
DEPOK, aiotrade
Banjir yang mengganggu akses wilayah Bulak Barat-Pasir Putih, Depok, terus berlangsung tanpa penanganan yang signifikan selama tiga tahun terakhir. Kondisi ini menjadi keluhan warga setempat, termasuk Ketua RT 04 RW 08 Kelurahan Cipayung, Naserih, yang menyatakan bahwa banjir tidak pernah surut sejak tiga tahun lalu.
"Banjir ini sudah berlangsung sekitar tiga tahun dan tidak bisa dilewati sebagai alternatif utama bagi warga," ujar Naserih saat ditemui di lokasi, Selasa (2/12/2025).
Banjir sudah tiga tahun
Menurut Naserih, penyebab banjir adalah saluran air di dekat TPA Cipayung yang semakin sempit. Akibatnya, air membutuhkan waktu sekitar dua jam untuk surut setelah hujan deras. Namun, genangan air tetap bertahan dan mengalir ke Kali Pesanggrahan.
“Di dekat pembuangan sampah, salurannya sempit sehingga air sulit lancar,” jelas Naserih.
Sejauh ini, enam bangunan telah mendapatkan pembebasan lahan dari Pemerintah Kota Depok karena lokasinya sering tergenang. Pembebasan lahan ini mencakup dua rumah warga, ruko, dan pabrik. Meskipun pembebasan lahan sudah selesai, jalanan masih tidak dapat digunakan karena banjir yang parah.
Aktivitas ekonomi terganggu
Kondisi banjir juga mengganggu aktivitas ekonomi warga setempat. Sebelumnya, banyak warga membuka warung kecil di sepanjang Jalan Kampung Bulak Barat. Namun, dengan akses yang terputus, sejumlah pemilik warung harus menutup usaha mereka.
"Jalur mati membuat pemilik warung kecil tutup karena tidak ada pengunjung," ujar Naserih.
Nurjidah (59), seorang warga yang membuka warung nasi dan minuman di teras rumahnya, juga merasa terdampak. Lokasi rumahnya hanya satu rumah dari titik genangan.
"Semua terdampak, terutama dagangan. Biasanya orang dari seberang datang belanja, sekarang tidak bisa karena akses terputus," kata Nurjidah.
Warga juga kesulitan menjangkau Pasir Putih atau Bulak Barat. Mereka harus melewati jalur lain yang lebih jauh, seperti Tanah Merah atau Kampung Benda.
"Kini warga harus muter jauh, lewat Tanah Merah atau Kampung Benda, itu lumayan lama dan jauh," ujar Naserih.
Diperkirakan, sekitar 20 rumah di RT 04 RW 08 tinggal berdekatan dengan titik genangan dari total 160 Kartu Keluarga (KK). Mereka berharap jalur transportasi kembali dibuka.
"Kebanyakan warga ingin dibangun jembatan atau dirapihkan sebagai jalur transportasi agar akses ke Pasir Putih lebih mudah," ujar Naserih.
Jawaban Pemkot Depok
Pemerintah Kota Depok merencanakan beberapa solusi untuk mengatasi masalah banjir ini. Pertama, berkoordinasi dengan PLN untuk mitigasi jangka pendek atas keberadaan tower SUTET di dekat genangan banjir.
"Yang mendesak adalah tower karena berada di tengah kubangan, khawatirnya roboh dan mengganggu," ujar Wakil Wali Kota Depok Chandra Rahmansyah, Selasa.
Chandra menjelaskan bahwa tower tersebut merupakan jaringan transmisi Jawa-Bali yang khawatir terganggu akibat genangan air.
Solusi kedua adalah melakukan pembenahan di TPA Cipayung, termasuk normalisasi Kali Pesanggrahan.
"Maka yang akan kita benahi pertama dari TPA Cipayung dulu, lalu normalisasi Sungai Pesanggrahan," jelas Chandra.
Langkah ini disesuaikan dengan kondisi luapan air yang memutus akses akibat longsoran sampah dari TPA dan mempersempit saluran. Setelah itu, Pemkot Depok akan merumuskan pembangunan jembatan untuk memulihkan akses transportasi.
Menurut Chandra, penanganan harus dilakukan secara runut agar tidak terjadi kerusakan berulang.
"Kalau TPA belum diberesin tapi jembatannya sudah duluan dibangun, nanti rusak lagi," ujar Chandra.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar