Venue Porprov Kepri 2026 di Tanjungpinang Kurang Fasilitas


Kepri Post –
Minimnya fasilitas arena atau venue olahraga menjadi tantangan besar dalam persiapan Pekan Olahraga Provinsi Kepulauan Riau (Porprov Kepri) 2026 yang akan diselenggarakan di Kota Tanjungpinang. Masalah ini dikhawatirkan dapat mengurangi kualitas penyelenggaraan ajang olahraga terbesar di tingkat provinsi tersebut, yang seharusnya menjadi barometer prestasi atlet menuju level nasional.

Sekretaris Seksi Wartawan Olahraga Indonesia (SIWO) Kepri, Abbas, menyoroti keterbatasan fasilitas olahraga di Ibu Kota Provinsi Kepulauan Riau itu. Menurutnya, meski Tanjungpinang sering menjadi tuan rumah berbagai event olahraga, evaluasi dan pembenahan sarana prasarana venue masih sangat minim.

“Banyak venue olahraga yang digunakan untuk pertandingan tidak memadai, bahkan bisa dikatakan tidak layak,” ujar Abbas, Rabu (2/1/2026).

Ia mencontohkan pengalaman pada Porprov sebelumnya, khususnya cabang olahraga voli yang digelar di Lapangan Tugu Pensil. “Lapangan tersebut tidak layak. Angin kencang, panas, bahkan ranting pohon bisa jatuh dan berpotensi mencederai atlet,” katanya.

35 Cabor Terancam Terkendala Venue
Saat ini, Kota Tanjungpinang tengah melakukan berbagai persiapan, termasuk koordinasi penentuan venue-venue olahraga yang akan digunakan pada Porprov Kepri 2026. Tercatat, sebanyak 35 cabang olahraga direncanakan untuk dipertandingkan.

Namun demikian, Abbas mempertanyakan kesiapan fasilitas, terutama untuk cabang olahraga voli, mengingat hingga kini gelanggang olahraga (GOR) indoor yang representatif masih belum tersedia. “Kita masih bertanya-tanya, voli nanti akan digelar di mana? Sampai sekarang fasilitasnya belum ada,” ungkapnya.

Menurut Abbas, keterbatasan fasilitas olahraga yang terstandar tidak hanya berdampak pada penyelenggaraan event, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap prestasi atlet daerah, terutama saat berlaga di luar daerah. Ia menuturkan pengalamannya saat meliput atlet Kepri di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON). Banyak atlet kesulitan beradaptasi karena terbiasa berlatih di lapangan outdoor, sementara pertandingan digelar di venue indoor dengan fasilitas modern.

“Kita latihan di outdoor, tapi saat tanding di indoor dengan pencahayaan lampu dan fasilitas lengkap, atlet kita kesulitan beradaptasi. Akhirnya performa tidak maksimal,” jelas Abbas.

Peluang Lahan HGU dan HGB untuk Fasilitas Olahraga
Abbas berharap pemerintah daerah, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, serius membangun fasilitas gelanggang olahraga yang lengkap dan terstandar. Ia juga menyoroti ironi sebagai daerah pesisir, namun hingga kini Tanjungpinang belum memiliki venue voli pantai yang memadai.

Selama ini, kendala utama yang kerap disampaikan pemerintah adalah keterbatasan lahan. Namun Abbas menilai, kebijakan pemerintah pusat terkait pengembalian lahan HGU dan HGB yang tidak diperpanjang dapat menjadi peluang besar bagi daerah. “Kebijakan ini seharusnya dimanfaatkan untuk membangun fasilitas olahraga. Sudah saatnya kepala daerah di tingkat provinsi dan kabupaten/kota serius membangun sarana olahraga demi kemajuan prestasi daerah,” tegasnya.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan