Garis demarkasi sepanjang 800 kilometer ini sering menjadi titik perdebatan antara kedua negara, terutama terkait kepemilikan wilayah yang dianggap strategis atau bernilai sejarah.
Selain itu, beberapa situs candi kuno yang berada di wilayah perbatasan juga menjadi sumber perselisihan. Situs-situs ini memiliki nilai historis dan budaya yang tinggi bagi masing-masing negara, sehingga membuat masalah ini semakin rumit.
Puncak Konflik dan Dampaknya
Konflik terbaru antara Thailand dan Kamboja meletus pada 7 Desember 2025. Saat itu, kedua negara saling menyalahkan atas kekerasan yang terjadi di perbatasan. Mereka sama-sama menuduh pihak lain melakukan serangan terhadap wilayah sipil. Akibat dari konflik ini, setidaknya 44 orang tewas, termasuk tentara dan warga sipil. Selain korban jiwa, sekitar 900.000 warga juga terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka karena situasi yang tidak aman.
Upaya Damai dan Kesepakatan Gencatan Senjata
Pihak-pihak terkait mulai mengambil langkah-langkah untuk menghentikan konflik. Pertemuan para menteri luar negeri Asia Tenggara di Malaysia pada Senin (22/12/2025) menjadi awal dari upaya diplomasi yang lebih serius. Setelah pertemuan tersebut, Thailand dan Kamboja bertemu dua kali untuk mencapai kesepakatan damai.
Salah satu menteri luar negeri Thailand, Sihasak Phuangketkeow, menyampaikan pandangan tentang gencatan senjata. Menurutnya, kesepakatan seperti ini tidak bisa hanya diumumkan tanpa tindakan nyata. Ia menekankan pentingnya komunikasi yang mendalam antara kedua pihak agar kesepakatan benar-benar dapat diterapkan dan dihormati.
Penutup
Kesepakatan gencatan senjata yang diumumkan pada 28 Desember 2025 menjadi langkah penting dalam meredakan ketegangan antara Thailand dan Kamboja. Meskipun ada keraguan tentang efektivitasnya, kesepakatan ini memberikan harapan bahwa kedua negara dapat menyelesaikan masalah secara damai. Dengan menjaga komunikasi yang terbuka dan transparan, diharapkan konflik ini tidak lagi terulang di masa depan.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar