UGM kembangkan geoportal peta bencana Sumatra berbasis data spasial

UGM kembangkan geoportal peta bencana Sumatra berbasis data spasial

Pengembangan Geoportal Informasi Dasar Kebencanaan di UGM

Universitas Gadjah Mada (UGM) telah melakukan inovasi besar dalam pengelolaan bencana dengan mengembangkan Geoportal Informasi Dasar Kebencanaan berbasis data spasial. Proyek ini bertujuan untuk mendukung penanganan bencana di wilayah Sumatra, khususnya dalam fase tanggap darurat.

Peta kebencanaan yang dikembangkan memiliki beberapa fungsi penting, seperti peta needs map, peta area terdampak, dan rapid damage assessment map. Tujuan utamanya adalah untuk memberikan informasi yang akurat dan cepat agar bantuan dapat diberikan secara efektif dan merata.

Dekan Fakultas Geografi UGM, Prof. Muhammad Kamal, S.Si., M.GIS., Ph.D., menjelaskan bahwa pengembangan geoportal ini muncul dari masalah yang sering terjadi dalam manajemen bencana. “Banyak kali bantuan tidak merata karena kurangnya data spasial yang akurat. Kami ingin mengubah pola tersebut dari berbasis asumsi menjadi berbasis data,” ujarnya.

Tim yang terlibat dalam pengembangan Geoportal Informasi Dasar Kebencanaan terdiri dari relawan dari Fakultas Geografi, Program Studi Teknik Geodesi Fakultas Teknik, serta Program Studi Sistem Informasi Geografis Sekolah Vokasi UGM. Dengan kolaborasi ini, tim berhasil menghasilkan enam luaran peta yang sangat berguna dalam penanganan bencana.

Beberapa peta yang dihasilkan antara lain: * Peta fasilitas kesehatan dan shelter * Peta permukiman terdampak * Needs map * Peta banjir * Peta before-after * Peta aksesibilitas jalan

Wakil Dekan Fakultas Geografi UGM, Dr. Sigit Heru Murti B.S., S.Si., M.Si., menambahkan bahwa platform ini dikembangkan sebagai WebGIS partisipatif berbasis crowdsourcing. “Kami mengembangkan WebGIS agar masyarakat terdampak bisa melaporkan secara langsung kebutuhan mereka, lengkap dengan lokasi dan kontak person. Dosen dan mahasiswa di kampus bertindak sebagai ‘dapur data’ untuk memverifikasi laporan tersebut,” ungkapnya.

Hasil dari needs map kemudian diadopsi oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui Dashboard WebGIS InaRISK. Metode crowdsourcing ini dinilai sangat efektif pada tahap quick response, karena korban dapat melaporkan langsung apa yang mereka butuhkan dan di mana lokasinya.

Dalam pengembangan ini, UGM juga menggandeng berbagai pihak untuk memastikan bahwa informasi yang diberikan akurat dan dapat diandalkan. Tim yang terlibat bekerja sama untuk memvalidasi data yang masuk dan memastikan bahwa setiap laporan yang diterima dapat digunakan secara efektif dalam penanganan bencana.

Selain itu, proyek ini juga membuka peluang bagi mahasiswa dan dosen untuk ikut serta dalam proses pengumpulan dan verifikasi data. Hal ini tidak hanya meningkatkan partisipasi masyarakat, tetapi juga memberikan pengalaman nyata bagi para mahasiswa dalam menghadapi situasi darurat.

Dengan adanya Geoportal Informasi Dasar Kebencanaan, diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam penanganan bencana. Data spasial yang akurat akan menjadi fondasi utama dalam pengambilan keputusan, baik oleh pemerintah maupun lembaga bantuan.

Proyek ini juga menjadi contoh bagaimana teknologi dan partisipasi masyarakat dapat saling mendukung dalam upaya mitigasi bencana. Melalui kerja sama yang erat antara akademisi, masyarakat, dan instansi terkait, diharapkan dapat menciptakan sistem penanganan bencana yang lebih responsif dan berkelanjutan.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan