
Kembali ke Aceh
Tas ransel di sudut kamar itu sudah bukan lagi benda asing; ia sudah resmi menjadi penghuni tetap, setara furnitur permanen. Talinya masih setia membawa oleh-oleh geologis dari berbagai daerah: terakhir, tanah merah Pontianak dan pasir Semarang. Istri saya bahkan sudah lama berhenti menyuruh membongkarnya, mungkin dikiranya itu instalasi seni kontemporer berjudul 'Artefak Suami Jarang Pulang' yang harganya mahal.
Saya baru tiga hari pulang ke rumah. Tiga hari yang saya habiskan dengan misi mulia: menebus dosa sebagai ayah. Realitanya? Saya cuma jadi sleeping beauty di sofa sementara si bungsu (3 tahun) menjadikan perut saya sebagai trampolin, dan si sulung bertanya, "Om ini siapa?"
Di hari ketiga, saat saya baru saja merasa pantat saya mulai akrab kembali dengan kursi ergonomis kantor dan dinginnya AC sentral, ilusi itu hancur. Sekretaris redaksi, wanita dengan senyum manis tapi membawa kabar kematian, meletakkan kertas keramat itu. "Mas, urgent. Tiket jam setengah sebelas. Aceh."
Saya tersedak kopi. "Aceh? Lagi? Kan ada Indra, si fresh graduate semangat membara itu?" "Indra telepon nangis-nangis, Mas. Dia panik sinyal susah, narasumber galak, dan kayaknya dia salah naik angkot malah ke perbatasan Sumatera Utara," jawabnya datar.
Helaan napas saya terdengar seperti ban kempes. Redaktur. Jabatan yang terdengar strategis, penuh wibawa, penentu arah berita. Padahal aslinya? Babysitter bersertifikasi pers.
Saya pulang sebentar untuk packing ulang (baca: menukar celana bahan dengan celana kargo yang muat di pinggang). Istri saya melihat saya dengan tatapan yang sulit diartikan---antara kasihan dan lega karena jatah makan malam berkurang satu mulut. "Aceh lagi, Yah? Hati-hati encoknya kumat. Jangan lupa bawa Tolak Angin sekerdus," ujarnya romantis. Benar-benar istri idaman. Dia tahu penugasan kedua saya ke Aceh ini bukan soal heroisme, tapi soal manajemen nyeri punggung.
Kembali ke Bandara Sultan Iskandar Muda
Pesawat mendarat di Bandara Sultan Iskandar Muda. Ah, hello old friend. Pemandangannya familiar. Terakhir kali ke sini, saya masih muda, idealis, dan perut masih rata. Sekarang? Saya datang dengan modal minyak urut dan mental baja (baca: pasrah).
Udara Aceh menyambut saya. Bukan aroma parfum lobi hotel, melainkan aroma khas petualangan: campuran tanah basah, kelembapan tropis, dan aroma "tugas negara" yang memaksa.
Perjalanan darat ke lokasi bencana adalah ujian fisik sesungguhnya. Kalau dulu saya menikmati guncangan mobil offroad layaknya di film Indiana Jones, sekarang setiap guncangan di jalan rusak membuat tulang belakang saya berbunyi kretek-kretek seperti kerupuk kaleng.
Posko Media Center
Sampailah saya di Posko Media Center. Sebuah bangunan setengah jadi yang lebih mirip kandang ayam elit. Di sana, di sudut ruangan, duduklah Indra. Wajahnya kusut seperti baju yang belum disetrika tiga hari. Matanya berbinar saat melihat saya, persis seperti anak hilang yang menemukan bapaknya di mal.
"Bang! Akhirnya!" serunya dramatis. "Ndra, kamu mandi kapan terakhir?" "Dua hari lalu, Bang. Air susah. Berita macet. Saya bingung mulai dari mana." Saya menepuk pundaknya (agak keras sedikit, biar sadar). "Tenang. Bapakmu sudah datang. Sekarang, mana colokan listrik?"
Saya melihat sekeliling. Rekan-rekan jurnalis dari media lain tampak gagah dengan rompi tactical penuh kantong. Ada wartawan senior yang dulu saingan saya, sekarang kami cuma saling lempar senyum cringe sambil memegang pinggang masing-masing. We are too old for this sht, batin kami serempak.
Malam di Aceh
Malam ini, lupakan kasur latex ortopedik di rumah. Malam ini saya tidur di tikar, ditemani nyamuk-nyamuk Aceh yang ukurannya sepertinya hasil mutasi genetik---gede banget.
Saya membuka laptop. Wallpaper foto anak-anak yang sedang tersenyum seolah mengejek, "Selamat bekerja, Ayah. Jangan lupa oleh-oleh."
Saya mulai mengetik. Lelah? Pasti. Tapi ada kepuasan tersendiri saat mengambil alih kendali di tengah kekacauan. Atau mungkin itu cuma efek adrenalin bercampur kafein.
"Dek, Sanger panas dua. Tarik yang kental sampai sendoknya bisa berdiri tegak," teriak saya ke pemuda lokal pemilik warung darurat. Satu gelas untuk saya, satu untuk Indra yang sudah tertidur sambil memeluk tripod. Inilah Aceh kedua saya. Kopi yang sama, semangat yang (dipaksa) sama, tapi dengan persendian yang jauh berbeda.
Selamat datang kembali di lapangan. Jangan lupa oles balsem sebelum tidur.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar