Wajib Lapor Menstruasi, Ibu PascaPersalinan di Tiongkok Protes Pelanggaran Privasi

Kebijakan Pemerintah Daerah yang Memicu Kontroversi

Beberapa kebijakan pemerintah daerah di Tiongkok kini sedang menjadi sorotan publik, terutama setelah aturan baru yang dikeluarkan oleh otoritas Xuanwei, Yunnan, memicu kemarahan dan kekhawatiran. Aturan ini mewajibkan ibu-ibu pasca-persalinan untuk melaporkan tanggal menstruasi terakhir mereka, yang menimbulkan reaksi negatif dari masyarakat.

Peraturan yang Menyebabkan Kekhawatiran

Pada tanggal 2 Desember, seorang ibu baru di Xuanwei, provinsi Yunnan, mengungkapkan bahwa pihak berwenang setempat meminta semua wanita pascapersalinan untuk melaporkan tanggal "periode menstruasi terakhir" mereka. Informasi tersebut harus dikirimkan dalam bentuk format tertentu, yaitu nama, tanggal menstruasi terakhir, dan nomor telepon.

Dalam pesan yang beredar luas, disebutkan bahwa para ibu diminta untuk melaporkan informasi tersebut di grup obrolan bernama "Grup Pembelajaran Kesehatan Anak". Pesan tersebut juga meminta jika sang ibu sedang berada di luar kota, maka lokasi terkininya harus disertakan.

Sampai saat ini, belum jelas berapa banyak ibu yang termasuk dalam kelompok tersebut. Namun, pengungkapan kekecewaan dari seorang ibu baru telah membuat heboh media sosial. Ia menyatakan bahwa ia awalnya mengira hanya perlu melakukan laporan sekali, tetapi ternyata laporan tersebut dilakukan secara berkala setiap bulan.

Unggahan asli tersebut akhirnya dihapus, tetapi isu ini masih menjadi topik pembicaraan hangat.

Penjelasan dari Pihak Berwenang

Staf dari Komisi Kesehatan Kota Xuanwei memberikan penjelasan terkait kebijakan ini. Mereka menyatakan bahwa tujuan pengumpulan informasi tersebut adalah untuk memantau dan mengelola kehamilan. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi individu yang hamil sejak dini agar layanan kesehatan masyarakat dasar gratis dapat diberikan.

Menurut anggota staf tersebut, tindakan ini dilakukan oleh dokter desa yang melakukan tindak lanjut satu lawan satu melalui panggilan telepon atau media sosial berdasarkan kebutuhan penduduk setempat. Meski demikian, mereka mengakui bahwa mengumpulkan informasi semacam itu dalam obrolan grup tidaklah tepat. Ke depannya, departemen kesehatan akan mengoptimalkan prosedur penyaringan untuk mencegah insiden serupa.

Konteks yang Lebih Luas

Tingkat kelahiran rendah di Tiongkok, yang berakar pada kebijakan satu anak yang telah berlangsung lama, semakin diperparah oleh perubahan sosial modern seperti meningkatnya biaya hidup. Pada tahun 2024, negara tersebut hanya mencatat 9,54 juta kelahiran, dengan populasi nasional menurun untuk tahun ketiga berturut-turut.

Untuk meningkatkan angka kesuburan, pemerintah Tiongkok telah memperkenalkan berbagai kebijakan yang mendorong pernikahan dan kelahiran anak, termasuk insentif keuangan dan upaya untuk mengurangi harga pengantin.

Reaksi Publik

Insiden ini memicu kemarahan di media sosial daratan Tiongkok. Beberapa netizen menyampaikan kekecewaan mereka dengan mengatakan:

  • “Apakah ini benar-benar tentang manajemen kesehatan ibu? Apa sebenarnya yang mereka kelola?”
  • “Apakah mereka sudah kehilangan akal sehat? Apakah mereka masih menganggap perempuan sebagai manusia?”
  • “Sejak kapan dokter desa mendapat begitu banyak kekuasaan? Apakah mereka tidak punya pekerjaan yang lebih baik? Tata kelola akar rumput yang kasar seperti ini hanya mengambil jalan termudah.”
  • “Apakah mereka akan melacak siklus menstruasi Anda hanya untuk menekan Anda agar memiliki bayi kedua? Dengan kecepatan seperti ini, pembuahan paksa tampaknya tidak akan lama lagi.”

Reaksi ini menunjukkan bahwa masyarakat mulai merasa tidak nyaman dengan kebijakan yang dianggap terlalu intervensif dan tidak menjaga privasi.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan