Wamen ESDM Percaya Target Lifting Minyak 2025 Terpenuhi Meski Ada Kebocoran Pipa

Target Lifting Minyak Tahun 2025 Masih Dapat Tercapai

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, menegaskan bahwa target lifting minyak sepanjang tahun 2025 dapat tercapai meskipun ada beberapa kendala seperti kerusakan pipa di Blok Cepu dan dampak banjir di wilayah Sumatera. Dalam APBN 2025, target lifting minyak ditetapkan sebesar 605 ribu barel per hari (barel oil per day/BOPD). Saat ini, Kementerian ESDM masih berkoordinasi dengan SKK Migas untuk memastikan capaian tersebut.

“Target kita untuk tahun 2025 itu 605 ribu barel per hari. Data akhir itu lagi dikonsolidasikan oleh SKK Migas, Insyaallah capaian 605 itu tercapai tahun ini,” ujar Yuliot saat ditemui di kantor Kementerian ESDM, Jumat (2/1).

Yuliot mengakui adanya beberapa kerusakan pipa yang menyebabkan penurunan lifting minyak pada akhir tahun. Pada beberapa bulan terakhir, lifting minyak sempat melampaui target, namun kemudian turun ke kisaran 604 ribu BOPD.

“Kita sudah konsolidasikan dengan perusahaan-perusahaan KKKS, bagaimana tingkat produksi masing-masing perusahaan kan mereka ada RKAP,” tambahnya.

Menurut Yuliot, ada kendala yang terjadi beberapa waktu lalu, termasuk kebocoran pipa di ExxonMobil di Cepu. Namun, kendala tersebut telah diperbaiki dalam dua hari, sehingga produksi kembali normal.

“Ya kemarin itu kan juga ada kendala, ada kebocoran di ExxonMobil di Cepu. Tapi dua hari itu sudah bisa diperbaiki. Jadi ini kembali ke produksi normal kembali,” pungkas Yuliot.

Sebelumnya, Kepala SKK Migas menyatakan bahwa lifting minyak nasional masih di bawah target APBN 2025 karena banjir dan longsor di Sumatera merusak infrastruktur pipa. Dia berharap dalam sepekan terakhir tahun 2025, lifting minyak nasional bisa mencapai 605 ribu BOPD.

“Per hari ini, kita baru mencapai 604.825 barel oil per day. Artinya, kurang 175 barel oil per day. Kami semua manajemen SKK Migas turun ke lapangan, mencari ruang-ruang bagaimana kita bisa mencapai target APBN,” ujar dia saat Peresmian CEOR Minas Area A di Blok Rokan, Selasa (23/12).

Djoko menjelaskan alasan mengapa lifting minyak turun kembali ke level 604 ribu BOPD, setelah melampaui 605 ribu BOPD pada bulan lalu, karena fenomena bencana alam di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

“Kita kemarin ada pipa bocor baik di Aceh maupun di Sumatera Utara, juga pipa pecah di Exxon, sehingga kita kekurangan banyak. Harusnya harian kita sudah 605 (ribu bopd), turun lagi. Iya, karena longsor jadi pipa pecah,” jelas Djoko.

Selain mencari celah-celah produksi dari sumur yang belum beroperasi, Djoko menyebutkan strategi lainnya adalah dengan memperbaiki pipa yang rusak karena bencana alam tersebut.

Meski begitu, Djoko mengakui medan yang berat dan menantang membuat proses perbaikan pipa distribusi belum bisa berjalan maksimal. Sehingga distribusi minyak mentah terpaksa harus dilakukan menggunakan truk.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan