UGM bangun 100 hunian di Aceh Utara bersama warga terdampak

Kolaborasi UGM dan Rumah Zakat Membangun 100 Hunian Sementara di Aceh Utara

Setelah sebelumnya memanfaatkan kayu hanyut untuk mendirikan hunian sementara (huntara) bagi korban banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada pertengahan Desember lalu, kini UGM kembali berkolaborasi dengan Rumah Zakat. Kali ini, mereka siap membangun 100 unit huntara di Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara.

Rumah Zakat sebagai mitra kemanusiaan memberikan dukungan pendanaan serta memfasilitasi kebutuhan dasar selama proses pembangunan. Namun, kolaborasi ini tidak hanya terbatas pada penyediaan hunian. Program ini juga melibatkan peningkatan kapasitas warga melalui pelatihan keterampilan konstruksi.

Pelatihan Keterampilan Konstruksi Kayu yang Aplikatif

Program ini menempatkan warga sebagai subjek utama dalam proses pemulihan, didukung oleh keilmuan dan pendampingan teknis dari UGM. Sebanyak 14 peserta yang mengikuti pelatihan berasal dari Desa Geudumbak dan wilayah sekitarnya. Ketua Tim Tangguh Fakultas Teknik UGM Ashar Saputra menjelaskan bahwa pelatihan tersebut membekali warga dengan keterampilan konstruksi kayu yang aplikatif.

Menurut Ashar, antusiasme warga adalah modal penting dalam pelaksanaan pembangunan huntara. Keterlibatan mereka dalam tiap tahap dapat mempercepat pengerjaan sekaligus menumbuhkan rasa kepemilikan terhadap hunian yang dibangun.

Desain Hunian Sederhana dan Mudah Direplikasi

Desain huntara yang diterapkan menggunakan pendekatan konstruksi sederhana agar mudah dipahami dan direplikasi. Tim UGM mendampingi warga dalam memahami teknik pembangunan rumah papan berukuran 6x6 meter tersebut. Warga bisa berkontribusi membangun rumahnya sendiri.

“Kami melihat warga sangat cepat memahami teknologi konstruksi yang kami perkenalkan,” ungkap Ashar dalam publikasi UGM, Sabtu (3/1/2026). Ia melanjutkan, warga sangat antusias karena bisa berkontribusi membangun rumahnya sendiri serta melihat hasilnya secara real-time.

Tantangan Nonteknis di Lapangan

Inisiatif tersebut tidak lepas dari sejumlah tantangan nonteknis yang terjadi di lapangan. Keterbatasan listrik, air bersih, serta kondisi jalan yang berlumpur akibat hujan memerlukan penyesuaian dalam proses kerja. Masalah tersebut dapat teratasi melalui bantuan dari Rumah Zakat dan gotong royong warga. Pihak Rumah Zakat menyiapkan genset serta mengupayakan sumur dan toren air supaya pembangunan huntara dapat berjalan lancar.

Dampak Signifikan bagi Penyintas Banjir

Dengan bantuan tersebut, pendampingan pembangunan huntara dapat tetap berjalan. “Di lokasi ini tantangan utamanya memang listrik, air bersih, dan akses, tapi itu masih bisa kami atasi bersama warga,” ujar Ashar.

Perwakilan Rumah Zakat Ar Razi Izzatul Yazid mengungkapkan, kehadiran hunian sementara mampu memberi dampak signifikan bagi penyintas banjir dalam fase pemulihan. Hunian memungkinkan warga kembali tinggal dengan aman, nyaman, serta menjaga privasi keluarga. Keterlibatan warga juga membuka peluang pemulihan ekonomi lokal. Warga mendapat wawasan baru yang dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang.

Keberlanjutan dan Pemulihan Jangka Panjang

Program ini bukan hanya tentang membangun tempat tinggal sementara, tetapi juga memberikan kesempatan bagi warga untuk belajar dan berkembang. Dengan adanya pelatihan dan partisipasi aktif, warga tidak hanya merasa memiliki hunian, tetapi juga memiliki kemampuan untuk membangun dan merawatnya.

Selain itu, inisiatif ini menjadi contoh bagaimana kolaborasi antara institusi pendidikan dan organisasi kemanusiaan dapat menciptakan solusi yang berkelanjutan dan berdampak luas. Dengan kombinasi pendidikan, teknologi, dan semangat gotong royong, masyarakat bisa bangkit dari krisis dan kembali membangun kehidupan yang lebih baik.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan