
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dirancang untuk mengatasi permasalahan kemiskinan yang terjadi di tengah masyarakat. Program ini tidak hanya berfokus pada pemberian makanan gratis kepada masyarakat, tetapi juga memiliki dampak ekonomi yang signifikan. Dalam pelaksanaannya, MBG mempekerjakan warga lokal sebagai relawan dapur, sementara secara tidak langsung, program ini juga menciptakan banyak lapangan kerja dalam proses penyediaan bahan-bahan baku untuk SPPG (Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi).
Jika program ini berjalan dengan baik, maka pengentasan kemiskinan di kota akan tercapai. Bukan hanya membuka lapangan pekerjaan, tetapi sebenarnya MBG adalah jalan tol pengentasan kemiskinan, ujar Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik Sudaryati Deyang, saat memberikan arahan dalam acara Sosialisasi dan Penguatan Tata Kelola Makan Bergizi Gratis Serta Pengawasan dan Pemantauan SPPG di Kota Probolinggo, Jawa Timur, Jumat, 12 Desember 2025.
Nanik menjelaskan bahwa setiap dapur MBG harus merekrut 47 warga yang tinggal di sekitar dapur tersebut sebagai relawan. Tugas mereka meliputi pencucian ompreng, penerimaan dan pencucian bahan makanan, penyiapan dan pemotongan bahan makanan, memasak, serta pembagian makanan dalam pemorsian. Selain itu, para relawan juga bertanggung jawab atas pengantaran MBG ke sekolah-sekolah yang menjadi penerima manfaat.
Meskipun jumlah penerima manfaat MBG berkurang, SPPG dilarang untuk memecat para relawan dapur. Hal ini dilakukan agar keberlanjutan program dapat terjaga, sekaligus memastikan bahwa warga sekitar tetap memiliki kesempatan kerja.
Secara tidak langsung, program MBG juga membuka banyak lapangan kerja bagi masyarakat. Sebab, setiap SPPG membutuhkan pasokan bahan baku makanan dalam jumlah yang cukup besar. Misalnya, untuk kebutuhan buah saja, satu SPPG membutuhkan 2 sampai 3 kwintal, begitu pula untuk kebutuhan tempe, tahu, telur, dan lain sebagainya.
Jadi, tidak perlu berebut dapur. Saat ini, yang paling menarik adalah menyiapkan bahan baku, tambah Nanik.
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik Sudaryati Deyang dalam pengarahannya di acara Sosialisasi dan Penguatan Tata Kelola Makan Bergizi Gratis Serta Pengawasan dan Pemantauan SPPG di Kota Probolinggo, Jawa Timur, Jumat, 13 Desember 2025.
Menurut Nanik, masalah kemiskinan di kota memang sangat kompleks. Karena minimnya lahan pertanian, satu-satunya jalan untuk mengentaskan kemiskinan adalah dengan memberdayakan masyarakat melalui pekerjaan. Dengan adanya program MBG, lapangan pekerjaan bisa terbuka, baik di dapur maupun dalam penyediaan bahan baku pangan.
Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam implementasi program MBG antara lain:
- Rekrutmen relawan: Setiap dapur MBG wajib merekrut 47 warga sekitar sebagai relawan.
- Tanggung jawab relawan: Mereka bertugas mulai dari penerimaan bahan makanan hingga distribusi ke sekolah.
- Lindungan pekerjaan: Meskipun jumlah penerima manfaat berkurang, relawan tidak boleh dipecat.
- Dampak ekonomi: Program MBG tidak hanya memberikan makanan, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dalam rantai pasokan bahan baku.
Dengan demikian, program MBG bukan hanya solusi untuk masalah gizi, tetapi juga menjadi alat pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar