Tumpukan kayu 1 km mengancam banjir di Pidie Jaya

Tumpukan kayu 1 km mengancam banjir di Pidie Jaya

Tumpukan Kayu Gelondongan yang Mengancam Kembali Menyebabkan Banjir

Tumpukan kayu gelondongan sepanjang hampir satu kilometer di aliran sungai Krueng Meureudu masih terdapat dan belum dibersihkan. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa tumpukan tersebut dapat memicu banjir susulan, terutama bagi warga yang tinggal di sekitar daerah aliran sungai (DAS).

Kerusakan akibat banjir bandang sangat besar. Ratusan rumah rusak, ratusan kendaraan tertimbun lumpur, hewan ternak mati, dan fasilitas umum seperti sekolah, balai pengajian, serta kantor keuchik juga mengalami kerusakan. Dua warga meninggal dunia dalam bencana ini, sementara para pengungsi masih membutuhkan bantuan dasar seperti MCK, selimut, air bersih, serta layanan kesehatan.

Kerugian Material yang Besar

Hampir dua pekan setelah banjir bandang melanda Kabupaten Pidie Jaya, tumpukan kayu gelondongan masih ada di aliran Krueng Meureudu. Keuchik Gampong Meunasah Raya, Kecamatan Meurah Dua, A Halim Ishak menyampaikan bahwa banjir kali ini merupakan yang terparah dalam sejarah desanya.

Menurutnya, banyak hewan ternak mati terkubur lumpur. Sebanyak 15 ekor lembu dan 60 ekor kambing milik warga ditemukan mati. Selain itu, 288 rumah mengalami kerusakan, dengan 179 di antaranya rusak berat. Fasilitas publik seperti satu bangunan SDN, satu PAUD, kantor keuchik, tiga balai pengajian, serta Dayah Abi Anwar juga turut rusak.

Tidak hanya itu, banjir juga menimbun 15 mobil dan 500 sepeda motor. Air naik dengan sangat cepat, mencapai ketinggian hingga dua meter, sehingga warga tidak sempat menyelamatkan harta bendanya. Banyak warga hanya fokus menyelamatkan diri, bahkan ada yang naik ke plafon rumah karena air datang begitu cepat.

Ancaman Banjir Susulan

A Halim Ishak menegaskan bahwa persoalan paling mendesak saat ini adalah penanganan tumpukan kayu yang menyumbat jembatan Krueng Meureudu. Ia mengingatkan bahwa selama material kayu tersebut belum dipindahkan, potensi banjir susulan sangat tinggi.

“Kayu gelondongan itu harus segera dibersihkan. Kalau tidak, setiap hujan, air sungai akan meluap karena tidak ada aliran lagi,” tegasnya. Ia menjelaskan bahwa luapan air bahkan sudah mengalir ke badan jalan dan mengubahnya menjadi jalur sungai baru. Kondisi ini dinilai mengancam keselamatan warga jika penanganan tak segera dilakukan.

Korban Jiwa dan Kondisi Pengungsian

Selain kerusakan material, bencana ini juga menelan korban jiwa. Dua warga Meunasah Raya dilaporkan meninggal dunia. Rosmani (50), perempuan penderita stroke, ditemukan tewas setelah terjebak banjir di dalam rumahnya. Sementara seorang warga lainnya, Akrami (61), meninggal dunia setelah banjir usai karena kondisi kesehatan yang menurun.

Situasi di lokasi pengungsian pun memprihatinkan. Para pengungsi disebut sangat membutuhkan fasilitas MCK, selimut, dan air bersih. Selain itu, mulai muncul keluhan penyakit kulit seperti gatal-gatal. Dinkes Pidie Jaya dan Puskesmas Meurah Dua juga masih digenangi lumpur, sehingga pelayanan terbatas.

Warga berharap pemerintah mempercepat pembersihan sungai dan penanganan dampak banjir agar mereka dapat kembali beraktivitas dengan aman.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan