Tiga Pekan Gelap, Wali Kota Banda Aceh Kritik PLN Soal Pemadaman Berkepanjangan

Wali Kota Banda Aceh Kritik PLN atas Pemadaman Listrik yang Berkepanjangan

Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, menyampaikan kekecewaannya terhadap PT PLN (Persero) karena kondisi listrik di wilayahnya masih belum pulih. Masyarakat di pusat ibu kota Provinsi Aceh tersebut sudah lebih dari tiga pekan menghadapi gelap dan menunggu solusi yang tidak jelas.

Illiza menegaskan bahwa PLN harus berhenti bekerja secara diam-diam. Ia menilai masyarakat membutuhkan penjelasan yang transparan, peta kerusakan, serta tenggat waktu pemulihan yang jelas, bukan hanya komunikasi sepihak.

"PLN tidak bisa terus berlindung di balik alasan teknis tanpa transparansi. Masyarakat Banda Aceh berhak atas kepastian waktu pemulihan listrik, bukan janji tanpa kejelasan," ujarnya.

Ia juga mengatakan bahwa dirinya telah beberapa kali berkomunikasi langsung dengan pihak PLN untuk menanyakan perkembangan pemulihan listrik di Banda Aceh. "Kita tidak ingin krisis energi berlarut-larut di Banda Aceh," tegasnya.

Pantauan menunjukkan bahwa hingga saat ini kondisi listrik di wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar masih padam. Meski demikian, sebagian daerah mulai menyala secara bergilir dengan durasi yang tidak terlalu lama.

Dampak pada Dunia Usaha

Pemadaman listrik yang berkepanjangan memberikan dampak signifikan pada dunia usaha. Sejumlah warung nasi terpaksa tutup, sementara pelaku usaha yang masih beroperasi harus mengeluarkan biaya tambahan untuk penggunaan generator set.

Putra, barista di Warkop Sirnagalih, mengatakan bahwa ia harus mengubah cara beroperasi agar tetap bisa melayani pelanggan. Untuk menjaga kopi tetap panas, ia tidak lagi menggunakan gas elpiji, melainkan minyak lampu untuk menyalakan api.

Selain itu, pihak warkop juga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli minyak agar genset tetap menyala demi penerangan. "Selama ini biaya operasional yang kita keluarkan sedikit lebih banyak dari biayanya, karena kita harus membeli minyak genset dan juga minyak lampu," katanya.

Kondisi serupa juga dirasakan oleh Siti, pembuat kue rumahan di Banda Aceh. Selama listrik padam dan elpiji langka, usahanya terancam gulung tikar. "Pesanan kue ada, tapi enggak bisa kita buat. Selama ini memang tidak ada pemasukan sama sekali," ujarnya.

Alasan PLN Terapkan Pemadaman Bergilir

Dilansir dari sumber lain, Asisten Manajer Keuangan dan Umum PLN UP3 Banda Aceh, Ahmad Denri Polman, menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas gangguan kelistrikan yang terjadi. Ia menjelaskan bahwa pemadaman bergilir dilakukan sebagai langkah antisipasi untuk menghindari risiko blackout pada PLTU Nagan Raya.

“Terkait pemadaman bergilir, semuanya bergantung pada kondisi sistem PLTU Nagan Raya,” ungkapnya.

Ahmad juga menjelaskan alasan PLN hingga harus melakukan pemadaman bergilir. “Kami harus ekstra hati-hati dalam melakukan penambahan maupun pengurangan beban di Banda Aceh dan Aceh Besar,” ujarnya saat dimintai keterangan.

“Setiap langkah harus mempertimbangkan peluang agar tidak terjadi blackout yang dapat berdampak lebih besar dan fatal,” sambung Ahmad.

Menurutnya, tim PLN terus memantau jaringan dan mengoptimalkan peluang agar wilayah terdampak pemadaman dapat diminimalkan. “Kami akan selalu memantau dan mengoptimalkan peluang untuk meminimalisasi padam terdampak,” katanya.

Ahmad kembali menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat dan berharap dukungan doa agar penormalan kelistrikan dapat berjalan lancar. “Kami memohon maaf yang sedalam-dalamnya atas kondisi bencana alam yang sama-sama masih kita rasakan dampaknya,” ujarnya.

“Mohon doanya dari masyarakat agar kiranya Allah melancarkan dan memudahkan segala proses penormalan yang kami terus kejar bersama tim,” pungkas Ahmad.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan