Utusan AS dan Putin Bertemu Hari Ini, Pakar: Perdamaian Sulit Terwujud

Utusan AS dan Putin Bertemu Hari Ini, Pakar: Perdamaian Sulit Terwujud

Pertemuan Utusan AS dengan Putin Fokus pada Perdamaian Ukraina

Pertemuan antara utusan khusus Amerika Serikat (AS), Steve Witkoff, dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, dijadwalkan berlangsung pada Selasa (2/12/2025) sore waktu setempat. Pertemuan ini menjadi fokus utama dalam upaya menciptakan perdamaian di Ukraina. Namun, banyak ahli memprediksi bahwa kesepakatan damai tidak akan tercapai dalam waktu dekat.

Agenda Utama dan Persiapan

Witkoff diperkirakan tiba di Moskow bersama menantu Presiden Trump, Jared Kushner. Meskipun sumber mengindikasikan kehadiran Kushner, Kremlin tidak menyebutkannya dalam pernyataan resmi. Pertemuan ini merupakan kunjungan keenam Witkoff ke Rusia sejak Januari 2025.

Agenda pertemuan ini adalah membahas proposal terbaru dari pemerintahan Presiden Donald Trump yang bertujuan mengakhiri konflik di Ukraina. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengonfirmasi agenda tersebut. "Pertemuan dengan Witkoff sudah direncanakan untuk besok," ujar Peskov, dikutip dari The Moscow Times.

Kerangka Kerja Perdamaian

Kerangka kerja perdamaian yang menjadi subjek diskusi hari ini merupakan rancangan yang disusun oleh pejabat AS dan Ukraina di Jenewa, Swiss, pada akhir pekan lalu. Proposal ini adalah versi revisi dari inisiatif perdamaian 28 poin yang sebelumnya bocor ke media bulan lalu. Versi terbaru rencana damai telah disederhanakan menjadi sekitar 20 poin.

Menurut pejabat AS, perubahan signifikan ini "secara substansial lebih baik" bagi pihak Ukraina, dan Kyiv telah menyetujui versi revisi tersebut. Namun, masih menjadi pertanyaan besar apakah Putin akan memberikan dukungan penuh terhadap perubahan yang ada.

Komentar dari Putin dan Reaksi di Kyiv

Sebelumnya, Putin menyatakan keterbukaan untuk mendiskusikan beberapa elemen dari rencana AS untuk mengakhiri konflik. Namun, ia juga melontarkan peringatan keras. Pemimpin Rusia itu menegaskan bahwa pasukan Moskow akan melanjutkan serangan mereka di wilayah Donbas jika Kyiv menolak untuk menerima persyaratan gencatan senjata yang diajukannya.

Proposal perdamaian 28 poin yang diajukan AS sempat menimbulkan keterkejutan dan kekhawatiran di Kyiv. Menurut laporan, proposal awal tersebut sangat mirip dengan dokumen yang pernah diajukan Rusia pada Oktober 2025. Poin-poin kunci seperti pengakuan kontrol Rusia atas Krimea dan Donbas, pembatasan militer Ukraina, serta penghentian ambisi Kyiv untuk bergabung dengan NATO, secara jelas merefleksikan tuntutan jangka panjang Kremlin.

Oleksiy Melnyk, Direktur Program Hubungan Luar Negeri dan Keamanan Internasional di Razumkov Center, Kyiv, bahkan berpendapat bahwa proposal itu "terlihat seperti dirancang untuk membantu kapitulasi Ukraina".

Tantangan dan Prediksi Pakar

Perbedaan pendapat antara Rusia dan Ukraina menjadi hambatan utama dalam proses negosiasi. Di satu sisi, Putin menegaskan bahwa gencatan senjata hanya akan terjadi jika Ukraina menarik pasukannya dari wilayah yang diduduki Rusia — sebuah tuntutan yang tidak dapat diterima oleh Kyiv. Di sisi lain, Kyiv tetap berpegang teguh pada prinsipnya, yakni tidak ada pembatasan aliansi atau militer, dan tidak ada pengakuan atas pendudukan Rusia terhadap wilayah kedaulatan Ukraina.

Jenny Mathers, pakar politik internasional, menyatakan: "Sesuatu yang signifikan harus berubah di lapangan sehingga salah satu atau kedua belah pihak dapat menyimpulkan bahwa mereka hanya memiliki sedikit atau tidak ada keuntungan sama sekali jika melanjutkan perang."

Langkah besar selanjutnya dalam proses perdamaian Trump adalah pertemuan yang direncanakan antara Witkoff dan Putin. Witkoff diharapkan menyampaikan versi kerangka perdamaian yang telah direvisi dan lebih dapat diterima oleh Ukraina. Namun, ekspektasi untuk mencapai terobosan tetap sangat rendah.

Alexandra Filippenko, pakar hubungan AS–Rusia, menilai pertemuan tersebut kemungkinan hanya akan menghasilkan pernyataan formal dan saluran komunikasi baru, "tetapi tentu saja bukan terobosan atau kesepakatan nyata apa pun".

Tanpa tekanan yang signifikan, Kremlin diyakini dapat mencapai tujuannya hanya dengan menunggu. Selama Moskow percaya bahwa mereka dapat meraih kemenangan di medan perang, insentif untuk membuat konsesi hampir tidak ada. Oleh karena itu, para pakar menyimpulkan bahwa perang di Ukraina kemungkinan besar akan berlarut-larut atau grind on tanpa kemajuan negosiasi yang berarti.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan