Verrell Bramasta Tampil di Lokasi Banjir Sumatera, Ini Fungsi Rompi Taktisnya

Verrell Bramasta Tampil di Lokasi Banjir Sumatera, Ini Fungsi Rompi Taktisnya

Verrell Bramasta dan Kontroversi Rompi Taktis di Lokasi Banjir Sumatera

Kunjungan aktor sekaligus politisi Verrell Bramasta ke lokasi banjir bandang di Sumatera Barat mendadak menjadi perbincangan luas di media sosial. Bukan hanya karena kehadirannya di tengah korban bencana, tetapi juga karena busana yang ia kenakan. Dalam dokumentasi yang dibagikan melalui akun Instagram pribadinya, Verrell terlihat meninjau lokasi pengungsian korban banjir bandang. Ia mengenakan kaos hitam berlengan pendek, celana panjang abu-abu gelap, sepatu bot hijau army, dan sebuah rompi loreng bertuliskan namanya.

Penampilannya tersebut dinilai sebagian warganet tidak sesuai dengan kondisi bencana alam. Di sisi lain, rompi yang dikenakan kerap dianggap menyerupai rompi antipeluru atau rompi taktis yang biasa digunakan di situasi konflik keamanan. Karena hal inilah, Verrell Bramasta pakai rompi taktis ke lokasi banjir di Sumatera kemudian ramai disebut sebagai aksi yang kurang tepat sasaran.

Tuduhan Pencitraan Menguat di Media Sosial

Alih-alih mendapat pujian, kehadiran Verrell justru menuai kritik tajam. Banyak warganet menyebut langkah tersebut terkesan berlebihan dan sarat pencitraan. Misalnya, sejumlah komentar mempertanyakan alasan penggunaan rompi taktis dalam kondisi banjir lumpur, bukan situasi berisiko tinggi secara keamanan. Di sisi lain, sebagian warganet menyindir bahwa penampilan tersebut lebih mirip adegan syuting daripada aksi kemanusiaan. Bahkan, beberapa komentar menuliskan kalimat bernada satire seolah-olah kamera sedang merekam adegan film.

Meski demikian, ada pula yang menilai perhatian seharusnya difokuskan pada korban bencana, bukan semata pada busana relawan. Namun tetap saja, isu Verrell Bramasta pakai rompi taktis ke lokasi banjir di Sumatera terlanjur mendominasi ruang diskusi publik.

Aktivitas di Lokasi Banjir

Terlepas dari kontroversi, Verrell tidak hanya datang untuk berfoto. Dalam beberapa unggahan, ia tampak berinteraksi dengan warga, berdialog dengan aparat TNI dan Polri, serta ikut membantu membersihkan lumpur di dalam rumah warga. Selain itu, ia menyampaikan bahwa kunjungannya bertujuan memberikan dukungan langsung kepada korban. Verrell mengaku mendengar banyak cerita kehilangan dan perjuangan warga untuk bertahan di tengah situasi sulit.

“Saya berusaha hadir bukan hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan bantuan pribadi untuk menopang apa yang dibutuhkan. Kita mungkin tidak bisa memperbaiki semuanya dalam satu hari, tetapi kepedulian adalah awal pemulihan,” tulisnya dalam keterangan unggahan.

Di sisi lain, pernyataan tersebut belum cukup meredam kritik yang terus mengalir di kolom komentar.

Apa Fungsi Rompi Taktis di Lokasi Bencana?

Pertanyaan besar pun muncul: apa sebenarnya fungsi rompi taktis di lokasi bencana alam? Dalam praktik kebencanaan, rompi taktis atau rompi lapangan biasanya digunakan untuk membawa peralatan, identitas, atau alat komunikasi. Selain itu, rompi semacam ini bisa memuat kantong tambahan untuk logistik kecil. Namun, di sisi lain, rompi antipeluru umumnya digunakan dalam operasi keamanan berisiko tinggi, seperti konflik bersenjata. Karena itu, saat Verrell Bramasta pakai rompi taktis ke lokasi banjir di Sumatera, warganet menilai penggunaannya kurang relevan dengan kondisi banjir lumpur.

Perbedaan persepsi inilah yang memicu polemik berkepanjangan di ruang digital.

Latar Belakang Bencana Banjir di Sumatera

Kontroversi ini terjadi di tengah duka mendalam akibat bencana banjir dan tanah longsor di wilayah Sumatera. Berdasarkan data Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Bencana Badan Nasional Penanggulangan Bencana, jumlah korban meninggal tercatat mencapai 604 orang. Rinciannya, Sumatera Utara mencatat 283 korban jiwa, Sumatera Barat 165 korban, dan Aceh 156 korban. Selain itu, ratusan orang dinyatakan hilang dan ribuan lainnya mengalami luka-luka.

Di sisi lain, kerusakan infrastruktur juga sangat besar. Lebih dari 3.500 rumah rusak berat, 4.100 rumah rusak sedang, dan sekitar 20.500 rumah rusak ringan. Puluhan jembatan dan ratusan fasilitas pendidikan juga terdampak.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan