UKSW dan BRIN bekerja sama: Riset Lestarikan Budaya Nusantara

UKSW dan BRIN bekerja sama: Riset Lestarikan Budaya Nusantara

Kampus Entrepreneurship Research University UKSW Perkuat Kolaborasi Riset

Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) yang dikenal sebagai kampus Entrepreneurship Research University terus memperkuat jalinan kolaborasi risetnya dengan berbagai pihak. Salah satu inisiatif utamanya adalah melalui Pusat Unggulan Batik-Tenun Creative Innovation Hub (PUI BaTeCH) yang telah menjalin kerja sama dengan 14 universitas di Indonesia dan 10 pelaku usaha terkait inovasi peningkatan daya saing dan keberlanjutan Wastra Nusantara.

Selain bekerja sama dengan universitas dan pelaku usaha, PUI BaTeCH juga mengokohkan kolaborasinya dengan Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa dan Sastra Badan Riset Nasional (BRIN). Kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) pada Jumat (6/12/2025) di ruang Grha Kartini Kampus UKSW.

PKS tentang Ekspedisi Tenun Ikat dan Tenun Pahikung

PKS ini fokus pada ekspedisi tenun ikat dan tenun Pahikung di empat kabupaten Pulau Sumba dalam pelestarian Wastra Nusantara. Penandatanganan PKS dilakukan oleh Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Kewirausahaan (RIK) UKSW Profesor Eko Sediyono dan Kepala Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan Dr. Sastri Sunarti, M.Hum.

Acara kemudian dilanjutkan dengan seminar nasional Wastra Nusantara yang dikemas dalam dialog nasional berdasarkan hasil penelitian, pengabdian masyarakat, dan advokasi kebijakan dari berbagai lembaga, pemerintah, dan pelaku usaha. Kegiatan ini diselenggarakan secara hybrid melalui zoom meeting dan diikuti oleh puluhan insan pendidikan tinggi, rektor dari universitas mitra, mahasiswa, asisten peneliti, serta pelaku usaha.

Rektor UKSW Mengapresiasi Kolaborasi Riset

Rektor UKSW Profesor Intiyas Utami menyampaikan apresiasinya terhadap kolaborasi riset antar lembaga ini. Baginya, kegiatan ini bukan hanya kewajiban, tetapi upaya untuk memastikan setiap daerah terus mengembangkan potensinya.

Kolaborasi ini dapat dilakukan bersama, karena memiliki jejaring kolaborasi antar bangsa yang terus berkembang. Banyak hal yang sudah dicapai, termasuk pengembangan wastra, ujarnya.

Ia juga berharap kolaborasi ini dapat melibatkan berbagai pihak yang memiliki kompetensi wastra di berbagai daerah di Indonesia. Kami ingin memastikan bahwa aset budaya dan kreativitas bangsa dapat dirawat, dibesarkan, dan dikembangkan secara berkelanjutan, tambahnya.

Memperkuat Jaringan Kolaborasi

Pemrakarsa PUI BaTeCH UKSW Dr. Ir Arianti Ina R. Hunga, M.Si., menjelaskan bahwa seminar nasional dan penandatanganan PKS ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat jaringan kolaborasi, menjalankan sinergi, dan menyatukan sumber daya untuk menindaklanjuti upaya pelestarian kain tradisional.

Kekayaan yang kita miliki jangan sampai hilang, tetapi justru menjadi kekuatan yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia, yang dapat kita banggakan dan bawa dalam dialog dengan bangsa lain. Mari kita terus mengawal kreativitas dan warisan budaya, katanya.

Di samping itu, ia juga menjelaskan bahwa WastraNusa-Hub diusulkan sebagai Pusat Kolaborasi Riset Industri (PKR Industri) yang berorientasi pada pengembangan inovasi teknologi dan prototipe ekotekstil regeneratif berbasis kearifan lokal.

Melestarikan Wastra Nusantara

Kerja sama ini mendapatkan tanggapan positif dari berbagai pihak, termasuk Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra Profesor Dr. Herry Yogaswara, M.A. Ia berharap kerja sama antar lembaga bisa diimplementasikan bersama dan membuat proyek untuk melestarikan wastra nusantara.

Kegiatan ini merupakan salah satu kontribusi nyata UKSW untuk mendukung program Diktisaintek Berdampak yang selaras dengan Asta Cita ke-4 yaitu memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM), sains, teknologi, dan pendidikan.

Kontribusi UKSW dalam Pembangunan Berkelanjutan

Acara ini juga menegaskan kiprah UKSW dalam mendukung pencapaian SDGs, seperti pendidikan berkualitas, kesetaraan gender, pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, inovasi dan infrastruktur industri, konsumsi dan produksi berkelanjutan, penanganan perubahan iklim, serta kemitraan untuk mencapai tujuan.

Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak 1956 dengan 15 fakultas dan 64 program studi di jenjang D3 hingga S3, dengan 34 Prodi Unggul dan A. Terletak di Salatiga, UKSW dikenal dengan julukan Kampus Indonesia Mini, mencerminkan keragaman mahasiswanya yang berasal dari berbagai daerah.

Selain itu, UKSW juga dikenal sebagai "Creative Minority" yang berperan sebagai agen perubahan dan inspirasi bagi masyarakat. Salam Satu Hati UKSW!

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan