
Inovasi Pendidikan di SMK yang Mendapat Penghargaan
Tiga sekolah menengah kejuruan (SMK) berhasil meraih penghargaan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah karena melakukan inovasi dalam pembelajaran. Tiga guru SMK tersebut terpilih sebagai yang terbaik berkat karya inovatif yang tidak hanya mengubah cara belajar siswa, tetapi juga menjawab tantangan nyata di dunia kerja dan lingkungan.
Inovasi Guru SMK 1 Katapang
Salah satu guru yang menerima penghargaan adalah Naufal Faadhilah dari SMKN 1 Katapang, Bandung. Ia meraih juara pertama kategori Transformatif dengan mengembangkan Artificial Mentor for Intelligent Reasoning and Assistance (AMIRA), asisten belajar berbasis AI untuk membantu siswa jurusan Pengembangan Perangkat Lunak dan Gim (PPLG) memahami konsep pemrograman secara mandiri.
AMIRA dirancang bukan untuk memberikan jawaban langsung, tetapi meminta siswa menjelaskan pemahaman mereka terlebih dahulu. Perubahan signifikan terlihat pada siswa yang semula merasa hebat dalam belajar koding, kini menjadi lebih percaya diri.
"Yang paling berkesan adalah siswa yang dulunya cenderung menyerah saat tidak paham, sekarang terbiasa mencoba dulu, berdiskusi dengan AMIRA, baru bertanya ke guru," ujarnya.
Ke depannya, Naufal berencana memperluas AMIRA ke lebih banyak mata pelajaran dan program keahlian, serta mengintegrasikannya dengan sistem administrasi dan penilaian agar data dapat dimanfaatkan untuk pengambilan keputusan pembelajaran.
Inovasi Guru SMKN 61 Kepulauan Seribu
Juara kedua adalah Didi Setiadi dari SMKN 61 Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Ia membawa dimensi berbeda dengan mengimplementasikan teknik transplantasi terumbu karang melalui pembelajaran berbasis proyek.
Pembelajaran diintegrasikan dalam Proyek IPAS dengan metode Project Based Learning (PjBL). "50 persen murid sekolah saya adalah anak dari daratan Jakarta yang banyak belum bisa berenang dan snorkeling. Saat pelaksanaan proyek di laut mereka sangat senang karena bisa belajar sambil bermain," kata Didi.
Didi mengatakan, melalui inovasinya itu perubahan nyata terlihat pada motivasi belajar yang meningkat, pemahaman konsep yang lebih baik, kolaborasi yang terjalin, serta terbentuknya mental murid dalam menyikapi isu kerusakan lingkungan.
"Sekarang banyak murid yang sudah mahir berenang dan snorkeling, dan selalu semangat kalau diajak belajar praktik di laut," tambahnya.
Adapun tantangan terbesar dalam inovasinya adalah kebutuhan sarana prasarana seperti pembuatan rak terumbu karang dan peralatan survival perairan. Didi mengatasinya dengan bekerja sama dengan jurusan lain dan Pusat Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PBKL) untuk pengadaan bibit, serta memanfaatkan hasil praktik siswa jurusan teknik untuk membuat rak transplantasi.
Rencana ke depannya, Didi ingin membuka taman karang hasil transplantasi sebagai objek wisata snorkeling untuk wisatawan sekaligus pusat informasi konservasi ekosistem terumbu karang.
Inovasi Guru SMKN 2 Lubuklinggau
Sedangkan juara ketiga penghargaan tersebut adalah Gita Wulandari dari SMKN 2 Lubuklinggau, Sumatera Selatan yang mengembangkan AI chatbot untuk layanan front office hotel dan pemasaran berbasis virtual reality.
Inovasi dimulai dari riset pasar terkait proses kerja perhotelan yang bisa diberikan solusi digital. Siswa merancang alur percakapan dengan Dialogflo, kemudian chatbot, dirancang dengan metode RAG Retrieval Augmented Generation.
Pada virtual reality, siswa mengubah pemasaran yang selama ini menggunakan brosur konvensional menjadi media virtual reality yang ditampilkan dalam video virtual walk through.
"Perubahannya adalah mindset siswa bahwa produk kreatif dan kewirausahaan bukan hanya produk fisik tetapi juga produk digital yang nilai ekonominya lebih tinggi," kata Gita.
Menurut Gita, yang paling berkesan baginya adalah antusiasme siswa saat mengikuti inovasi pembelajarannya. Dia menuturkan, siswa bercerita bahwa ternyata virtual reality bisa mereka buat sendiri dan sangat menyenangkan seperti bermain game kenangnya.
Inovasi ini jug telah digunakan oleh hotel yang menjadi validator dan saat ini bekerja sama dengan Pemerintah Kota Lubuklinggau untuk dikembangkan membantu pelayanan dan pemasaran UMKM, mendukung program "UMKM Naik Kelas".
"Keterbatasan teknologi jangan menjadi penghalang untuk berani berinovasi," jelas Gita.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar