Trauma Anak-Anak Salareh Aie Agam Pasca Banjir, Dua Anak Armansyah Tak Berani Lihat Rumahnya

Pengalaman Trauma dan Pencarian Kembali Keluarga Akibat Banjir Bandang

Di tengah kehancuran yang ditimbulkan oleh banjir bandang di Nagari Salareh Aie Timur, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, banyak warga mengalami luka batin yang sulit untuk disembuhkan. Salah satunya adalah Armansyah, seorang warga yang berhasil selamat bersama keluarganya. Meskipun sudah berkumpul kembali dengan seluruh anggota keluarganya, Armansyah menyadari bahwa ketiga anaknya masih mengalami trauma mendalam.

Trauma tersebut terutama dirasakan oleh dua anaknya yang melihat langsung bagaimana dirinya dan mertuanya terbawa arus banjir bandang. Dua anak ini kini masih tinggal di tempat keluarga lain karena takut untuk kembali ke rumah yang hanya tersisa lumpur dan satu dinding. Menurut Armansyah, proses pemulihan mental (trauma healing) sangat penting bagi para korban, terutama anak-anak yang harus menghadapi kenyataan yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Suara Gemuruh Banjir Bandang yang Mengingatkan pada Putaran Helikopter

Pada hari kejadian, Armansyah harus berjalan melewati lumpur setinggi paha orang dewasa sambil mencari istri dan anak-anaknya. Setiap detik dari kejadian itu masih terasa dalam ingatannya. Rasa pasrah namun tetap tidak menyerah menghiasi pikirannya. Yang terpenting adalah bertemu dengan istri dan anak-anaknya.

Sore itu, sekitar pukul 17.27 WIB, suara gesekan batu dan material banjir bandang terdengar seperti putaran helikopter. Meski terdengar tidak masuk akal, suara itu membuat Armansyah penasaran. Ia memperkirakan bahwa suara itu berasal dari alat berat yang pernah melintasi dekat rumahnya beberapa hari sebelumnya. Namun, suara itu diiringi getaran yang bukan berasal dari gempa bumi.

Armansyah dan mertuanya berada di teras rumah sementara dua anaknya masih di dekat pintu utama, takut akan situasi yang terjadi. Beberapa menit kemudian, air mulai menghempas rumahnya dengan deras dan penuh lumpur tanah. Ia sempat terjebak dalam arus air tersebut bersama mertuanya, sementara dua anaknya masih aman tetapi menyaksikan semua kejadian.

Proses Pemulihan dan Keputusan untuk Berjuang

Setelah berhasil keluar dari arus air yang deras, Armansyah dan keluarganya segera mengungsikan diri ke tempat yang lebih tinggi. Di lokasi pengungsian, ia menyadari bahwa istri dan satu anaknya belum ditemukan. Suasana panik menyelimuti dirinya, tetapi ia tetap berusaha untuk kembali mencari mereka.

Selama 30 menit, Arman berusaha menenangkan diri sambil menunggu air tenang. Namun, rasa cemas dan kekhawatiran tetap menghiasi pikirannya. Ia nekat untuk kembali menyusuri jalanan yang masih dipenuhi lumpur dan bahaya.

Pada malam hari, pesan singkat dari keluarga istrinya memberinya harapan. Istrinya telah menghubungi bahwa ia aman dan berada di Koto Alam. Informasi ini membawa ingatan Arman bahwa istrinya sempat ingin pergi ke Koto Alam sore itu. Meski awalnya ragu, ia memutuskan untuk kembali ke lokasi tersebut.

Kehadiran Istri dan Anak Kembali dalam Kondisi Aman

Setelah berjalan sejauh satu kilo lebih, Arman akhirnya menemukan istrinya dan anaknya dalam kondisi aman. Ternyata, istrinya sempat lari ke sawah dan tempat yang lebih tinggi saat mendengar suara gemuruh banjir bandang. Ia juga mengira ada gempa dan akhirnya sampai ke tempat saudaranya di Koto Alam.

Kehadiran kembali istri dan anaknya memberikan kebahagiaan bagi Armansyah. Meskipun rumah mereka hancur dan banyak warga lain yang kehilangan sanak saudara, ia merasa bersyukur bisa kembali berkumpul dengan keluarganya. Setelah bertemu, Arman kembali bergabung dengan sejumlah pemuda yang membantu warga yang membutuhkan.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan