Wagub Aceh Fadhlullah Tenggelam Saat Pantau Banjir, Mantan Panglima GAM

Insiden Tak Terduga Saat Wagub Aceh Meninjau Wilayah Terdampak Banjir

Pada Minggu (21/12/2025), Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah atau yang akrab disapa Dek Fadh, mengalami insiden tak terduga saat meninjau lokasi banjir di Pameu, Kecamatan Rusip Antara, Kabupaten Aceh Tengah. Insiden ini terjadi ketika rombongan Wagub Aceh menggunakan rakit darurat untuk menyeberangi sungai. Namun, rakit tersebut tiba-tiba terbalik, sehingga membuat Dek Fadh dan rombongannya jatuh ke dalam air.

Perjalanan menuju Pameu bukanlah perjalanan biasa, sebab wilayah tersebut masih terisolasi pasca-bencana banjir dan tanah longsor yang menerjang Provinsi Aceh. Jalur yang dilalui disebut sangat ekstrem dengan akses yang sangat terbatas. Kondisi jalan yang rusak memaksa rombongan menyeberangi sungai yang berarus cukup deras. Dengan ditemani beberapa tim, rombongan Fadhlullah pun melintasi sungai menggunakan rakit darurat. Rakit itu berjalan menyeberangi sungai dengan menggunakan tarikan sebuah tali. Saat rakit hendak sampai ke sisi wilayah lain atau seberang sungai, tiba-tiba rakit itu terbalik. Fadhlullah dan rombongannya pun tercebur ke sungai tanpa pelampung.

Sontak, beberapa warga dan anggota TNI yang berada di pinggir sungai menghampirinya untuk misi penyelamatan. Staf Khusus Dek Fadh, Muhammad Daud, memastikan kondisi orang nomor dua di Aceh itu dalam keadaan baik-baik saja. "Pak Wagub alhamdulillah baik-baik saja. Alhamdullilah tidak (luka-luka atau hal lain)," katanya saat dihubungi kompas.com, Senin (22/12/2025). Muhammad Daud mengatakan, saat ini Wagub Fadhlullah sudah langsung kembali melakukan peninjauan ke lokasi terdampak banjir.

Profil Singkat Wakil Gubernur Aceh

Fadhlullah lahir pada 15 Juni 1981 di Pidie, Aceh. Ia menempuh pendidikan dasar di SD Negeri Aron, Glumpang Tiga, Aceh (1987), MTs.S Jeumala Amal Lueng Putu, Pidie, Aceh (1993), dan Madrasah Aliyah Darussa’adah, Glumpang Tiga, Aceh (2005). Dek Fadh kemudian melanjutkan pendidikannya di STIM Banda Aceh pada tahun 2009. Fadhlullah pernah menjadi Panglima Komando Operasi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Wilayah Pidie. Ayah dua anak itu kini dikenal sebagai pengusaha. Ia menjabat sebagai Direktur Utama PT. Krueng Simpang sejak tahun 2008 hingga 2014. Selain itu, Fadhlullah juga menjadi anggota Himpunan Pengusaha Migas Aceh sejak 2009.

Fadhlullah kemudian melebarkan sayapnya ke dunia politik. Ia menjabat sebagai anggota DPR RI Fraksi Partai Gerindra selama dua periode, yakni 2014-2019 dan 2019-2024. Pada pemilihan kepala daerah (Pilkada) 2024, Fadhlullah berhasil terpilih sebagai Wakil Gubernur Aceh. Ia mendampingi Muzakir Manaf atau yang akrab disapa Mualem, sebagai Gubernur Aceh untuk periode 2025-2030. Keduanya akan dilantik pada Rabu, 12 Februari 2025.

Organisasi dan Penghargaan

Fadhlullah aktif dalam berbagai organisasi. Beberapa posisi penting yang ia duduki antara lain Ketua DPD Partai Gerindra Aceh, Bendahara DPD Partai GERINDRA Aceh, Ketua KNPI Kabupaten Pidie, Wakil Ketua Kamar Dagang & Industri Daerah (Kadinda) Kabupaten Pidie, Bendahara Organisasi Kepemudaan Mahasiswa Pancasila Kabupaten Pidie, Wakil Ketua DPW Pidie Partai Aceh, Anggota Himpunan Pengusaha Migas Aceh, Panglima Operasi Wilayah Pidie Gerakan Aceh Merdeka (GAM), dan Ketua Organisasi Santri Dayah Jeumala Amal, Aceh.

Selain itu, Fadhlullah juga pernah meraih beberapa penghargaan, seperti Pendidikan Lemhannas 2014 dan Pendidikan Lemhannas 2019.

Harta Kekayaan


Fadhlullah tercatat memiliki total harta sebesar Rp 27,6 miliar. Hartanya itu terdaftar di dalam Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Fadhlullah terakhir kali melaporkan hartanya di LHKPN KPK pada 19 Agustus 2024 untuk periodik 2023. Harta terbanyak Fadhlullah berasal dari tanah dan bangunan yang ia miliki di wilayah Banda Aceh, Pidie, dan Pidie Jaya, senilai Rp 25.697.300.000. Berikut adalah daftar harta kekayaan Fadhlullah:

DATA HARTA
A. TANAH DAN BANGUNAN Rp. 25.697.300.000
B. ALAT TRANSPORTASI DAN MESIN Rp. 648.000.000
C. HARTA BERGERAK LAINNYA Rp. 3.200.532.000
D. SURAT BERHARGA Rp.---
E. KAS DAN SETARA KAS Rp. 1.000.000.000
F. HARTA LAINNYA Rp.---
Sub Total Rp. 30.545.832.000
III.HUTANG Rp. 2.850.000.000
IV. TOTAL HARTA KEKAYAAN (II-III) Rp. 27.695.832.000

Perjalanan Menuju Ke Baik

Insiden tercebur ke sungai tidak menyurutkan langkah Fadhlullah untuk terus memastikan penanganan dan perhatian pemerintah daerah terhadap masyarakat di wilayah terpencil dan terdampak. "Risiko mungkin kami hadapi, tetapi harapan masyarakat jauh lebih besar," tegas Fadhlullah.


Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah (Dek Fadh), sempat jatuh ke sungai saat mengunjungi wilayah terdampak banjir di Kawasan Pameu, Kabupaten Aceh Tengah, Minggu (21/12/2025). Rakit darurat yang ditumpangi Dek Fadh bersama GM PLN Aceh terbalik saat menyeberangi sungai. Dalam inisiden itu, semua rombongan yang ada di atasnya jatuh dalam air. Diberitakan sebelumnya, rakit yang dinaiki Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah (Dek Fadh), terbalik saat menyeberangi sungai ketika melakukan kunjungan kerja ke Kawasan Pameu, Kabupaten Aceh Tengah, Minggu (21/12/2025).

Kunjungan tersebut dalam rangka untuk memastikan penanganan dampak banjir dan longsor berjalan optimal, termasuk ke wilayah terisolasi, serta melihat langsung kondisi di lapangan dan memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi. Dalam perjalanan menuju lokasi, rombongan Wakil Gubernur Aceh bersama General Manager PLN harus menempuh jalur alternatif dengan menyeberangi sungai menggunakan rakit darurat, menyusul rusaknya akses jalan akibat banjir dan longsor.

Terkait pengalamannya itu, Fadhlullah menyebut selalu ada risiko di setiap perjalanan menuju kebaikan. Dirinya pun merasa tak masalah menghadapi insiden itu demi dapat mengunjungi daerah terisolasi. Sebab, menurutnya, masih banyak warga yang menunggu kehadiran dan perhatian pemerintah di wilayah-wilayah terpencil.

"Hari ini perjalanan kami menuju Pameu, Aceh Tengah, bukan perjalanan biasa. Jalur yang harus dilalui sangat ekstrem. Akses rusak, arus sungai deras, dan hanya rakit darurat yang bisa digunakan untuk menyeberang. Di tengah penyeberangan, rakit itu terbalik dan kami jatuh ke sungai. Air deras, dingin, dan penuh risiko."
"Namun di balik semua itu, yang terlintas hanya satu, masih ada masyarakat yang bertahan dalam keterisolasian dan menunggu untuk diperhatikan. Inilah yang membuat kami terus melangkah. Sesuai instruksi Presiden, para pemimpin daerah tidak boleh hanya menunggu laporan, tetapi harus turun langsung ke lokasi bencana, sampai ke wilayah paling ujung," demikian tulis Fadhlullah dalam media sosial Instagramnya, @fadhlullah59, Senin (22/12/2025).

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan