Tiga Janji Bahlil ke Korban Banjir, Hanya Satu Tercapai

Janji Bahlil Lahadalia yang Belum Tercapai di Desa Garoga

Menteri Energi Sumber Daya Air Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memiliki beberapa janji yang belum terpenuhi kepada warga Desa Garoga, Batangtoru, Tapanuli Selatan. Saat ia mengunjungi desa tersebut, Bahlil menyampaikan tiga janji utama. Hingga kini, hanya satu dari tiga janji tersebut yang telah terwujud.

Salah satu janji Bahlil adalah memberikan 250 tenda untuk setiap kepala keluarga (KK) di Desa Garoga yang terkena banjir bandang. Dengan jumlah KK sekitar 240-an, artinya setiap rumah akan diberi satu tenda sebagai tempat tinggal sementara. Namun, hingga hari ke-18 pascabanjir bandang, belum ada satu pun warga yang menerima tenda tersebut.

Janji Tenda dan Kondisi Warga

Dari pantauan berita, warga Garoga masih bertahan di posko pengungsian seperti Batu Hula, Puskesmas Batangtoru, Sopo Daganak, hingga aula kantor camat. Mereka lebih memilih tinggal di posko karena tidak memiliki tempat tinggal lagi. Mereka berharap pemerintah dapat segera menyelesaikan masalah ini sesuai dengan janji Bahlil.

Camat Batangtoru Mara Tinggi Siregar mengaku bahwa saat ini belum ada tenda yang diberikan kepada warga Garoga. Ia menyatakan bahwa informasi terbaru menyebutkan bahwa tenda tersebut sedang dalam perjalanan.

Janji Soal Utang KUR

Janji Bahlil yang paling disorot adalah soal utang Kredit Usaha Rakyat (KUR). Saat kunjungannya, warga Garoga mengeluhkan kondisi mereka yang terjerat utang KUR akibat gagal panen. Bahlil berjanji bahwa beban utang warga akan ditanggung bersama oleh pemerintah dan instansi terkait.

Namun, Camat Mara Tinggi mengaku tidak tahu tentang hal ini. Ia hanya menyampaikan bahwa dirinya tidak bisa memberikan informasi lebih lanjut mengenai janji tersebut.

Janji Listrik Tegangan Rendah

Satu lagi janji Bahlil yang sudah terpenuhi adalah tentang listrik tegangan rendah. Bahlil berjanji untuk memperbaiki tower dan menggunakan tiang listrik tekanan rendah. Hingga kini, listrik tegangan rendah di sisi kiri jalan mulai dari Huta Godang dan Garoga sudah terpasang. Tiang listrik ini terlihat berwarna merah tua.

Harapan Warga Garoga

Warga Garoga yang kehilangan rumah mengaku bingung harus tinggal di mana. Mereka juga geram karena kayu gelondongan banjir bandang membuat rumah mereka hancur dan banyak korban jiwa. Mereka tidak tahu nama perusahaan yang bertanggung jawab atas penebangan pohon yang diduga dilakukan untuk lahan plasma sawit.

Azhar Dalimunte, salah satu warga vokal, menyampaikan harapan agar Bahlil dapat menepati janjinya. Ia berharap janji-janji yang diucapkan tidak hanya menjadi sekadar pembicaraan.

Tenda di Setiap Rumah

Dalam kunjungannya ke Garoga, Bahlil berjanji untuk mendirikan tenda di setiap rumah. Dengan jumlah 245 KK, artinya akan ada 245 tenda yang disediakan untuk warga. Tenda ini merupakan solusi sementara yang diharapkan dapat membantu warga menghadapi situasi sulit ini.

Selain itu, Bahlil juga berjanji untuk menyediakan alat berat tambahan agar kondisi Desa Garoga bisa pulih secepatnya.

Pengakuan Riswan Pohan

Riswan Pohan, kepala desa Garoga, menyampaikan curahan hatinya mengenai kondisi warga yang terlilit utang KUR akibat gagal panen. Ia mengatakan bahwa banyak warga meminjam uang dari program KUR, tetapi kini sawah mereka terendam air dan gagal panen. Riswan mengakui bahwa lahan sawah seluas 45 hektare milik warga Garoga juga terdampak banjir.

Ia kemudian menceritakan asal kayu gelondongan yang ikut terseret saat banjir bandang. Menurut informasi yang ia dapat, ada sebuah perusahaan yang melakukan penebangan pohon untuk kebun sawit di hulu daerah tersebut.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan