
SURABAYA, aiotrade
Sore di Wiyung, Surabaya, hujan baru saja reda. Genangan air kecil memantulkan lampu-lampu kendaraan yang mulai menyala, seolah-olah kota ini sedang menahan napas sebelum malam tiba.
Di antara deru mesin dan klakson, sebuah Honda Beat tua melaju pelan. Pengendaranya seorang ibu berkerudung gelap dengan rompi merah khas driver ACI (Aku Cinta Indonesia).
Ketika turun dari motor, langkahnya pincang. Mata kakinya bengkak, tapi wajahnya tetap tenang. Dia Ambarwati (53), yang lebih akrab dipanggil Ummu Vio. Setiap hari hidupnya dimulai sebelum fajar. Shalat subuh, menyiapkan kebutuhan rumah, lalu mengantar dua anak yatim ke sekolah—gratis, karena itu bagian dari misi ACI.
Baru setelah itu ia "on bid", menyalakan aplikasi, dan menjemput orderan pertama. "Pulangnya nggak tentu. Kadang maghrib, kadang jam delapan, kadang jam sepuluh, bahkan jam sebelas malam," kata dia pelan, saat ditemui pada Senin (1/12/2025).
Di waktu-waktu menunggu order, ia merangkai bros. Kadang ada pesanan khusus dari pelanggan, kadang ia titipkan hasil karyanya di kantor Dinas. Tangan yang sama yang memegang stang motor, memilah manik-manik warna-warni—seperti sedang merajut harapan kecil di sela-sela kerasnya jalanan.
Anak semata wayang
Mata Vio tiba-tiba berkaca-kaca saat bicara soal anak semata wayangnya yang kini duduk di semester tujuh Program Studi Bahasa Inggris UIN Sunan Ampel Surabaya. "Semester tujuh harus sudah mulai skripsi, biar nggak bayar UKT lagi di semester delapan. UKT-nya... cembung," ujarnya sambil tertawa kecil.
"Lima juta delapan ratus sekian," sambung dia menyebut besaran UKT yang menjadi tanggung jawabnya. Dulu, sebelum Pandemi Covid-19 datang dan merenggut kesehatan suaminya, Ummu Vio adalah ibu rumah tangga tulen. Ia punya usaha kecil di rumah, berjualan sembako, alat tulis, jajanan, kosmetik, bahkan pernah jadi agen Tupperware selama enam tahun.
Modal pertama cuma satu juta rupiah, tapi cukup untuk menabung dan membiayai sang anak mondok di eLKISI—sekolah terbaik yang ia perjuangkan. Lalu stroke datang. Suaminya tak lagi bisa bekerja lagi. Peran tulang punggung keluarga jatuh ke pundaknya. Kini ia harus mengurus suami yang fisiknya sudah tak lagi kuat, usianya tak lagi muda, dan biaya kuliah di depan mata, semua ditopang oleh Honda Beat tua, dan aplikasi di ponselnya.
"Tadi saya diseruduk mobil dari belakang. Makanya kaki bengkak, jalannya pincang," kata dia sambil mengelus pelan mata kaki yang membiru. "Tantangannya ya aspal, kendaraan, ditabrak, ngantuk, bahaya," sebut dia. Tapi ketika ditanya apa yang membuatnya tetap bertahan, suaranya justru menjadi lebih mantap.
"Kekuatan saya ya mesti harus bertahan. Masih ada orangtua, suami yang perlu diperhatikan, anak yang masih butuh biaya kuliah. Pertama dari Allah, kedua dari keluarga. Pertolongan kita semua dari Allah," kata dia. Ia bergabung dengan ACI awalnya hanya untuk tambahan income. Tapi kemudian ia jatuh cinta pada program antar jemput gratis untuk anak yatim, anak panti asuhan, dan anak berkebutuhan khusus.
"Bisa dua, ada income, tapi juga bermanfaat buat orang lain. Gajinya nggak cuma di dunia, ada gaji di akhirat," kata dia lagi. Jika suatu hari ia boleh memilih lagi, ia ingin kembali berusaha dari rumah. Ingin bisa menyapu lantai, merendam baju, mencuci pakaian, mengurus suami, menemani ibunya—sambil tetap menghasilkan.
Dia ingin melihat sang buah hati lulus, bekerja di BUMN atau jadi pengajar. "Kalau mengajar, nanti bisa ngeles-ngeles di rumah," candanya dengan suara penuh harap. Sore itu, hujan sudah benar-benar berhenti. Ummu Vio kembali mengenakan helm bututnya. Kaki yang sakit ia seret pelan, tapi tangannya tetap kuat mengangkat paket pesanan. Motor tua itu melaju lagi, meninggalkan genangan-genangan kecil yang terus memantulkan lampu kota. Di balik punggung ibu yang terus bergerak itu, ada cinta yang tak pernah padam. "Semua ini saya lakukan untuk keluarga," kata dia sebelum pergi.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar