Trump: Zelensky Belum Siap Terima Usulan Damai AS

Upaya Mediasi yang Menghangatkan Tensi Antara AS dan Ukraina

Pembicaraan antara Amerika Serikat (AS) dan Ukraina terus menjadi sorotan internasional, dengan berbagai pernyataan dan tindakan yang memperlihatkan ketegangan di antara pemimpin kedua negara. Presiden AS Donald Trump mengkritik Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky karena dinilai belum siap menerima usulan dari pemerintah AS untuk mengakhiri konflik Rusia-Ukraina. Pernyataan ini dilontarkan meskipun Zelensky menyebut pembicaraan terbaru antara AS dan Ukraina sebagai “konstruktif tetapi tidak mudah”.

Trump menyoroti bahwa Zelensky belum membaca proposal tersebut, meski hanya beberapa jam sebelumnya. Ia menyatakan bahwa rakyat Ukraina mendukung rencana tersebut, namun sang presiden belum siap menerimanya. Trump juga menyampaikan keyakinannya bahwa Rusia setuju dengan proposal tersebut, meskipun ia meragukan persetujuan Zelensky.

Konflik yang kini memasuki tahun keempat ini telah menjadi perang paling mematikan di Eropa sejak Perang Dunia II. Trump secara terbuka menyebutnya sebagai tantangan kebijakan luar negeri terberatnya. Sementara itu, Zelensky melalui panggilan telepon dengan utusan Trump, Steve Witkoff, dan menantu Trump, Jared Kushner, menggambarkan pembicaraan tersebut sebagai konstruktif namun sulit. Ia menekankan komitmen Kyiv untuk bekerja dengan itikad baik guna mencapai perdamaian yang sejati.

Isu Utama yang Menghambat Perdamaian

Pembicaraan masih terhambat oleh dua isu utama, yaitu kendali atas wilayah Donbas dan status Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Zaporizhzhia yang diduduki Rusia. Utusan Ukraina yang akan mundur dari pemerintahan Trump, Keith Kellogg, menyebutnya sebagai “10 meter terakhir” dalam mencapai kesepakatan, meskipun ia tidak hadir dalam pembicaraan di Florida.

Rusia secara terbuka menyambut baik strategi keamanan nasional baru pemerintahan Trump. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menyatakan bahwa dokumen tersebut sejalan dengan keinginan Moskow untuk dialog. Strategi AS menyatakan pemulihan “stabilitas strategis” dengan Rusia dan mengakhiri perang sebagai prioritas utama.

Namun, meskipun upaya mediasi dilakukan, kemajuan tetap lambat. Perselisihan mengenai jaminan keamanan jangka panjang untuk Kyiv dan masa depan wilayah yang dikuasai Rusia terus menghalangi tercapainya terobosan. Diplomat memperingatkan bahwa proses ini tetap rapuh dan sensitif terhadap perubahan dalam politik dalam negeri AS.

Kunjungan Zelensky ke Sekutu Eropa

Zelensky kembali melakukan kunjungan ke sekutu Eropa, dengan rencana pertemuan dengan pemimpin Inggris, Prancis, dan Jerman di London pada Senin 8 Desember 2025, diikuti dengan pembicaraan lebih lanjut di Brussels. Sementara Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper akan tiba di Washington pada Senin, di mana ia akan bertemu dengan mitranya dari Amerika, Marco Rubio.

"Inggris dan AS akan menegaskan kembali komitmen mereka untuk mencapai kesepakatan damai di Ukraina," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri di London, saat mengumumkan kunjungan Cooper seperti dilansir Arab News.

Manuver diplomatik ini terjadi saat serangan rudal, drone, dan artileri Rusia menewaskan setidaknya empat warga sipil selama akhir pekan, termasuk di wilayah Chernihiv, Kremenchuk, dan Kharkiv. Pejabat Ukraina menuduh Rusia mencoba sekali lagi untuk “memanfaatkan musim dingin” dengan merusak infrastruktur energi.

Kondisi yang Terus Berubah

Dengan kekerasan di medan perang yang terus berlanjut dan ketegangan politik yang meningkat, dorongan Washington untuk mencapai kesepakatan cepat bertabrakan dengan determinasi Kyiv dalam menuntut jaminan keamanan dan kedaulatan teritorial. Untuk saat ini, jalan menuju perdamaian tetap terbuka, meskipun terjal, diperebutkan, dan rentan terhadap tekanan dari kedua belah pihak.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan