
Musorprov PSSI Jabar 2025: Persaingan Calon Ketua Umum Mulai Memanas
Musyawarah Olah Raga (Musorprov) PSSI Jabar 2025 akan digelar di Karawang pada tanggal 20 Desember mendatang. Peta persaingan bursa calon Ketua Umum Asosiasi Provinsi Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (Asprov PSSI) 2025-2029 pun mulai berkembang.
Ada tiga tokoh yang telah mengirimkan surat pendaftaran kepada Komite Pemilihan, yaitu Muhammad Farhan (Wali Kota Bandung), Buky Wibawa Karya Guna (Ketua DPRD Provinsi Jawa Barat), dan Tommy Apriantono (petahana Ketua Umum Asprov PSSI Jabar saat ini).
Sekretaris Jenderal Asprov PSSI Jabar Muhamad Fahmi Hasan mengatakan, saat ini, sudah memasuki proses pemeriksaan berkas calon ketua. Sebelumnya, Asprov PSSI Jabar telah membentuk komite pemilihan dan komite banding pemilihan setelah kongres yang diadakan pada bulan lalu.
"Dari Komite Pemilihan sudah mengirimkan timeline kepada para calon ketua tentang apa saja persyaratan yang harus dipenuhi sesuai dengan statuta mulai dari pengambilan berkas hingga pengembalian," kata Fahmi saat dihubungi, Selasa 2 Desember 2025.
Hingga batas waktu yang telah ditentukan, kata Fahmi Hasan, hanya ada tiga calon ketua yang menyerahkan berkas, yaitu Tommy Apriantono, Muhammad Farhan, dan Buky Wibawa Karya Guna. Berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan Komite Pemilihan, berkas yang telah diserahkan oleh tiga calon ketua tersebut masih ada beberapa hal yang harus diperbaiki dan dilengkapi. Para kandidat harus melengkapi berkas paling lambat pada tanggal 3 Desember.
Saat ini, ungkap Fahmi Hasan, baru satu calon yang telah menyerahkan berkas yang harus diperbaiki dan dilengkapi, yaitu Tommy Apriantono. Untuk Buky dan Farhan, rencananya akan menyerahkan perbaikan berkas pada tanggal 3 Desember ini.
Setelah ketiga bakal calon ini menyerahkan berkas yang telah diperbaiki dan dilengkapi, maka akan diperiksa kembali oleh Komite Pemilihan. Setelah itu, komite pemilihan akan menggelar rapat, untuk memutuskan para kandidat calon ketua untuk pemilihan ketua Asprov PSSI Jabar.
“Jika nantinya ada yang tidak lolos, maka bisa mengajukan banding kepada komite banding pemilihan yang dilakukan mulai dari tanggal 4 sampai 7 Desember,” kata Fahmi.
Selanjutnya, Komite Banding Pemilihan akan melakukan peninjauan ulang. Pada tanggal 11 Desember 2025, Komite Pemilihan akan mengumumkan siapa saja calon ketua yang lolos tersebut.
"Setelah dipastikan siapa saja calon ketua yang sah, maka kita tinggal mempersiapkan untuk acara Musprov yang diadakan pada tanggal 20 Desember di Karawang," ucapnya.
Terkait dengan pemilihan lokasi Musprov di Karawang, ungkap Fahmi, hal tersebut berdasarkan hasil rapat bersama Exco. Pasalnya, selama ini, Musprov lebih sering diadakan di Kota Bandung.
“Dari Asprov PSSI Jabar ingin mendorong asosiasi kota dan kabupaten PSSI untuk menjadi tuan rumah Musprov. Jadi, pada intinya, kita ingin memberikan kesempatan dari daerah. Sejauh ini persiapan Musprov tidak mengalami kendala,” tutur Fahmi.
Untuk jumlah voters yang berhak memilih pada Musprov nanti berjumlah 63 suara. Mereka terdiri dari 27 askot/askab, 24 klub peserta Liga 4 Seri I 2024/2025, 8 klub Liga 4 Seri II 2024/2025, 3 klub Liga 3, asosiasi futsal, dan Asosiasi Sepak Bola Wanita.
Tidak Ada Masalah dengan Calon Pejabat Negara
Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jawa Barat tidak mempermasalahkan, jika ada pejabat negara yang mencalonkan diri menjadi ketua umum cabang olah raga. Ketua Umum KONI Jawa Barat Muhammad Budiana mengatakan, selama di anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) dicantumkan, maka siapa pun itu warga Negara Indonesia memungkinkan untuk memimpin cabang olah raga.
"Dari KONI Jabar tidak mempermasalahkan selama di AD/ART Asprov PSSI memang sudah dijelaskan siapa pun itu warga negara Indonesia atau seorang pejabat negara bisa memimpin cabang olah raga. Siapa saja (calonnya) dari KONI Jabar tidak ada masalah," katanya.
Dia menuturkan, jika nantinya ada pejabat negara yang memimpin Asprov PSSI Jabar, maka harus bisa melaksanakan amanah yang telah diberikan dengan baik. Cabang olah raga sepak bola merupakan cabor yang paling banyak digemari oleh semua masyarakat. Apalagi di Jabar memiliki Persib yang menjadi ikon sepak bola di tanah Pasundan.
"Jadi, pandangan saya selama memungkinkan, siapa saja bisa mencalonkan sesuai dengan yang tertera di AD/ART Asprov PSSI Jabar. Makanya ada pak Buky sebagai ketua dewan mencalonkan, dan pasti beliau juga sebelumnya melihat langsung AD/ART PSSI serta mendapat masukan bahwa seorang pejabat negara memungkinkan mencalonkan diri menjadi ketua cabor," ucapnya.
Sebagai Ketua Umum KONI Jabar, Budiana mengingatkan siapa pun yang akan terpilih nanti menjadi ketua umum Asprov PSSI, agar benar-benar bisa melaksanakan dan mengawal Asprov PSSI Jabar dengan baik.
Buky Wibawa: Sepak Bola Jabar Perlu Dikembangkan
Ketua DPRD Jawa Barat Buky Wibawa membenarkan adanya dorongan untuk dirinya memimpin Asprov PSSI Jawa Barat. Ia menyoroti kondisi persepakbolaan Jawa Barat yang dinilai tertinggal, terutama jika dibandingkan dengan Jawa Timur, yang dianggap memiliki sistem yang lebih mapan.
Buky Wibawa yang mengaku sebagai pengamat sekaligus pernah terlibat dalam pengelolaan klub, menilai, Jawa Barat memiliki tantangan besar meskipun memiliki fanatisme sepak bola yang luar biasa. "Belakangan ini, ada informasi dari berbagai obrolan, Jawa Barat ini seperti ketinggalan sepak bolanya, terutama oleh Jawa Timur yang kelihatannya lebih punya sistem yang bagus," ujar Buky.
Salah satu masalah utama yang disoroti Buky adalah fanatisme yang terpusat. Salah satu sebabnya karena klub-klub dari daerah lain tidak muncul akibat pembinaan pemain muda di sana tidak optimal.
"Bola itu tidak ujug-ujug kita bicara soal aktualisasi diri, tapi kebutuhan dasarnya kita terpenuhi tidak? Misalnya, pembinaan di usia dini dan sebagainya," katanya.
Buky mendorong pengadaan fasilitas lapangan sepak bola yang memadai hingga level desa. Ini dilakukan agar potensi-potensi daerah dapat terdata dan terdeteksi sejak awal.
"Kalau memang serius mau mengembangkan bola, apakah di tiap desa itu kita punya lapangan bola yang memadai atau paling tidak di tiap kecamatan? Sehingga potensi-potensi dari daerah itu bisa terpotret," katanya.
Buky mengajukan konsep yang membutuhkan tiga pilar dukungan utama jika ingin mengembangkan sepak bola yang merata di setiap daerah.
"Secara konsep besar itu hanya butuh tiga elemen, yakni dukungan komunal, pemerintah, dan sponsorship," ujarnya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar