Tujuh Kabupaten Butuh Perhatian Khusus, Campak dan TBC Ancam Pengungsi

Tujuh Kabupaten Butuh Perhatian Khusus, Campak dan TBC Ancam Pengungsi

Tujuh Kabupaten di Aceh Masih Membutuhkan Bantuan untuk Pemulihan

Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tito Karnavian, menyampaikan bahwa tujuh kabupaten di Provinsi Aceh masih memerlukan bantuan agar dapat segera pulih dari dampak bencana banjir dan longsor. Hal ini disampaikannya dalam konferensi pers pelepasan praja IPDN ke Aceh Tamiang di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, pada Sabtu (3/1/2026).

“Dari 18 kabupaten, 11 sudah jauh membaik. Yang 7 lagi ini memerlukan atensi spesifik untuk dapat dipulihkan,” ujar Tito.

Tujuh kabupaten yang memerlukan perhatian khusus adalah Aceh Tamiang, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tengah, Gayo Lues, Bener Meriah, dan Pidie Jaya. Dari ketujuh daerah tersebut, Aceh Tamiang menjadi wilayah yang paling terdampak dan belum sepenuhnya pulih.

Kondisi topografi Aceh Tamiang yang lebih rendah dibanding wilayah sekitarnya membuat daerah ini rentan terhadap banjir. “Karena Tamiang itu terletak seperti mangkuk, dikelilingi oleh Gayo Lues dan Aceh Timur yang lebih tinggi, sehingga banjir melanda ke daerah cekungan ini,” jelas Tito.

Risiko Penyakit Menular di Wilayah Terdampak

Selain kerusakan infrastruktur, kondisi pengungsian yang padat dan keterbatasan sarana sanitasi serta layanan kesehatan meningkatkan risiko penyebaran penyakit menular. Penyakit campak dan tuberkulosis (TBC) menjadi ancaman utama bagi ribuan pengungsi di wilayah terdampak banjir dan longsor.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, Ferdiyus, menyebutkan bahwa campak dan TBC menjadi penyakit yang paling diwaspadai saat ini. “Di kondisi pengungsian sekarang, penyakit paling kami takuti adalah campak dan TBC,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa lingkungan pengungsian yang penuh sesak membuat risiko penularan campak sangat tinggi, terutama pada anak-anak. “Di kerumunan seperti itu campak cepat menyebar, apalagi anak-anak sulit dibatasi aktivitasnya di dalam tenda,” katanya.

Pemerintah Aceh bersama tenaga kesehatan terus memperkuat upaya pencegahan melalui pemantauan kesehatan, layanan medis di posko pengungsian, serta edukasi kepada masyarakat untuk menekan potensi penyebaran penyakit menular di lokasi terdampak bencana.

Penemuan Tiga Jenazah Korban Banjir di Aceh Utara

Tiga jenazah korban banjir kembali ditemukan di Kabupaten Aceh Utara, Sabtu (3/1/2026). Penemuan tersebut membuat total korban jiwa di kabupaten tersebut bertambah menjadi 229 orang. Tiga jenazah itu ditemukan di Kecamatan Langkahan dan Kecamatan Muara Batu.

Kabupaten Aceh Utara menjadi daerah dengan korban jiwa terbanyak dalam bencana banjir Sumatera tersebut. Hingga kini, sebanyak enam orang dilaporkan masih hilang. Sementara 67.876 jiwa mengungsi di 210 titik penampungan di seluruh kabupaten.

Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Persandian Kabupaten Aceh Utara, Halidi, menyatakan, tim gabungan masih terus mencari jenazah. Bupati Aceh Utara, Ismail A Jalil, melalui Halidi, menginstruksikan tim SAR Aceh Utara melanjutkan operasi pencarian jenazah meskipun banjir telah memasuki bulan kedua.

Diyakini masih ada korban yang tertimbun puing-puing kayu dan bangunan akibat banjir yang terjadi pada 26 November 2025. "Jadi operasi SAR tetap dilakukan walau sudah memasuki dua bulan bencana banjir di Aceh Utara. Setiap hari ditemukan jenazah korban banjir sepanjang 39 hari terakhir ini," beber Halidi.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan ada penambahan 10 korban jiwa terkait bencana yang terjadi di Aceh, Sumut, dan Sumbar. Hingga Sabtu kemarin, total meninggal dunia mencapai 1.167 orang.

"Hari ini ada penambahan dari Aceh Utara sehingga per hari ini total korban jiwa meninggal dunia menjadi 1.167," ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari.

Dari hasil yang dilaporkan, jumlah korban yang hilang dan masih dilakukan pencarian mencapai 165 orang. "Pencarian dan pertolongan tim SAR gabungan masih dilakukan," ucapnya.

Sementara jumlah pengungsi tercatat 257.780 orang. Jumlah itu mengalami penurunan sebanyak 122.507 orang. "Ini menunjukkan di samping progres pembersihan kawasan sangat intensif," tambah Abdul Muhari.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan