Pengalaman Dr. Tiah Ling dalam Membangun Sistem Perawatan Darurat di Mae Tao Clinic
Dr. Tiah Ling, seorang dokter darurat asal Singapura, memiliki pengalaman yang berharga dalam membangun sistem perawatan darurat di wilayah dengan sumber daya terbatas. Salah satu pengalamannya yang paling menonjol terjadi ketika ia bekerja di sebuah rumah sakit kecil di Ghana. Di sana, ia menghadapi pasien dengan kadar hemoglobin hanya 4 gram per desiliter, jauh di bawah tingkat normal sekitar 1114 gram/dL.
Kondisi ini membutuhkan transfusi darah darurat, tetapi rumah sakit tersebut tidak memiliki bank darah. Pasien juga tidak mampu membayar donor atau transfusi darah dari keluarga. Dengan tidak ada pilihan lain, Dr. Tiah memberikan suplemen zat besi oral, meskipun solusi ini jelas tidak memadai. Pengalaman ini mengajarkan bagaimana pentingnya sistem kesehatan yang dirancang dengan baik.

Ini sesuatu yang saya alami dengan baik di Singapura, katanya. Jika sistem di tingkat awal baik, maka hasil di lapangan pun bisa jauh lebih baik. Pengalaman ini juga memperkuat minatnya untuk memberikan layanan kesehatan di wilayah dengan sumber daya terbatas.
Ketika seorang teman memberitahu tentang klinik di kota perbatasan Thailand yang mencari konsultan teknis, ia langsung menerima tawaran itu. Ini tentang mengorganisasi Emergency Care Unit (ECU) di tempat mereka, kata Dr. Tiah, yang sejak 2023 mengawasi pembangunan dan perencanaan ECU di Mae Tao Clinic (MTC), distrik Mae Sot, Thailand.
Standar Baru Layanan Kesehatan Perbatasan
Sejak kudeta militer tahun 2021, jumlah pasien di MTC meningkat drastis. Kini, ada sekitar 130.000 konsultasi per tahun lebih dari dua kali lipat dibandingkan 2022 yang mencapai 50.000 konsultasi, menurut Kim Seong-min, manajer penggalangan dana MTC. Proyek ini sesuai dengan keahlian Dr. Tiah, terutama dalam perawatan darurat, yang memang menjadi bidangnya.
Saat Dr. Tiah tiba, proyek ECU masih kosong. MTC memiliki sistem pasokan dan staf, tetapi belum memiliki ruang khusus dan alur kerja untuk perawatan darurat kesenjangan yang ingin diisi proyek ini. Hal paling penting adalah mengetahui area kebutuhan mereka, katanya. Bagi MTC, ini berarti memperbaiki proses seperti efisiensi pengiriman pasien ke rumah sakit lain.
Sebelumnya, pasien kadang harus menunggu dua hari di bangsal sebelum ada yang menyadari bahwa mereka perlu dirujuk ke rumah sakit lebih besar. Tujuannya adalah memiliki tim dan ruang khusus yang terkoordinasi untuk menangani pasien darurat, tambah Dr. Tiah. Dengan tim ECU berisi dokter Myanmar yang menyeberang perbatasan, ia berharap waktu tunggu bisa dipangkas menjadi 23 jam.
Kekurangan Peralatan dan Solusi Inovatif
Dalam 30 tahun operasinya, MTC tidak pernah memiliki mesin X-ray untuk mendeteksi cedera internal. Sebagai gantinya, mereka menggunakan sekitar lima mesin ultrasound. Menurut Dr. Tiah, alat ini portabel dan bisa digunakan sebagai pengganti X-ray di banyak situasi darurat.
Pada 2023, tim SingHealth bergabung dengannya untuk membantu merancang gedung ECU baru dan meluncurkan program pelatihan ultrasound selama setahun, khusus untuk dokter dan tenaga medis senior. Program ini mengajarkan penggunaan ultrasound dalam perawatan darurat serta prinsip pendidikan medis.
Minggu pertama pelatihan, diadakan pada Agustus, fokus pada pengajaran bagaimana dokter senior melatih perawat dan relawan komunitas menggunakan ultrasound. Lima dokter dan tenaga medis senior hadir pada minggu pertama. Hingga 1 Desember, pembangunan utama ECU selesai, dengan pekerjaan tambahan setengah jalan.
Dr. Tiah juga merasa puas membimbing dokter muda Myanmar dalam timnya, yang karier medisnya terganggu akibat kudeta di Myanmar.

Kesederhanaan dan Kepuasan Kerja
Proyek ECU MTC bukan pengalaman pertama Dr. Tiah dalam kesehatan global. Dari 20082010, ia mengikuti John Hopkins International Emergency Medicine Fellowship Programme, bekerja di Afrika dan Asia untuk meningkatkan proses perawatan darurat. Melalui pengalaman ini, Dr. Tiah mencari kesempatan untuk membuat perbedaan di luar sistem kesehatan terinstitusional di Singapura.
Di luar Singapura, saya terbatas dalam apa yang bisa dilakukan, katanya. Setelah hampir dua dekade bekerja di rumah sakit Singapura, ia memutuskan meninggalkan sistem institusi pada 2023 untuk mengeksplorasi pekerjaan global. Saat itu, tawaran proyek ECU datang tepat waktu.
Dibandingkan Singapura, kota perbatasan ini tidak secepat pressure cooker. Di sini, pekerjaannya sederhana, katanya. Ia menikmati rutinitas bekerja dan kembali ke flat satu kamar yang tenang. Pekerjaan ini memberikan banyak ownership bagi tim, bukan hanya saya, tambahnya. Tim ECU terdiri dari tiga dokter muda Myanmar yang kariernya terganggu akibat kudeta.
Menjadi bagian dalam memulihkan karier mereka memberi Dr. Tiah kepuasan tersendiri, selain meningkatkan sistem kesehatan MTC. Ini yang saya suka bantu, katanya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar