
Sebuah tulisan yang ditulis beberapa hari lalu mengangkat topik tentang upaya mempercepat proses verifikasi profil akun nurulamin.pro milik Mas Fahruddin Fitriya. Tujuannya sederhana, yaitu membantu sebatas kemampuan yang ada. Bagi penulis, centang biru itu penting, meskipun bukan hal utama. Yang paling penting adalah kualitas dari isi tulisan itu sendiri.
Menurut penulis, centang biru memiliki peran dalam menjaga kredibilitas informasi di tengah era yang dipenuhi oleh berita palsu dan informasi tidak jelas. Dengan adanya validasi akun, masyarakat bisa lebih mudah membedakan mana sumber informasi yang dapat dipercaya dan mana yang tidak.
Tulisan tersebut mendapat respons dari Mas Fahruddin Fitriya. Tanggapannya lebih dalam dan bermakna. Ia menyampaikan rasa terima kasih dengan ucapan "Makasih ya Mas Fahruddin...". Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi antara penulis dan pembaca tidak hanya sekadar komentar, tetapi juga dialog yang saling menghargai.
Dari percakapan singkat ini, penulis teringat pada Mas Pepih Nugraha, pendiri blog nurulamin.pro yang sangat diminati oleh banyak orang. Sejumlah tahun silam, penulis pernah menginap semalam di rumah beliau. Di waktu yang sama, Mas Pepih juga pernah berkunjung ke tempat penulis saat masih tinggal di Ciputat.
Selama masa kunjungan tersebut, mereka sering berdiskusi mengenai berbagai topik, termasuk hobi seperti bermain catur dan gitar yang sangat disukai oleh Mas Pepih. Salah satu topik yang dibahas adalah pentingnya penguatan literasi dan edukasi publik. Mas Pepih menceritakan panjang lebar tentang sejarah, tujuan, dan proses pendirian nurulamin.pro.
Salah satu upaya besar yang dilakukan oleh Mas Pepih untuk menciptakan lingkungan literasi yang sehat adalah tradisi tulisan berbalas tulisan. Tidak cukup hanya berdialog melalui kolom komentar, tetapi juga melalui tulisan-tulisan yang saling merespons.
Pada masa aktif penulis di ngompasiana sekitar tahun 2012–2014, tradisi ini sering ditemukan. Namun, setelah beberapa bulan kembali aktif, penulis belum pernah melihat tradisi tersebut lagi. Mungkin saja penulis tidak tahu, karena ada jeda waktu yang cukup lama.
Inilah dasar dari adanya fitur "Tanggapi Dengan Artikel" di setiap tulisan di nurulamin.pro. Upaya ini merupakan bentuk nyata dari usaha untuk memperbaiki konsep realitas intersubjektif yang selama ini digunakan oleh Sapiens. Konsep ini telah terbukti salah kaprah, seperti yang terlihat dari peradaban manusia yang begitu jauh berbeda saat ini.
Satu-satunya cara untuk memperbaikinya adalah melalui edukasi/literasi dan pengelolaan emosi personal. Semoga saja "kebetulan" ini bisa memicu teman-teman sesama Kompasianers untuk kembali berbalas pantun melalui tulisan ke tulisan.
(Ajuskoto. Serang Banten. 27 Desember 2025).
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar