
Peran UMKM dalam Perekonomian Nasional
Pengusaha kecil dan menengah (UMKM) telah menjadi tulang punggung perekonomian nasional selama bertahun-tahun. Mereka tidak hanya berkontribusi pada Produk Domestik Bruto (PDB), tetapi juga menyediakan lapangan kerja bagi sebagian besar tenaga kerja di Indonesia. Dengan kontribusi lebih dari 60% terhadap PDB dan penyerapan hingga 97% tenaga kerja, UMKM memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas ekonomi negara.
Namun, kini mereka menghadapi tantangan yang semakin ketat. Digitalisasi bukan lagi sekadar tren, tetapi sudah menjadi kebutuhan mendesak. Pelaku UMKM harus segera melek teknologi agar tidak tertinggal di tengah perubahan zaman yang pesat.
Peluang dan Transformasi Positif
Digitalisasi membuka peluang baru bagi UMKM untuk berkembang. Dengan bantuan media sosial dan aplikasi pesan antar, para pelaku usaha dapat memperluas pasar mereka secara signifikan. Contohnya, penjual makanan rumahan bisa menjangkau pembeli dari luar area rumah atau bahkan luar kota. Hal ini memungkinkan mereka untuk meningkatkan omzet dan memperluas jangkauan bisnis.
Data menunjukkan bahwa hingga Oktober 2025, lebih dari 26 juta pelaku UMKM telah masuk ke ekosistem digital. Ini menandai transformasi positif yang sedang terjadi di kalangan UMKM. Platform digital membantu mereka beradaptasi dengan lebih baik, meningkatkan efisiensi, dan menciptakan peluang pasar baru.
Tantangan dan Risiko Keamanan
Meskipun ada banyak peluang, digitalisasi juga membawa tantangan. Banyak pelaku UMKM masih kesulitan dalam menghadapi era nontunai. Misalnya, banyak pembeli mengeluh karena penjual belum menyediakan metode pembayaran digital seperti QRIS. Akibatnya, calon pembeli terpaksa membatalkan pembelian, terutama di sektor kuliner dan pasar tradisional.
Selain itu, ancaman kejahatan siber juga mulai marak. Kasus QRIS palsu sering terjadi, di mana pelaku menempelkan stiker QRIS palsu di atas barcode asli milik pedagang. Uang pembeli kemudian dialihkan ke rekening pelaku, menyebabkan kerugian finansial dan mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap transaksi digital.
Masalah lain adalah transaksi palsu, di mana pelaku menipu dengan menampilkan bukti pembayaran palsu. Banyak pedagang yang lengah karena hanya melihat bukti visual tanpa memverifikasi melalui notifikasi aplikasi pembayaran.
Akar Masalah Utama
Akar masalah utama dari fenomena ini adalah minimnya literasi digital. Banyak pelaku usaha tidak sepenuhnya memahami cara aman berbisnis, mengelola akun digital, dan memeriksa apakah sistem pembayaran mereka sudah benar. Hal ini membuat mereka rentan terhadap tindakan kejahatan siber.
Solusi Strategis
Untuk memastikan transformasi digital menjadi peluang dan bukan risiko, diperlukan strategi yang terencana dan kolaborasi dari berbagai pihak:
-
Pemahaman tentang perangkat dan keamanan digital
Pemerintah perlu mengajak masyarakat bergabung dalam program yang sudah ada. Program Bank Indonesia (BI) membantu masyarakat belajar menggunakan QRIS dengan aman dan mengajarkan penggunaan aplikasi pencatat keuangan sederhana seperti SI APIK. Di sisi lain, Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) harus menjangkau usaha kecil dengan pelatihan digital dasar, termasuk cara mengenali penipuan. -
Prasarana dan akses pembiayaan teknologi
Keterbatasan modal sering menjadi hambatan. Bank milik negara seperti BRI dan BNI perlu memberikan lebih banyak bantuan, tidak hanya berupa pinjaman, tetapi juga diskon atau kemitraan untuk membantu bisnis mendapatkan sistem Point of Sale (kasir digital) dan akses internet. -
Inovasi produk dan manajemen bisnis
Teknologi seharusnya digunakan untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas bisnis. Program “UMKM Naik Kelas” dari Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (KemenkopUKM) mendorong pemilik usaha untuk menggunakan aplikasi pencatat keuangan digital, sehingga dapat membuat laporan laba rugi yang akurat.
Kesimpulan
Perkembangan teknologi adalah hal yang pasti terjadi. UMKM yang cepat beradaptasi akan menjadi pemain kuat dalam ekonomi digital nasional, sementara mereka yang menolak berubah bisa tergilas oleh zaman.
Teknologi adalah pedang bermata dua. Ia bisa menjadi peluang besar bagi UMKM untuk naik kelas, tetapi juga bisa menjadi ancaman jika tidak diiringi dengan literasi dan kesiapan. Oleh karena itu, saatnya bagi para pelaku UMKM di Indonesia untuk tidak hanya mengikuti tren digitalisasi, tetapi juga cerdas dan tangguh dalam menghadapi era teknologi yang baru.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar