Tim Medis RSUDZA Turunkan 14 Tenaga Kesehatan ke Wilayah Banjir

Tim Medis RSUDZA Berjuang di Tengah Banjir Besar Aceh

Tim medis dari Rumah Sakit Umum Daerah Zainal Abidin (RSUDZA) telah mengirimkan 14 dokter dan perawat untuk menembus daerah yang terkena banjir besar di Kabupaten Pidie Jaya, salah satu dari 16 kabupaten/kota di Aceh yang terdampak bencana. Bencana ini disebabkan oleh curah hujan ekstrem, angin kencang, serta kondisi tanah yang rentan longsor.

Banjir dan longsoran yang terjadi telah menyebabkan sekitar 30 ribu jiwa mengungsi, ratusan orang meninggal, dan puluhan masih hilang. Tim medis RSUDZA dipimpin oleh dr. Meilya, seorang spesialis darurat dan Kepala Perawat Emergency Care (KPEC). Mereka berangkat dari RSUDZA pada Sabtu pagi, 29 November, dengan 14 personel yang terdiri dari dokter spesialis, dokter residen, perawat, serta tim dokumentasi dan administrasi. Mereka tiba di Pidie Jaya siang harinya menggunakan mobil Hiace RS Jiwa Aceh.

Akses Terbatas ke Wilayah Lain

Saat ini, tim RSUDZA hanya dapat mengakses Kabupaten Pidie Jaya karena jalan menuju kabupaten lain terputus. Menurut laporan dari Direktur RSUD Pijay dalam pertemuan bersama Dinas Kesehatan Aceh, RS Jiwa Aceh, dan RSUDZA, tercatat 14 korban meninggal di Pidie Jaya. Lebih dari 600 warga kehilangan rumah dan harta bendanya. Kondisi di Pidie Jaya sangat parah hingga menyebabkan RSUD Pidie Jaya lumpuh total. Sebanyak 70 persen tenaga kesehatannya terdampak, mulai dari rumah yang hanyut hingga anggota keluarga yang menjadi korban.

Kolaborasi dan Pelayanan Darurat

Sejak awal, rumah sakit tersebut berupaya memberikan pelayanan terbaik dengan mendirikan dua posko darurat untuk para pengungsi, meski dalam keterbatasan sarana dan tim medis. Kehadiran Tim Medis RSUDZA disambut dengan harapan besar. Bersama Dinas Kesehatan Aceh dan RS Jiwa Aceh, tim diterima langsung oleh Direktur RSUD Pidie Jaya, dr. Nur Fajriman, Sp.S, dan Wakil Direktur Administrasi, dr. M. Aditya. Mereka segera memberikan mandat kepada RSUDZA untuk mengambil alih seluruh layanan yang lumpuh seperti Instalasi Gawat Darurat, pelayanan bedah, perawatan intensif, hingga dukungan trauma healing bagi penyintas.

Plt Direktur RSUDZA, dr. Hanif, turut menyerahkan bantuan logistik dan kebutuhan darurat secara resmi kepada Direktur RSUD Pijay di ruang pertemuan rumah sakit. Hingga Minggu siang, tim RSUDZA telah melakukan 8 operasi (6 pasien hari ini dan 2 pasien kemarin). Pagi ini, drg. Muklis juga mulai membuka layanan poliklinik gigi bagi masyarakat terdampak. Siang harinya, terdapat penambahan personel dari 14 dokter residen dan 20 mahasiswa PSIK. Kegiatan ini juga menjadi bentuk kerja sama nyata dengan Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (Unsyiah).

Laporan Terbaru dan Situasi Terkini

Laporan terbaru dari Instalasi Gawat Darurat RSUD Pidie Jaya mencatat 80 pasien rawat inap, 170 pasien baru, serta 17 pasien yang harus dirujuk ke fasilitas lain. Hingga saat ini, tercatat pula 4 pasien meninggal dunia akibat dampak banjir.

Kisah Haru di Tengah Bencana

Di tengah upaya pemulihan, kabar duka terus mengemuka. Pada Minggu pagi, seorang korban laki-laki berusia sekitar 30 tahun yang hilang sejak hari pertama banjir akhirnya ditemukan oleh tim gabungan bersama warga. Proses pencarian sebelumnya telah berkali-kali dilakukan di sekitar lokasi. Namun kondisi medan yang tertutup lumpur pekat membuat jenazah sulit ditemukan. Berkat keteguhan pihak keluarga yang tetap yakin dengan lokasi yang dicurigai, penggalian manual dilakukan. Sang adik kandung meyakini abangnya berada di bawah tanah yang tertutup lumpur, meski semula tidak dipercaya oleh orang lain. Dengan tekad kuat, ia mulai menggali menggunakan cangkul, dan benar saja, jasad abangnya ditemukan di dalam lumpur.

Selain itu, pada hari yang sama, seorang laki-laki berusia 72 tahun dari Meunasah Krueng meninggal dunia akibat tenggelam. Peristiwa tragis ini terjadi karena kepanikan setelah beredar berita hoaks tentang air laut yang naik. Ketakutan yang meluas membuat warga panik, dan korban akhirnya terjebak dalam situasi yang berujung pada kehilangan nyawa.

Harapan Plt Direktur RSUDZA

Plt Direktur RSUDZA, dr. Hanif, menyampaikan bahwa tidak mudah melupakan bencana yang telah merenggut banyak jiwa dan harta benda. Ia berharap apa yang hilang hari ini akan diganti oleh Allah dengan yang lebih baik. Bencana ini bukan hanya teguran, tapi juga tanda kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. "Kehadiran RSUDZA di Pidie Jaya adalah bentuk kepedulian kami untuk meringankan beban masyarakat dan memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan," ujarnya.

Di tengah rasa kehilangan yang mendalam, kehadiran Tim Medis RSUDZA menjadi sumber kekuatan dan harapan bagi masyarakat Pidie Jaya. Dengan dukungan lintas instansi dan kerja sama akademik, RSUDZA berkomitmen untuk terus mendampingi hingga pelayanan kesehatan kembali pulih. Musibah ini memang sulit dilupakan, namun semangat kebersamaan dan kepedulian menjadi cahaya yang menuntun Aceh untuk bangkit lebih kuat.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan