Uni Eropa: Berhenti Lindungi Iklim?

Perubahan Kebijakan Lingkungan di Uni Eropa

Di tengah berbagai tantangan ekonomi, politik, dan lingkungan, Uni Eropa sedang menghadapi perubahan signifikan dalam kebijakan lingkungannya. Perubahan ini tidak hanya memengaruhi industri dan pertanian, tetapi juga menimbulkan pertanyaan besar tentang komitmen UE terhadap lingkungan dan peran partai-partai sayap kanan dalam proses pengambilan keputusan.

Pelemahan Kewajiban Pelaporan bagi Perusahaan

Salah satu aspek utama dari Perjanjian Hijau 2019 adalah Undang-Undang Rantai Pasokan UE dan kewajiban perusahaan untuk melaporkan dampak sosial dan lingkungan mereka. Tujuan dari aturan ini adalah untuk meningkatkan transparansi dan membuat tanggung jawab perusahaan lebih jelas.

Namun, seiring dengan tekanan dari kelompok konservatif di Parlemen Eropa, beberapa aturan tersebut kini dilemahkan. Perusahaan kecil dan menengah tidak lagi wajib menyusun laporan tahunan, sementara aturan ini kini hanya berlaku untuk perusahaan besar dengan omzet ratusan juta euro. Kritikus mengatakan bahwa pengurangan kewajiban pelaporan ini dapat mengurangi transparansi dan mengancam basis data yang diperlukan untuk mengelola risiko keuangan terkait iklim.

Pengawasan Rantai Pasokan yang Makin Longgar

Aturan dalam Undang-Undang Rantai Pasokan juga mulai melemah. Sebelumnya, ribuan perusahaan besar di sektor berisiko tinggi seperti tekstil, perikanan, dan pertambangan harus mengidentifikasi dan menghentikan pelanggaran hak asasi manusia atau kerusakan lingkungan. Namun, aturan baru hanya berlaku untuk perusahaan multinasional dengan lebih dari 5.000 karyawan dan omzet minimal 1,5 miliar euro. Selain itu, korban pelanggaran lingkungan dan HAM tidak lagi memiliki hak untuk menggugat, dan perusahaan tidak lagi diwajibkan menyusun strategi iklim.

Produk Bebas Deforestasi? Sepertinya Belum

Uni Eropa sebelumnya telah menyepakati aturan untuk melindungi hutan, terutama dalam produk seperti teh, kopi, kedelai, dan daging sapi. Namun, penerapan aturan ini ditunda hingga akhir 2026, dan jumlah perusahaan yang wajib membuktikan bahwa produk mereka bebas dari deforestasi juga berkurang.

Hutan berperan penting dalam menyimpan karbon dan menjaga keanekaragaman hayati. Konsumsi UE menyumbang sekitar 10% dari deforestasi global, dengan minyak sawit dan kedelai menyumbang lebih dari dua pertiga dari total tersebut.

Pelemahan Regulasi Lingkungan demi Pertanian

Sejumlah regulasi lingkungan yang awalnya mendorong produksi pangan yang lebih berkelanjutan kini dilonggarkan. Misalnya, Undang-Undang Konservasi Alam yang seharusnya melindungi lahan gambut dilemahkan, dan inspeksi standar lingkungan dibatasi maksimal sekali setahun. Di saat yang sama, petani kecil tetap bisa mengakses subsidi tanpa harus memenuhi standar lingkungan tertentu.

Strategi keberlanjutan sektor pertanian sebenarnya harus disesuaikan dengan aturan lingkungan terbaru, tetapi penyesuaian itu kini tidak lagi wajib.

Batas Waktu Pelarangan Mobil Bermesin Pembakaran Ditunda

Keputusan UE untuk menghentikan penjualan mobil bermesin pembakaran mulai 2035 kini terancam dibatalkan. Pemerintah Jerman menolak keras batas waktu tersebut, dan industri otomotif negara itu sejak awal menentang kebijakan ini. UE secara resmi memutuskan untuk meninjau kembali rencana penghentian mesin pembakaran, sehingga waktu penerapan larangan ini menjadi tidak jelas.

Komitmen Iklim Eropa yang Lebih Rendah

Target iklim Eropa kembali diturunkan. Dewan Penasihat Ilmiah UE sebelumnya merekomendasikan pengurangan emisi sebesar 9095% pada 2040. Namun, UE menyetujui target baru termasuk pengurangan emisi karbon sebesar 90%, dengan syarat sebagian pemotongan emisi boleh dicapai lewat proyek-proyek di luar negeri. Target ini juga masih bisa diubah apabila dianggap sulit diterapkan.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan